cerpen remaja 44

Black Bright (Part 1)

Judul Cerpen Black Bright (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Petualangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Langit semakin cerah tapi, tak sesuai dengan apa yang dikatakan Deana, Seorang gadis SMA yang selalu bermain dengan kucing kesayangannya. Saat di jalan menuju pulang ia selalu berkata “Semua gelap dan tidak ada yang cerah. Semua hitam bermusuhan dengan putih. Huh aku tidak menyukai semua kecerahan, kontras, eksposur yang ada di dunia”
Sesampainya di rumah, ia membuka pintu tanpa mengucapkan salam. Karena di rumahnya sering tidak ada orang selain dirinya. Ia hanya masuk dan terus melamunkan akan keindahan dari kegelapan. Kucingnya langsung datang ke arahnya. Tapi, untuk kali ini Dea menepis pelukan Daisy, kucing kesayangannya itu. Lalu, dia duduk di sofa dan termenung dengan penampilan yang sangat acak acakkan.
“Meow.. Meow..” Suara Daisy sambil menarik narik baju Dea
“Daisy! Aku tidak suka cahaya aku benci cerah kenapa aku hanya menyukai hitam dan kegelapan?!” Guman Dea dengan raut wajah benar benar marah
Seketika, ponsel Dea berbunyi.
“Papa Called” tertera dalam layar ponselnya tersebut.
Dea hanya merenungi ponsel itu tanpa menyentuhnya. Ia menatap dengan sangat tajam. Namun, akhirnya ia tersadar dengan apa yang ia lakukan setelah beberapa detik ia langsung mengangkat ponselnya tersebut
“Halo, Papa?”
“Dea, Papa akan pergi ke luar kota sama mama untuk beberapa hari. Kamu baik baik ya disana. Ingat semua yang harus kamu lakukan dari pagi hingga malam hingga pagi lagi. Doa’kan kami semoga kami lancar di perjalanan ya Dea sayang”
“Kenapa secepat ini pa? Dea kan takut sendirian. Kenapa mama harus ikut? Kenapa pa?”
“Hanya untuk sementara nanti kami akan kembali lagi sayang”
“Baiklah pa, kalo begitu.”
“Jaga diri baik baik ya sayang kamu kan sudah besar ya daah”
Segera saja telepon itu ditutup oleh papa Dea. Dea semakin malas untuk bangkit dari Sofa, mengganti baju, dan melakukan hal lain.
Akhirnya ia merasa frustasi karena setelah dua jam ia hanya melamun. Tiba-tiba ada Ketukan pintu langsung saja ia tersadar dan membukanya. Saat membuka, ia sangat terhenyak kaget. Rasanya ingin menjerembabkan diri pada sumur setelah melihat Rei di depan pintunya.
“Eh Rei? Kenapa kesini Hehe maaf ya aku sedang capek jadi, aku belum merapikan diriku”
“Lah, kamu pikir aku peduli hal itu? Aku hanya diamanati untuk menjagamu beberapa hari. Jadi lakukan apa yang biasanya kamu lakukan ketika disini ada orangtuamu.”
“Kalau begitu sebaiknya menjauhlah! Kalau kau peduli hanya karena diamanati. Karena ini sama saja seperti seseorang yang dipekerjakan rodi. Sana!” Bentak Dea sambil menyingkirkan bahu Rei di hadapannya.
“Baiklah aku hanya akan memonitoringmu dari sini sambil menghafal jadi, kau juga jangan menggangguku!” Bentak Rei Sambil membawa semua peralatannya pada sofa.
Kemudian Daisy sepertinya ingin mencakar wajah Rei. Namun, Dea mencegahnya dan membawa Daisy ke kamarnya.
Rei adalah teman kecil Dea yang semasa kecil mereka selalu bersama. Namun, Kedua orangtua Rei Sudah tiada. Tinggalah orangtua Dea yang berbaik hati mau mengurusnya. Mereka Bersahabat sangat baik sampai suatu hari Dea pernah merasakan bahwa Rei tidak pantas untuk menjadi sahabatnya. Ia selalu mencela Rei ketika di sekolah. Namun, ketika berada di sekitar lingkungannya dia baik sekali pada Rei. Namun, Rei tidak pernah menggubris apa yang dilakukan Dea padanya ia hanya membalas dengan sikap yang sangat dingin pada Dea. Kecerdasan Emosional Rei sangat baik namun tidak pada intelektual sedangkan Kecerdasan Intelektual Dea sangat baik namun tidak pada emosionalnya. Jadi sebenarnya mereka saling membutuhkan.
Dea menjatuhkan buku diarynya secara tidak sengaja, karena buku diarynya itu tebal ketika terjatuh dari rak buku pasti suaranya sangat kencang. Rei sangat khawatir dan dia segera saja berlari ke kamar Dea. Dea yang mengetahui suara langkah Rei langsung saja berakting pingsan. Daisy hanya bersuara meow dengan volume yang kecil.
“Dea…? Tolong jawablah aku ini pasti hanya sementara kan? Kamu tidak apa apa? Haduh aku tidak ingin orangtuamu cemas. Tapi aku tidak tahu oh iya aku telepon saja rumah sakit.”
Kemudian sambil memegang kepala Dea, tangan kirinya mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Segera saja ia menulis nomor darurat itu namun ketika dia akan menekan tombol call, segera saja Dea Menjatuhkan HP Rei, Dea langsung menjauh dari Rei. Rei yang sebenarnya kesal saat menyadari HPnya jatuh dan Dea hanya berpura-pura, ia segera ke luar kamar tanpa menatap Dea lagi.
“Dia pikir dia itu putri kerajaan yang kemana mana harus dikawal lalu, ketika bersalah aku harus merubah kenyataan dia bahwa dia benar itu. Bahkan putri sekalipun ketika melakukan kesalahan harus dihukum” Pikir Rei sambil mengepal tangannya dan menatap tajam ruangan itu.
“Haduh, Apa yang aku lakukan? Aku kan tidak pintar berakting. Dan bodohnya untuk apa juga aku melakukan hal tidak berguna itu. Pasti Rei akan berpikir macam macam padaku. Dia akan menceritakan pada papa dan mama? Lalu, mereka marah dan mereka akan lebih menyayangi Rei daripada aku?” Guman Dea dengan keringat dingin dan perasaan cemas.
Rei yang sedang berada dalam ruang tamu itu mengacuhkan lagi tentang Dea. Berbeda dengan Dea yang di kamarnya sangat cemas dengan banyak pikiran negatifnya. Karena merasa lusuh Dea mengganti pakainnya dengan kaos hitam berlengan panjang dan celana denim. Kemudian, karena ia merasa terganggu dengan pikiran itu dia membawa handphone, dan alat alat seperti tali, karung, dan barang barang lain tak lupa dia membawa perlengkapan untuk daisy dan dirinya. Setelah itu, dia menyimpan tas itu di luar jendelanya. Daisy pun menurut untuk diam di luar dan menjaga tas itu.
Rei yang sedang membaca buku dan mendengarkan headphone tak tahu jika Dea ke luar melewati belakang dirinya yang dimana posisi Rei membelakangi pintu. Namun, Rei tak dapat dibodohi begitu saja di depannya terdapat lemari kaca besar tempat menyimpan pernak pernik dan kebetulan Rei melihat ke arah kaca lemari dan dia berkata “Mau kemana pembohong?” Dea yang kaget campur kesal menampar Rei dari belakang “Apa maksudmu pembohong? Aku tidak bohong aku hanya berpura pura tadi itu. Kamu mau membuatku rendah di hadapan orang orang karena hal itu? Sudahlah abaikan aku. Aku bukan anak yang paling disayangi. Jadilah anak yang baik agar disayangi kedua orangtuaku.” Dan Dea pun berlari ke luar dan segera mengambil tasnya dan berlari jauh dan daisy pun ikut berlari.
Rei yang kaget dengan apa yang dikatakan Dea, masih termenung dan memegang pipinya yang ditampar tadi. Hari itu masih normal saja cuacanya. Rei masih diam di tempat itu karena kaget entah apa yang dipikirkannya hingga hampir setengah menit dia berusaha mengejar Dea karena baru tersadar. Lupa menutup pintu ia kembali lagi menutup pintu dan berlari kembali walaupun sebenarnya dia sudah kehilangan jejak Dea. Dea terus berlari dengan Daisy. Kemudian ada sebuah Bus dia segera menaiki bus tersebut tanpa melihat jurusannya. Setelah naik, dia melihat sekitarnya awalnya ia biasa saja dengan keadaan bus yang tak terlalu bersih seperti Bus biasanya. Namun, Dea merasa lelah dan dia tertidur. Berbeda dengan Daisy yang berada dalam pangkuannya melihat keadaan sekitar. Daisy pun menarik narik rambut Dea yang sudah diikat satu itu dan terbangun kemudian arah pandangannya pun tertuju ke depan. Dan ternyata saat ia sadar ada tulisan Bandung – Sumatera. Dea pun kaget namun, tak bisa mengelak ternyata saat terbangun busnya sudah berada dalam kapal. Ia tertidur cukup lama. Dan Rei Pun ternyata sudah berhasil menaiki bus itu namun ia berada pada kursi paling depan. Saat dea tertidur Rei ternyata tak menyadari keberadaan Dea di bus itu. Saat di tengah jalan Dea hanya berharap ia bisa pulang namun sinyal HPnya pun semakin hilang begitu juga Rei. Namun, Dea merasa resah tapi terjaga.
Ia berlari menuju supir dan saat menuju supir Rei terbangun dan membuka matanya kemudian ia langsung menarik Dea. Dea yang kaget dan seisi bus itu menyangka Rei adalah copet ia langsung digebuki dan Supir yang berada di depannya pun kaget dan langsung menarik Dea. Dea tak terpikirkan kalau itu Rei jadi dia masih merasa pusing akibat kaget saat bangun tidur. Kemudian, tanpa pikir panjang lagi. Dea langsung menanyakan dimana keberadaannya dan bagaimana bisa tidak ada yang menagihnya untuk membayar bus ini.
“Eh, neng ini sudah berada di selat yang menuju Sumatera. Dan soal pembayaran biasanya kami tagih di akhir perjalanan memangnya neng mau membayarnya sekarang?” Tanya Pak Supir.
“Tapi pak, saya ini tidak ada tujuan untuk datang kesini dan tolong saya pak saya mau pulang lagi ke tempat tinggal saya”
“Aduh neng ini bagaimana bapak tidak bisa bantu soalnya ini sebentar lagi sampai”
Di sisi lain, Rei yang masih disangka Penjahat itu langsung didatangi Deana dan Deana membelanya, Mungkin Rei sedikit bahagia namun Deana sungguh sangat kesal karena Rei membuntutinya. Dengan rasa kesal pada Rei deana tetap bersikeras menjelaskan bahwa rei bukan penjahat dan akhirnya para penumpang kembali duduk dan berguman kesal pada Rei.
“Dea makasih ya” Dengan wajah tersenyum pada Dea
“Diamlah kamu tak memiliki attitude yang benar pada wanita!”
“Maksudmu apa? Aku menjagamu agar kau tak hilang begitu saja orangtuamu mengkhawatirkanmu, mungkin saja kamu tak suka jika dijaga tapi sekarang itu adalah tanggung jawabku”
“Hentikan! Sekarang aku ingin pulang Cepatlah jika kau memiliki tanggung jawab menjagaku sekarang, Aku ingin pulang dan jaga aku!” Jawab Dea dengan nada penuh kesal
Rei kemudian menarik Dea dan duduk di sebelahnya. Dea menatap Rei namun, Daisy segera mencairkan suasana tiba tiba dia bersuara “Meong.. Meong..” sambil meraih bahu Dea.
“Tunggulah koneksi disini buruk jadi aku butuh tempat yang menjangkau jaringan lebih baik tak apalah uangku kuhabiskan untuk membawamu pulang. Tapi ini semua juga terjadi karena kamu!”
“Oh”
Setelah sampai di terminal Rei kemudian membayar ongkosnya itu dan segera menemui Dea yang langsung duduk di warung nasi dekat terminal. Kemudian Dea menatap Rei tajam dan telunjuknya mengarahkan pada makanan.
“Tak perlu memberi peringatan aneh aku juga lapar, kau punya uang tidak?”
Dea membuka tasnya dan mengambil dompetnya kemudian dia menunjukkan ATM pada Rei. Rei pun paham maksud dari Deana dan segera mengantarnya ke ATM terdekat karena dari kejauhan ATM tersebut sudah terpampang jelas kemudian mereka berlari ke arah sana. Namun Tiba tiba Daisy…
Bersambung…
Cerpen Karangan: Fitri Nurul Falah
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100008233307491
Hai Semuanya perkenalkan mana saya Fitri Nurul Falah, Kelahiran 15 Desember 2000 dan saya sekarang masih bersekolah di SMK yang berada di Bandung. Terimakasih untuk membaca cerpen dari saya semoga kalian semua menyukainya. Untuk kontak lebih lanjut silahkan add fb saya dan mari kita berbicara.Terimakasih sekali lagi dan selamat membaca :)

cerpen remaja 43

Gila (Part 1)

Judul Cerpen Gila (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Ray menatap sendu ke suatu arah. Melihat sesuatu yang sulit diterima oleh matanya. Dimana keberadaannya itu ada seorang gadis dan pria sedang bersendau gurau. Gadis itu sesekali mengangguk-nganggukan kepala saat si pria berbicara padanya. Dan sesaat gadis itu tertawa lepas. Ray menggeram. Kedua tangannya mengepal sangat kuat, sampai terlihat memutih.
BRAKKK
Ray menggebrak meja. Menghentikan sekejap aktivitas di kantin. Mengundang banyak mata untuk melihatnya. Meskipun itu membuat jantung orang berolahraga, tak ada satu orang pun yang berani membentaknya. Malah banyak murid cewek memuji ketampanannya saat Ray berubah menjadi seorang pria brutal sekalipun.
“Duh, ni bocah makin hari makin cakep. Dikasih makan apa sih sama mamanya?”
“Aww, rambutnya itu loh. Kece badai.”
“Fix. Gue nggak akan bisa move on dari pria sadar pesona ini.”
“Uluu uluuuu, gemesin bet.”
Itulah salah empat dari mereka yang berhasil ditangkap oleh telinga Ray. Dan apa balasannya? Dia hanya melirik sekilas ke arah siswi yang mulai bergerombol di sebelah kirinya. Walaupun itu hanya lirikan mata, namun berhasil membuat siswi berlonjak-lonjak ria di tempat.
Tiba-tiba datang tiga cowok berpenampilan luar biasa berandal berjalan dengan gaya artis menuju bangku yang diduduki Ray. Ya, mereka adalah komplotan si Ray. Geng empat serangkai yang dibangun sejak Ray mulai belajar di sekolah ini. Tidak disangka banyak murid lain yang takut dengan Ray, karena posisinya masih duduk di kelas 10 sedangkan tiga cowok tadi sebagai kakak kelas, 12. Bisa dibayangkan kan bila ada salah satu murid yang berani mengusik kehidupan Ray? Apalagi mereka pandai bergulat. Kelar hidupnya.
“Wuihh. Jangan gebrak-gebrak meja. Kasihan. Untung nggak patah. Hmm…” Kata Efendi menggakntung, “Kaya hati lo. ya.. ”
Terdengar kekehan menyambut ejekkan Efendi.
Ray menggeram, “Bisa diem nggak lo.”
“Eits.. Baper.” Usil Rian.
Saat Ray hampir menonjok muka Rian, Dion menahan tangannya, “Udahlah, Ray. nggak usah terlalu dipikirin. Cewek banyak. Bukan dia doang. Move on, bro.” Ucapnya menenangkan Ray.
“Ayo c’mon mari c’mon buat apa kita ngedown… Move on. Move on. Move on. Yeah..”
Suara menggelegar acak-acakkan tidak sesuai intonasi itu, berhasil membuat telinga siswi yang berdiri di samping bangku Ray sakit. Alhasil, mereka bubar satu per satu menuju tempat duduk masing-masing seperti semula. Sambil bergumam tak jelas. Ya, suara toa itu berasal dari mulut Efendi dan Rian.
“Lo pikir move on gampang apa. Gini-gini gue tipikal cowok setia.” Ucap Ray memuji dirinya sendiri.
“Setia tapi makan hati ya percuma.” Skak Efendi.
Rian terkekeh pelan seraya menoel hidung super mancungnya dengan ibu jari, “Kayak gue dong. Putus 1, dateng 1000.”
“Seumur-umur gue belum pernah ngerasain gimana rasanya sakit hati.” Ucap Efendi jujur.
“Ya iyalah. Pacaran aja belum pernah.” Sahut Rian.
Mereka tertawa keras begitupun Dion, kecuali Ray. Rasa sakit yang d alaminya begitu dalam, sampai-sampai lawakan sahabatnya tak mampu menghiburnya. Melihat Ray dengan wajah murung, Dion mendekati lalu duduk di sampingnya.
“nggak usah masang muka bete” Dion menyidir, “Kesannya terlalu alay bagi seorang cowok patah hati.”
“Kayak kita dong. Always happy.” Ucap Rian dan Efendi sambil melakukan khas ala CherryBelle.
Dion bergidik ngeri, “Jangan sok manis lo-lo pada. Jijik!”
“Elah, kita kan pingin menghibur Ray.”
“Ray, nggak usah sok dramatis deh. Lupain aja.” kata Efendi yang tidak suka melihat Ray dengan wajah kehilangan senyum.
“Kalian nggak ngerti apa yang gue rasain.” Jawab Ray dengan sedikit meninggikan suara.
Murid-murid yang berlalu lalang di kantin sontak melihat di sumber suara keras tersebut.
“Gue sayang sama dia. Gue cinta sama dia. Apapun udah gue lakuin supaya dia bahagia. Tapi apa balasannya? Dia pergi ninggalin gitu aja, tanpa mikir perasaan gue.” Lanjutnya.
Ray menundukkan kepala. Empat jarinya menyusup di sela rambut. Nafasnya masih terengah-engah. Dion, Rian dan Efendi terkejut melihat kelakuan Ray. Sejak berteman dengan Ray, mereka tidak pernah menemukan Ray dengan keadaan seperti ini. Akhirnya Rian dan Efendi mendekatinya dengan posisi duduk di meja. Tipikal anak yang suka melanggar peraturan.
“Ray, kita hidup di dunia ini seperti robot yang sedang dikendalikan. Allah sutradanya, kita pemerannya. Lo pacaran sama Maya pasti ada alurnya, kan? Itu Allah yang ngatur. Dari pertama ketemu, mulai ada rasa, PDKT, gombal-gombalan, akhirnya nemplok jadi pacar. Pas lagi sayang-sayangnya, tiba-tiba muncul sebuah konflik. Alhasil, membuat hubungan kalian merenggang. Merasa tidak kuat menghadapi, akhirnya memilih untuk memutuskan hubungan.” Jelas Dion seraya menggerak-gerakan tangan mengikuti alur pembicaraannya.
“Ray, Tuhan sengaja membiarkan dia pergi karena dia bukan yang terbaik.” Rian menghela nafas, “Demi menyelamatkan dari orang yang salah, Tuhan matahin hati lo.”
“Dari yang nggak kenal menjadi sayang. Dari yang sayang menjadi cinta. Dari yang cinta menjadi benci. Dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Kita berani mengenal cinta, berani patah hati juga.” Sahut Efendi.
Rian melirik Efendi, “Gara-gara itu lo nggak mau pacaran. Takut patah hati?” Sindirnya.
Efendi mengangguk mantap, lalu nyengir tidak jelas.
Seluruh murid yang berada di kantin menyaksikan bijaknnya tiga cowok tersebut, bertepuk tangan meriah. Layaknya sedang diundang di acara Show Mario Teguh. Dan seperti biasa tidak mempunyai rasa malu, Rian dan Efendi berdiri di atas meja membungkukkan badannya lalu mengucapkan terima kasih. Sambil melambai-lambaikan tangannya. Merasa puas dengan aksi konyolnya, mereka duduk kembali di atas meja.
Ray menggelengkan kepala pelan, “Lo bertiga abis makan apa tadi? Bijak banget. Ngalah-ngalahin Pak. Ambar kalo lagi pidato.”
Rian menepuk kedua tangan sekali, lalu mengangkat jari telunjuk kearah Ray, “Yahh… udah ngelawak dia.”
“Nah, senyum dong Ray. Kan gue tambah cinta.” Ucap Efendi seraya mengedipkan matanya.
“Apa lo bilang lo cinta sama gue?!” Ray mendelik, “Okay, kita pacaran.”
“Amit-amit jabang bayi! Ogah” Efendi mengusap-usap perutnya dengan tangan kananya. Sontak membuat tawa mereka pecah seketika.
“Enak ya ngomong sama lo. Nurut.” Kata Dion saat tawa mulai mereda.
“Emang gue orangnya penurut.” Jawab Ray.
Dion, Efendi dan Rian mengerutkan kening bersama, dengan tatapan tidak percaya terhadap perkataan Ray.
“Hai kak Ray,” Sapa salah satu seorang siswi yang sama sekali tidak dikenali Ray.
Ray dengan baik hati menjawab sapaan tersebut dengan sebuah senyuman. Alangkah anehnya cewek tersebut malah lari terbirit-birit dengan sengaja atau tidak, dia terpeleset lalu jatuh pingsan. Ray dan ketiga teman yang melihatnya sekedar mengangkat bahu.
“Haii..” Sontak empat cowok tersebut melirik ke arah sumber suara.
Terdapat seorang gadis cantik dengan body aduhai sedang menatap Ray.
“Hai juga sayang,” Sapa Rian tanpa meminta ijin.
“Ih!” Ucap gadis tersebut lalu melangkah pergi.
Efendi menonyor lengan Rian, “Sadar, Yan. Lo masih punya Nita.”
Rian terkekeh, “Santai. Gue yang jadi pacarnya aja selow, kenapa kalian yang faster.”
“Bukannya gi…tu, Mampus!”
Cerpen Karangan: Assifa Rohmalya
Blog: https://selow-aja-guys.blogspot.com
Mampir di blog aku yak
https://selow-aja-guys.blogspot.com

cerpen remaja 42

Gila (Part 2)

Judul Cerpen Gila (Part 2)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Rian yang bingung akan tingkah Dion akhirnya bertanya, “Kenapa sih? Lo lupa ngerjain PR? Semalem lo nggak belajar karena hari ini ada ulangan? Atau.. kaki lo gue injek? Tapi mana mungkin, gue duduk di meja sementara lo duduk di kursi.”
Ray dan Efendi yang mengetahui kenapa Dion menjadi salah tingkah, membulatkan mata. Sampai mata mereka hampir copot dari tempatnya. Begitupula dengan murid yang ada di kantin.
“Anu, itu… ishh apaan sih itu lohh…” Ucap Dion latah yang masih berusaha menutupi wajah dengan telapak tangannya.
Rian mengaduh, “Anu itu apa? ngomong yang jelas. Jangan bisu mendadak.” Rian mengedarkan mata ke penjuru kantin, “Kalian juga kenapa diem? Dihipnotis, ya?”
Suasana hening, mencekam. Keadaan horror menyelimuti keadaan kantin pagi ini. Ray dan Efendi hanya bisa menundukkan kepala dan diam.
“Ini juga berdua. Ngapain ngelihatin bawah sih. Emang ada apaan di bawah? Semut ngangkat strawberry? Aneh deh kalian.” Ucap Dion dengan sorot mata pada Ray dan Efendi. Percuma, mereka tidak angkat suara sedikitpun. Berdehem pun tidak.
“Itu lo, Yan.” Ucap Dion berusaha, sambil mengangkat dagu menunjuk ke belakang Rian, “Ada semangka besar. Aduhh…”
Semangka besar?
“Ada durian runtuh. Lahhh…”
Durian runtuh?
“Ngomong yang bener!” Tegas Rian pada Dion.
“Dasar nggak peka!” batin Dion.
“Akan terjadi gempa bumi.”
Nah, gempa bumi?
“Maksudnya?” Tanya Rian kebingungan.
“Akan ada gempa bumi. Karena di belakang lo ada Nita.” Utas Ray. Akhirnya.
Mendengar kata Nita, Rian menegang. Alhasil, sekujur tubuhnya gemetaran. Sebutir air menetes di ujung pelipisnya. Keringat menggodanya. Mau tak mau, Rian memutar tubuhnya ke belakang. Tampaklah Nita dengan wajah penuh amarah. Dengan nyali Rian menyapanya.
“Eh, sayang. Ngapain? Mau pesen Bakso, yak? Sini biar aku yang pesenin.” Tawar Rian. Alih-alih dia bisa kabur.
“Ya! Sama bininya baru kicep.” Ucap salah satu murid yang berada di kantin.
Rian menoleh dan mencari asal muasal sumber suara. Itu dia. Cowok tulen dengan rambut acak-acakkan. Randy. Musuh bebuyutan Rian. Rian menatap tajam mata Randy. Seakan mata itu bicara ‘Awas aja lo. Gue pites!’
“Kita putus!” Ucap Nita.
Rian kembali menoleh pada Nita.
“Loh, Nit. Aku nggak mau kita putus. Kita kan belum punya momongan. Masak kamu tega ninggalin ak-”
Nita pergi sebelum Rian mengakhiri ucapannya. “Nita. Nit! Dengerin aku dulu. Nit.. Woyy..”
Hasilnya? Percuma. Mau manggil sampai kapanpun nggak akan peduli. Karena hatinya terlanjur sakit.
“Aarrgghhh…” Geram Rian, “Kalian juga ngapain nggak bilang kalo ada Nita disini?” Tanyanya pada ketiga temannya.
“Gue udah berusaha. Lo aja yang nggak peka.” jawab Dion.
Efendi menyahut, “Sabar, Yan.”
“Bukan itu masalahnya. Susah nyari cewek kayak Nita, yang semlohai kayak gitu.” Kesal Rian seraya mengusap wajah dengan kasar.
Perkataan Rian mengundang gelak tawa dari murid-murid yang menyaksikan adegan dramatis tadi. Begitu pula dengan ketiga temannya. Mendengar tawa semakin pecah, Rian menggeram. Emosinya berkumpul menjadi satu di ujung kepala. Terlihat dua ujung tanduk yang keluar dari kepalanya. Semacam badak bercula yang siap menerkam mangsanya.
“Bisa diem nggak kalian?! Mau gue putus tuh kepala? Ha?!” Bentak Rian.
Bukannya diem, para penjajah makanan pada lari limbung-limbung ke luar kantin. Kecuali kaum Adam. Alhasil, keadaan kantin kacau. Banyak piring dan gelas jatuh dari meja. Kursi yang berserakkan. Seperti habis tergucang gempa bumi. Walaupun dilanda kegaduhan, kaum Adam tadi dengan tenang duduk sambil menyantap makanan yang dipesannya.
Merasa dirinya ada yang mengintai, Rian membolak-balikan badannya dari tempat duduk. Dan berhasil menemukan. Seorang cowok berdiri menatap tajam Rian sambil menggigit kuku ibu jarinya. Segera Rian menghampirinya. Belum sampai berdiri dari tempat duduknya, cowok itu lari terbirit-birit.
“Cyinnnn, tungguin gue doongggsss. Atuuttt!” Jerit cowok tadi.
“Lah, Banci?” Batin Rian.
Rian menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, “Disuruh diem ngapain lari.” Rian mengedarkan pandangan matanya ke penjuru kantin. “Memang bener ya cowok mikir pake logika, kalo pake otak lama nyantol.”
Ray, Dion dan Efendi hanya bisa memandang Rian dengan gerak-gerik bola matanya. Bisa gila lama-lama berteman dengan Rian.
“Parah! Otak lo kayaknya gesrek habis diputusin Nita tadi.” Ucap Ray memecahkan keheningan. “Pake segala ngancem mutusin kepala. Lihat noh, kantin malah jadi tempat pengungsian. Berantakan!”
“Eh, Ibu kantin melototin kita! Ganti pelototin yuk?” Belum sempat Efendi melototin ibu kantin, Dion menonyor lengannya dengan keras. “Apaan si pegang-pegang?”
Ray menghela napas kasar, “Pokoknya kalo kuping Bu Mega denger berita ini, gue nggak ikut-ikut. Bosen dihukum.”
Pasti tahu kan Bu Mega itu siapa sebenernya? Yang suka ngasih hukuman kalo ada siswa melanggar aturan? Yang nulis nama kita di buku pelanggaran plus point? Tahu, kan?
“Gue juga.” Sahut Dion dan Efendi bebarengan.
“Lo harus tanggung jawab atas kerusuhan meja dan kursi yang jatuh tak berdaya itu. Beresin!” Lanjut Ray.
“Ray, Dion, Efendi, Rian!! Apa yang sudah kalian lakukan?!!” Bentak seseorang yang berdiri di ambang pintu kantin.
Mendengar namanya berada di sebuah kalimat, mereka menoleh ke sumber suara. Seketika tubuh mereka menegang. Dengan cepat mereka mengalihkan pandangan dan segera berkumpul menjadi satu. Ray, Dion, Efendi dan Rian melihat mata satu sama lain secara bergantian.
“BU MEGA!!!” Ucap empat serangkai tersebut.
Ya, Bu Mega. Nama yang misterius. Nama yang tersimpan rapi di dalam folder otak mereka. Nama yang selalu memanggil mereka jika melanggar sebuah aturan.
“Mampus! Sumpah gue risih dengan hukumannya.”
“Berabe! Point gue udah banyak, masak masih mau ditambah lagi.”
“Diem, kalo mau lari dari hukumannya kita kabur aja. Daripada kicep disini, kayak orang bego.” Ray mulai menimang-nimang katanya, “Rencana A, Okay?”
Dion, Rian dan Efendi menganggukkan kepala tanda mengerti.
Akhirnya, Ray lepas dari gerombolan dan melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit menuju Bu Mega. “Kok Bu Mega hafal sih nama kita? Saking terkenalnya kita mungkin.”
Dion, Efendi dan Rian menyengir tidak jelas melihat Ray dengan aktingnya yang mulai mengelabuhi Bu Mega.
“Terkenal gimana? Kalau saking nakalnya sih iya. Udah kamu nggak usah basa-basi.” Bu Mega menengok kearah belakang Ray, “Kalian, ikut saya ke ruang BK. Sekarang! tidak ada penolakkan!” Tegas Bu Mega.
Tak lama Ray bersuara, “Delapan-Enam!!!” Jeritnya.
Mereka berlari sekencang-kencangnya menuju pagar belakang sekolah. Sekalian colut. Supaya tidak terkena hukuman. Karena mereka terlalu lelah menghadapi segala hukuman, walaupun itu akibat ulah mereka sendiri. Suara melengking milik Bu Mega lolos terabaikan oleh mereka. Sekali bandel, tetap bandel.
“Yuuhhuuu, Berhasil. Berhasil. Berhasil. Horee!!!”
Cerpen Karangan: Assifa Rohmalya
Blog: https://selow-aja-guys.blogspot.com
I LOVE YOU, GUYS!!!
Cerita Gila (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 41

Cinta The Geniuses

Judul Cerpen Cinta The Geniuses
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Masa-masa Smp adalah awal mula aku berkembang menjadi dewasa. Di smp banyak hal yang kudapatkan. Salah satunya adalah “Cinta”. Jujur aku tidak tahu apa itu cinta? dan kapan cinta itu hadir? tapi yang aku tahu cinta tidak bisa dirasakan oleh indra peraba, tetapi hanya bisa dirasakan oleh hati. Sungguh indahnya hidup ini karena pernah merasakan cinta.
Perkenalkan namaku Marwan Santosa pernah bersekolah di smpn 1 karanganyar. Di smp aku murid yang disukai banyak siswa, karena aku pintar, baik dan multitalenta. Ketika suatu hari aku berniat untuk beristirahat, ada seorang cewek yang melewatiku. Dia cantik, baik dan terlebih dia pintar kata temen-temenku. Aku duduk dan membeli bakso seperti biasa di langgananku, dan cewek yang lewat tadi ternyata ada di sampingaku. Akhirnya aku berkenalan dengannya.
“Hai” kataku
“Juga” dia menjawab
“Boleh kenalan?”
“Kenapa gak?”
“Nama kamu siapa?”
“Nama aku Endang Ayu Sulistiawati” tuturnya
“Namaku Marwan Santosa”
“Iyah tau!”
“Kamu kelas mana endang?”
“Kelas 7d”
“Oh 7d”
“Iyah”
“Ya udah duluan ya dang!”
“Iya, marwan”
Bel berbunyi tanda jam istirahat telah selesai, aku segera masuk kelas. Kring kring kring bel kembali berbunyi tanda semua pelajaran telah selesai. Aku langsung beranjak dari kursiku dan pergi meninggalkan kelas. Perlahan ku berjalan meninggalkan sekolah, saat di jalan ku melihatnya kembali, dia langsung mengajakku ngobrol.
“Hai, marwan” sapa endang
“Hai endang, apa kabar?”
“Baik, baru pulang?” Tanya endang
“Iya endang.”
“Oh..”
“Ya udah dang aku duluan ya.. ada angakot udah nungguin gak enak.”
“Iya, see you Marwan”
“See you Endang”
Keesokan harinya aku kembali datang ke sekolah, kali ini aku datang lumayan pagi karena piket. Aku menyapu lantai dan membersihan kaca. Ketika ku membersihkan kaca, ku melihat kembali endang ayu sulistiawati yang sedang duduk di depan kelasku. Aku menghampirinya
“Hai, lagi ngapain?” Tanyaku
“Lagi duduk duduk aja”
“Oh. ”
“Kok kamu datangnya pagi banget?” dia bertanya
“Ini lagi piket”
“Hmmm”
“Ya udah aku piket dulu ya!”
“Ya udah sana!”
Aku pun ke kelas dan belajar bersama guru dan teman teman. Seru sekali pelajaran kali ini, apalagi pelajaranya adalah pelajaran yang ku sukai yaitu pelajaran “IPA”. Suasana hikuk pikuk pun terjadi, karena yang mengajar adalah guru yang lucu dan menghibur. Dua jam kemudian pelajaran selesai, aku bersama teman-teman langsung pergi ke kantin untuk beristirahat. Di perjalanan menuju kantin, aku kembali bertemu dengan endang. Aku mengajaknya ke kantin bersama-sama.
“Hmm ketemu lagi” kataku
“Iya” saut endang
“Gimana tadi di kelas” tanyaku
“Ya.. gitu deh”
“Oh.. mau makan apa?”
“Gak ah lagi males makan!”
“Terus mau apa dong?” Tanyaku
“Gorengan aja”.
“Ok”
Tidak lama kemudian bel berbunyi, aku mengajaknya masuk ke kelas.
“Ke kelas yu!” Ajakku
“Yuk”
Kami pun ke kelas bersama-sama, lama kelamaan aku bersama endang mulai akrab. Kami sering bercanda dan bersenda gurau.
“Kok masih di luar? Belum masuk kelas mar?”
“Belum..”
“Kenapa?”
“Masih ingin sama kamu endang”
“Hmmm, jadi baper”
“I am just kidding”
“Ya udah aku masuk kelas dulu ya mar!”
“Ok”
Isak tawa mewarnai kehidupanku bersamanya. Hampir setiap saat aku bertemu dengannya, sepertinya aku menyimpan rasa kepadanya dan dia juga menyimpan rasa kepadaku. Aku berniat untuk menembaknya, tetapi aku tidak pernah lakukan itu. Karena sahabatku bernama “Aceng” juga menyukainya. Dia selalu bilang kalau dia suka sama endang, dia juga berniat sebentar lagi dia akan menembak endang.
“Mar..”
“Iya ceng, kenapa?”
“Menurut kamu aku pantes gak sama si endang” tanya aceng
“Pantes kok”
“Bagaimana kalo besok aku nembak si endang gimana mar?” Dia bertanya
“Ya udah tembak aja.”
“Ok”
Bel sekolah berbunyi, istirahat telah selesai, aku dan sahabatku aceng ke kelas dan belajar. Kemudian bel kembali berbunyi pelajaran telah diakhiri, di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ucapan aceng. Dari belakang ada orang yang menutup mataku
“Siapa sih ini?” Tanyaku
“Siapa ya…”
“Ih perih tau..” Kataku
“Iya maaf-maaf” ternyata endang
“Iya gak papa.”
“Kenapa sih kamu jalanya kayak gitu? lagi mikirin apa? Mikirin aku ya…?” Tanya endang
“Hmmmm. endang kalo ada yang suka sama kamu bagaimana?” Tanyaku
“Ya, gak gimana-gimana. kenapa sih kamu tanya gitu?” Dia kembali bertanya
“Sebenarnya si aceng suka sama kamu dan dia mau nembak kamu besok.” Ucapku
“Ah masa? jangan bercanda ah!”
“Iya, endang aku serius.”
“Gimana dong?” Tanya endang
“Ya udah kamu jalani aja. aku gak papa kok, lagian dia sahabat aku.”
“Gimana ya.. segimana nanti ajalah.” Tutur endang.
“Ya udah aku duluan ya dang.”
“Iya marwan, see you”
“See you endang”
Keesokan harinya aku diajak si aceng ke sebuah tempat
“Mar antar aku yuk!” Ajaknya
“Mau kemana?” Tanyaku
“Ke belakang kelas.”
“Ih mau ngapain coba?” Aku bertanya lagi
“Aku mau nembak si endang, kamu tunggu di sini ok mar.”
“Ok deh”
Si aceng mencari dan mencari endang, akhirnya ketemu juga. Aceng langsung membawa endang ke belakang kelas.
“Endang.” Kata aceng
“Iya ceng!”
“Aku suka sama kamu”
Endang terdiam dan bingung
“Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya aceng.
“Endang menganggukan kepala”
“yes..” Tangan aceng mengepal dan mengayunkan ke atas “Makasih dang”
“iya” jawab endang
Aceng langsung pergi meninggalkan endang dan menemuiku.
“Asik, aku udah jadian sama si endang” kata aceng
“Bagus dong” kataku meski hati sakit melihat aceng pacaran dengan endang, orang yang aku suka
“Kamu mau apa mar?” Tanya aceng
“Apa ya? gak taulah!”
“Udah mau apa aja tar aku beliin, anggap aka PJ (pajak jadian)”
“Ya udah makan bakso aja deh.” Kataku
“Ok”
Di sekolah aceng ditakuti oleh semua orang, orang-orang takut sama si aceng karena dia jago beladiri. Dan tidak ada seorang pun yang berani mendekati si endang kecuali temannya itu pun perempuan, jika laki laki aceng langsung mendatanginya. Suatu ketika ada seorang cowok yang mendekati si endang, dia bernama Rufai. Rufai bermaksud untuk meminjamkan pulpennya ke si endang dan mereka berdua bercanda. Aceng langsung menghampiri si Rufai dan menonjoknya.
“Maksud kamu apaan deketin si endang?” aceng marah
“Aku cuma minjemin si endang pulpen itu doang, aku gak bermaksud apa-apa.” Jelas Rufai
“Iya ceng si Fai cuma meminjamkan aku pulpen.” Kata endang
“Awas kamu fai kalo macem-macem sama pacar aku.” Geram aceng
“gak tenang aja.” Fai menjawab dengan gugup.
Tak terasa, sudah setahun berlalu mereka berpacaran, Endang mulai gak nyaman lagi sama si aceng. Dia selalu curhat kepadaku
“Marwan”
“Kenapa dang?”
“Aku udah gak nyaman lagi sama si aceng.”
“Gak nyaman kenapa?”
“Aku gak nyaman karena sikap dia yang cemburuan.”
“Bukanya itu bagus ya dang? itu berarti si aceng sayang banget sama kamu dang.”
“Iya aku tau, tapi dia keterlaluan mar.”
“Terus”
“Aku mau putus aja sama dia”
“Ya terserah kamu”
Akhirnya endang dan aceng putus, endang kembali deket sama aku, kita masih bercanda dari dulu sampai saat ini. Tiga minggu lagi smp ulangan, aku harus serius belajar dan tidak ada waktu untuk berleha-leha. Aku jarang ketemu sama endang semenjak mau ulangan, karena aku harus fokus belajar demi meraih cita-citaku. Sekian lama, ulangan pun selesai dan rapor kami dibagikan. aku bertemu lagi sama endang di jalan.
“Marwan”
“Iya Endang?”
“Apa kabar?”
“Baik, kamu gimana dang?”
“Baik juga, gimana dengan rapot kamu? masih dapat ranking mar?”
“Ya alhamdulillah aku masih Ranking pertama.”
“Wiiih.. ranking pertama mulu dari dulu.”
“Yaa.. gitu deh, kebetulan aja kali. gimana dengan rapot kamu?”
“Alhamdulillah aku juga masih ranking pertama.”
“Wish… keren kamu dang!”
“Kamu juga marwan.”
“By the way kamu udah punya pacar belum?” Tanyaku
“Belum.”
“Kenapa belum?”
“Lagi nyari orang yang pas sama aku”. Matanya meliriku
“Oh…”
“Kamu udah punya pacar belum mar?”
“Belum”
“Kok belum?” Tanya endang
“Males pacaran. “Kataku padahal aku berharap sama kamu
“Yaudahlah aku pulang dulu dang sampai ketemu lagi.”
Libur panjang telah tiba, aku bersama keluargaku rekreasi ke taman mini indonesia indah. Kujelajahi setiap tempat yang ada, ada rumah-rumah adat, ada benda-benda peninggalan jaman dulu, sampai kutemukan kereta gantung disana. Karena capek aku berhenti di sebuah trotoar dan duduk beristirahat. Disela istirahatku, entah mengapa terlintas di pikiranku endang ayu sulistiawati. Kunjungan demi kunjungan telah kulakukan, aku bersama keluarga berniat untuk pulang beristirahat dan mempersiapkan keperluan-keperluan sekolah yang beberapa hari lagi.
Masa liburan telah berakhir, Aku berangkat pagi-pagi agar aku mendapat kursi paling depan. Aku duduk dengan “Arif” siswa yang super bandel di kelas. Dia suka jailin temen-temenya, berantem sama temennya, sampe dia berani jailin guru-guru. Tapi dia berjanji jika dia duduk bersamaku, dia akan berubah.
“Arif”. Kataku
“Apa?” Kata arif
“Kamu harus janji kalo duduk sama aku kami harus baik, jangan nakal, awas kalo buat masalah.”
“Iya mar, tenang aja aku janji”
“Ok, aku pegang janjimu”.
“Ok ok”
Setelah ngobrol-ngobrol dengan Arif aku ke luar kelas, pas ku buka pintu di depan ada endang.
“Eh Marwan”
“Iya endang. apa kabar kamu?”
“Baik”.
“Endang kamu liburan kemana?”
“Di rumah aja mar. kamu kemana?”
“Ke taman mini indonesia indah.”
“Wiih, iya sih.”
“Oh iya dang, pas aku liburan gak tau kenapa aku inget kamu lho.”
“Ah masa sih?”
“Iya”
“Zzz”
Kami terus berduaan sampai kelas tiga, tapi aku gak pernah ngungakapin perasaanku kepadanya, aku takut persahabatan kami jadi hancur.
Hari demi hari berlalu, aku terus bersama endang, hingga pada akhirnya ulangan tiba, ulanganku kali ini begitu terasa indah karena di setiap saatku, selalu ditemani endang ayu sulistiawati. Senang sekali rasanya bisa terus bersamanya, semoga aku bisa terus bersamanya selamanya. Setelah ulangan selesai, smp kami biasanya mengadakan “class meeting”.
Biasanya di class meeting ini banyak perlombaan-perlomban di adakan, jadi jam KBM di bebaskan. Di class meeting ini aku tidak mengikuti perlombaan apapun, karena aku malas untuk mengikutinya. Setiap hari aku terus bersama endang, pagi bersamanyanya istirahat juga bersamanya sampai pulang aku terus bersamanya. Dia sering bilang kepada teman-temanya kalo dia suka sama aku. Aku juga sebenarnya suka banget sama dia tapi aku masih belum berani untuk menyampaikan perasaanku kepadanya. Untuk ke sekian kalinya aku terus menerus bersamanya, hingga akhirnya ujian nasional tiba. Ini saatnya aku untuk serius belajar dan mendapat nilai terbaik. Aku belajar setiap malam sendiri di kamarku.
Hari pertama ulangan, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku langsung mandi, membereskan tempat tidurku, sarapan dan berangakat. Aku tiba di sekolah pukul 06.45, aku melihat endang sedang duduk sendiri di pinggir lapangan. Perlahan aku mendekatinya.
“Hmmm” kataku
Endang nengok ke arahku
“Lagi ngapain dang?”
“Lagi duduk-duduk aja.”
“Oh. oh iya dang aku boleh nanya gak?” Tanyaku
“Mau nanya apa?”
“Yang ini gimana sih caranya?”
“Oh itu gampang, sini aku ajarin”. kata endang
“Ini dang.” Seruku
Beberapa menit kemudian selesai
“Udah ni. ”
“Oh ya makasih dang. ”
“Iya sama-sama. ”
“Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum sih?” aku kembali bertanya
“Belum” kata endang
“Asiik…”
“Kok asik?” Tanya endang
“Ya gapapa.”
“Endang kamu cantik banget sih!”
“Yang bener?”
“Iya dang, apalagi kalo kamu bantuin aku ngerjain tugas-tugas dari bu sri!” Seruku
“Ah emang dasar kamu mar.” Tangan endang menggelitiku
“Ampun-ampun cuma bercanda kali.”
“Ya udah untuk kali ini aku ampuni.”
“Makasih.” Aku tersenyum
“Kenapa senyam-senyum?” tanya endang.
“Gak papa”
Aku menggelitiki endang dan tak sengaja aku memeluknya.
“Maaf dang aku gak sengaja.”
“Iya” endang tersenyum
Di belakang teman-teman berteriak “ehmm”. tapi aku cuekin saja. sampai teman-teman melempari aku sama endang pakai batu. Meski begitu aku tetap fokus sama endang. lama-kelamaan aku juga merasa malu karena diliatin seluruh kelas 9, aku pun pergi.
“Ya udah dang aku duluan ke kelas ya..!”
“Iya marwan”.
Aku langsung lari menemui teman-temanku, sekalian ngobrol bersama mereka.
“Udah mar tembak nunggu apalagi?” Kata Aan temen sekelasku juga tetangga endang
“Jangan ngarang deh.” Kataku
“Ngarang gimana mar. jelas-jelas dia suka sama kamu.”
“Udah-udah, aku ke kelas dulu.” Aku pergi meninggalkan teman-temanku
Jam pertama selesai waktunya istirahat, secepatnya aku meninggalkan kelas. lagi-lagi aku kembali bertemu endang. Istirahat selesai aku kembali ke kelas mengikuti mata pelajaran yang kedua. net… net.. net bel berbunyi waktunya untukku pulang, aku pulang bersama endang seperti biasa. nyaman banget rasanya bisa bersamanya. Sayangnya sebentar lagi kenaikan kelas, sampai sekarang aku belum bisa nembak dia, Sebentar lagi ujian nasional berakhir, untuk terakhir kalinya aku bersama endang ikut perlombaan. Waktu itu kami ikut lomba “HARDIKNAS” hari pendidikan nasional. Rencananya aku akan nembak dia setelah kami mengikuti lomba tersebut. Lagi-lagi aku tidak jadi menembaknya karena banyak orang dan aku merasa malu. setahun berlalu, akhirnya kami perpisahan.
“Tak terasa kita perpisahan lagi aja.” Kata endang
“Iya endang.”
“Oh iya dang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Mau ngomong apa?” Tanya endang
“Sekian lama kita jalani kehidupan bersama, aku bahagia bisa bersamamu dang. kamuuu.. mau…. gak… hmm…” Di belakang temanku langsung menepuk pundaku
“Mar apa kabar kamu?” Tanya wawan teman sd sekaligus teman se-smpku.
“Alhamdulillah baik wan.”
Akhirnya aku bersama wawan ngobrol-ngobrol dan endang pergi
“Aku ke kelas duluan ya mar!”
“Aku berpikir sejenak ya udah dang.”
Hingga pada akhirnya kami berdua berpisah dan memilih sekolah kita masing-masing, aku masuk smkn 1 rangakasbitung sedangakan endang masuk sman 3 rangakasbitung. Sekian lama kami berpisah, kami bertemu kembali setelah rapor di sekolah kami dibagikan. Aku sengaja menghubunginya dan mengajaknya bertemu.
“Hai endang”
“Juga”
“Besok kita bisa bertemu?” Tanyaku
“Kenapa tidak?” Kata endang
“Besok kita ketemu di smp ya!”
“Jam berapa mar?” Tanya endang
“kira-kira jam 2an.”
“Ya udah.”
“Jangan lupa datang ya dang!.” Seruku
“Insya ALLAH”
Keesokan harinya aku bertemu dengannya, tetapi dia lagi asik bermain voli bersama teman-temanya di smp. Aku mengajaknya ke sebuah tempat
“Endang”
“Iya”
“Ikut yuk!”
“Mau kemana sih?” Tanya endang
“Ikut aja ya!”
“Gak mau ah males, kamu gak liat aku lagi seru sama teman-teman.”
“Ya udah.”
Aku pergi meninggalkanya, aku duduk di trotoar depan kelas 9B. Aku menulis sebuah surat untuknya, yang isinya:
“Endang sebenarnya aku suka sama kamu, aku sayang sama, aku cinta sama. Aku tidak berani nembak kamu karena aku takut persahabatan kita hancur, aku takut kehilangan kamu endang, aku sayang banget sama kamu. Ini untuk terakhir kalinya, semoga kita bertemu lagi dimasa depan. I LOVE YOU ENDANG AYU SULISTIAWATi”
Setelah kutulis surat itu, aku tak lagi bertemu dengannya sampai saat ini.
Cerpen Karangan: Marwan Santosa
Facebook: Marwan Santosa
Nama: Marwan Santosa
Siswa: SMKN 1 Rangkasbitung
Kelas: X Akuntansi 1
Alamat: Kp Pariuk Btn Jugul, Banten
E- Mail: Marwansantosa24[-at-]yahoo.com
No Hp: 089643744486
Fb: Marwan Santosa

cerpen remaja 40

Cinta Berbelit

Judul Cerpen Cinta Berbelit
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
“Res, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Kataku kepada Resya, sahabatku
“Iya ngomong apaan”
“Eemm aku suka sama Bagas senior kita kelas 10/1 SMA”
“Ohh itu pantesan kamu suka, dia genteng dan juga pintar lho!”. Kami berbincang di kantin sekolah karena sudah tepat waktu istirahat.
Namaku Tian aku adalah murid kelas 9/3 SMP, aku sekolah di sebuah sekolah yang elit dan menyatukan SMP dan SMA. Kali ini aku sedang jatuh cinta kepada seorang pria seniorku yaitu kelas 10. Segala cara aku lakukan demi memenangkan hati sang pujaan, bahkan aku pernah melakukan hal yang bodoh. Setiap di sekolah aku selalu sengaja melewat ke kelasnya padahal kelasnya itu di lantai paling atas, melihat senyumnya dari kejauhan.
Suatu hari ia meminta nomor teleponku, aku sangat senang karena aku berpikir di juga suka sama aku. Semakin lama aku semakin dekat dan aku rasa di suka bahkan mencintaiku.
Di sisi lain kelasku kedatangan murid baru yang bernama Farhan. Dia juga mendekatiku karena duduknya berdekatan denganku, kami berteman baik layaknya seorang sahabat, aku senang kami selalu mengerjakan pr bersama dengan sahabatku dan juga Farhan, pulang bersama dan menghabiskan waktu bersama.
Dan Bagas aku juga selalu bersamanya. Hingga waktu perpisahan untuk kelas Bagas dimulai. Di akhir acara aku, Bagas, Farhan, dan juga Resya pergi ke suatu tempat.
“Kak Bagas, kenapa kamu ajak kami kesini?” Ucapku
“Emm sebenernya aku mau bicara sesuatu sama kamu Res, dan Farhan mau bicara sama Tian” Kata KaK Bagas. Entah kenapa tapi aku merasa terpukul saat tau Kak Bagas mau bicara sama Resya.
“Oke dimulai dari kamu kak” Ucap Farhan
“Aku aku aku suka sama Resya” Aku dan Resya terkejut terutama aku
“Tapi bukannya Kak Bagas dekati Tian dan juga suka sama Tian?” Kata Resya
“Tidak aku dekati Tian untuk mengambil hatinya dan dia akan cerita tentang kamu” Kata Kak Bagas. Tiba-tiba saja air mataku menetes ke pipi.
“Jadi selama ini kamu dekati aku cuman karena sahabatku? hah? pengecut kamu!” Kataku sambil pergi. Farhan mengikutiku dan menenangkan jiwaku.
Berbulan bulan kemudian. Farhan menyatakan cintanya kepadaku dan aku pun menerimanya sebagai pacarku karena hatiku sudah bisa melupakannya dan Resya juga berstatus pacaran dengan Bagas. Meski hatiku ini tertusuk tapi aku berusaha menegarkannya lewat cinta Farhan
Cerpen Karangan: Khoirotunnisa
Facebook: Khoirotunnisa Nisa

cerpen remaja 39

Kakak Osisku Pacarku

Judul Cerpen Kakak Osisku Pacarku
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Hoaaamm!! Aku menguap sangat lebar pagi ini. Perkenalkan, namaku Zaskia Agha. Teman teman sering memanggilku Zaskia.
Hari ini, hari pertamaku masuk ke SMP. Alhamdulillah, aku masuk SMP negeri.
Sesampainya di sekolah, aku mencari namaku di setiap jendela di ruangan kelas 7. Hmm.. Ternyata, aku masuk kelas 7 F. Aku masuk ke dalam kelas yang sudah penuh dengan murid baru dan akan menjadi temanku selama 3 tahun.
Ting.. Tong..
Bel sekolah tanda masuk kelas berbunyi setelah aku duduk di samping anak perempuan yang bernama Devi.
Tak lama kemudian, 3 kakak osis datang ke kelas. Semua anak perempuan berbisik satu sama lain tentang ketampanan dua laki laki yang menjadi pengurus osis dan masuk ke dalam kelas 7 F
“Dek, sebelum kita mulai kegiatan hari ini. Marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing masing” kata salah satu kakak osis
Usai berdoa, kakak kakak osis mengabsen satu persatu kehadiran siswa.
Kemudian, seorang kakak osis laki laki yang berkulit hitam tetapi manis masuk ke dalam kelas. itu sangat mencuri perhatianku
Dia maju ke depan kelas,
“Adek adek. Perkenalkan, nama saya Abdi Agha Setiawan. Kalian bisa memanggil saya kak Agha” katanya memperkenalkan diri. Hmm.. Namanya ada di bagian namaku. Aku menjadi tersenyum sendiri melihat kak Agha “Dek. Ini, ada edaran dan harus dikumpulkan besok. Bisa dimengerti?” lanjutnya
“Bisa kak” jawab anak anak serempak. Kak Agha membagikan edaran itu ke satu persatu siswa. Sampai akhirnya, dia sampai di bangkuku. Aku tidak sengaja membuat kak Agha tersandung kakiku
“Eh maaf dek” katanya
“Maaf kak” kataku. Kedua kata itu, terucap dari bibir kita berdua secara bersamaan. Jantungku berdegup kencang saat itu. Aku tak mampu melihat ketampanan wajah kak Agha. Dan kak Agha, Hanya menatapku dengan matanya yang indah
“Hei Agha! Rupanya.. Setelah ini kau akan punya pacar adik kelas ya” goda kak bahar. Dia adalah salah satu kakak osis yang menjadi pendamping kelas 7-F
“Cieeee” semua anak menyorak i kami berdua. Hmm.. Aku menutup wajahku yang sedang tersenyum malu disana.
“Hei Bahar! Ini gak sengaja tahu!” kata kak Agha kesal. Kemudian, kak Agha melanjutkan membagikan edaran ke bangkuku dan ke bangku selanjutnya
Bel sekolah berbunyi. Kelas kami, kelas 7-F dipimpin berdo’a oleh kak Stevy, dia juga salah satu pengurus osis yang mendampingi kelasku. Usai berdoa, kita berhamburan keluar kelas. Semua anak terburu buru untuk ke luar kelas seperti dikejar anjing. Mereka saling dorong dorongan. Sedangkan aku, hanya santai di belakang mereka
“Dek!” panggil kak Agha yang tak tau panggilannya dituju pada siapa. Mungkin, bukan padaku. Batinku. Aku, merasa kak agha bukan memanggilku. Aku melanjutkan jalanku “Dek!” Panggil kak agha lagi. Kali ini dia menghampiri anak yang dipanggilnya
Dia memegang tanganku dan menghampiriku. Dug! Jantungku serasa berhenti pada saat itu juga.
“Dek.. Kamu dipanggil dari tadi kok gak nyahut sih? Sombongnya adik kelasku ini” kata kak agha, sambil mendongakkan wajahku ke arahnya
“Lho kak! Tak kirain kakak gak manggil aku” jawabku dengan malu malu
“Gha! Lanjutkan ya! Aku, Stevy sama Ali mau ke luar dulu” kata kak bahar. Hmm.. Sebenernya aku tak tau apa maksud kak bahar
Kak Agha melirik jam tangannya “Astaga! Aku harus menemui kepala sekolah saat ini” kata kak agha “Dek. Aku mau bilang hal penting ke kamu. Tapi, waktunya gak memungkinkan. Dan, aku minta pinmu aja ya” lanjut kak agha sambil mengeluarkan handpone di saku celananya. Aku mengucapkan pin bb ku sampai selesai
“Udah ya dek! Nanti pulang sekolah aku bbm kamu” katanya sambil ke luar kelas. Aku mengangguk dan kemudian berjalan ke luar kelas. Aku berhenti sejenak di depan ruang 7-D . Aku berbalik melihat kak agha, dia berjalan di kantin dan bukannya di ruang kepala sekolah. Kini, aku mengerti. Dia berbohong hanya untuk mendapatkan pin ku. Apa dia menyukaiku? Aku bertanya tanya pada dalam hatiku. 3 detik kemudian aku meloncat kegirangan
Sesampainya di rumah, aku menaruh tasku di kamar. Kemudian, aku ke luar untuk makan siang bersama keluargaku
Usai makan, aku mengganti seragamku. Kemudian, aku membaca novel karya Ilana Tan. 1 jam aku membaca novel itu. Kemudian, aku teringat kakak osis yang bernama kak agha itu. Aku bisa membayangkan wajahnya saat itu. Aku, teringat detik detik saat dia tersandung kakiku. Aku teringat detik detik saat dia memegang tanganku dan meminta pin bb ku
Ouh! Kak agha akan bbm aku sepulang sekolahnya. Aku langsung bergegas mengambil handponeku dan menyalakannya. Kak agha berulang kali bbm aku, nge-ping aku. Dan meneleponku lewat bbm. Aku merasa tidak enak padanya karena mengabaikannya. Aku melihat status kak agha ‘Off bbm. Untuk yang penting silahkan telepon or sms di nomor 081245XXXXXX’
Aku ke luar kamar sejenak, melihat orang yang berada di sekitar kamarku. Rupanya tidak ada orang di sekitar kamarku, papa dan mama pasti ke luar untuk menjahitkan seragam smpku. Aku masuk kembali ke kamar dan menelepon kak agha
Tuutt.. Tuut.. Tuuut.. Bunyi itu terdengar sangat lama di telingaku.
“Halo kak” kataku secepatnya saat teleponnya tersambung
“Halo. Ini siapa?”
“Ini Zaskia kak”
“Oh.. Kamu kia..”
“Iya kak, maaf ya aku lama bales bbm kakak. Aku merasa gak enak banget sama kakak. Tolong maafin aku ya kak. Aku harap kakak gak benci aku” kataku
“Kia aku cinta kamu dan sangat mencintaimu! Aku gak akan membencimu” katanya. Hmm.. Tapi, dari awal. Aku tidak mengenali suaranya. Itu bukan seperti suara princeku kak agha
“Halo. Halo” kata kak agha. Ini baru suara princeku batinku
“Halo” balasku
“Dek, maaf ya tadi kak bahar yang angkat! Maafin perkataannya ya”
“Ternyata bener. Tadi bukan kamu kak? Aku sudah merasa. Karena, aku, tadi tidak mengenali suaranya. Aku sangat ingat suara kakak. Hehehe” kataku sambil tertawa di akhir kata
“Kamu inget suaraku dek? Sebegitunya?”
“Iya kak. Aku kan suka kakak. Gak mungkin aku gak inget suara kakak” kataku ceplas ceplos. Tak kurasa, aku keceplosan mengatakannya. Aku gerogi karena takut apa yang akan dikatakan kak agha selanjutnya
“Oh ya? Aku juga suka kamu kok dek..” jawab kak agha. Rasanya, aku ingin terbang ke langit ketujuh. Aku sangat gembira. Bukan gembira lagi, tapi sangat sangat sangat bergembira “kamu mau gak dek jadi pacar kakak?” tanya kak agha terang terangan
“Apa kak? Aku pasti mimpi yah”
“Kamu nggak mimpi dek.. Ini nyata hehehehe kamu lucu banget sih dek. Siang siang kok malah mimpi” kata kak agha sambil tertawa kecil “jadi, gimana dek jawabanmu?”
“Iya kak iya.. Aku mau jadi pacarmu” jawabku. Aku kini sangat bahagia
Hanya dengan sehari, Zaskia dan Agha saling mengenal. Dan pada saat hari itu juga mereka berpacaran. Hmmm.. Cinta tak lekang oleh waktu ya..
Cerpen Karangan: Atha Nur Azaria
Facebook: Atha Nur Azaria
Untuk kritik dan saran. Bisa menghubungi ku lewat email : athaazaria24[-at-]gmail.com

cerpen remaja 38

Mimpi Semata (Part 1)

Judul Cerpen Mimpi Semata (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Mimpi?
Terkadang mimpi hanyalah sebuah angan semata. Mimpi adalah buah tidur yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Itulah yang kualami di dalam kehidupanku. Sebuah mimpi untuk memilikinya yang tidak akan pernah bisa kugapai. Mungkin takdirku hanyalah sekedar mengaguminya bukan untuk memiliki.
Arfan Darel itulah namanya. Lelaki berwajah tampan. Yang selama ini kudambakan. Dialah yang kuimpikan untuk dapat memilikinya. Tetapi semua itu hanyalah sebuah mimpi, semenjak ku mendengar kabar kalau dia sudah mempunyai wanita lain. Hal itu membuatku ragu untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.
Perih? Itulah yang kurasakan saat ini. Biarlah perasaan ini kupendam sendiri. Biarlah ku menggapainya hanya dalam sebuah mimpi. Mimpi yang akan membawaku ke dalam dunianya meskipun bukan kenyataan.
Hari senin tepatnya pada tanggal 18/07/2015 adalah hari pertamaku menginjak kelas X1. Seperti biasa aku selalu menunggunya di depan gerbang sekolah hanya sekedar untuk memandangnya. Bukan untuk bertegur sapa.
Tiba tiba ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan. Seseorang tersebut adalah sahabatku semenjak smp dulu. Dia bernama MEYLA PUTRI WALANDOUW. Dia adalah sahabat yang paling. mengerti perasaanku sekarang. Dan Aku menolehnya. Lalu kulangkahkan kakiku menuju sahabatku yang begitu dekat denganku.
“Vay…” Sapanya.
“Hmmm…” Jawabku
“Masih aja lo nungguin dia”.
“Hmmm Ya begitulah mey, Gue gak akan pernah bosen buat nunggu dia bersama sama gue. Dan gue yakin suatu hari nanti dia bakal tau perasaan gue yang sebenarnya”. Jawabku dengan penuh keyakinan
“Mau sampe kapan lo bakal kaya gini terus? Nungguin orang yang jelas jelas udah punya wanita lain”. Tanyanya yang begitu heran denganku.
“Sampai gue bisa memilikinya”. Aku pun tersenyum kepada sahabatku.
“Laki laki di dunia ini banyak vay. Bukan dia doang. Tapi kenapa lo nungguin dia?”
“Karena gue cinta sama dia. Gue gak bakal pernah buka hati gue selain buat dia.”
“Gue paham kok vay, kalo lo cinta mati banget kan sama dia. Gue cuma mau yang terbaik buat lo. Kalo itu pilihan lo ya udah deh gue nyerah ngingetin lo.”
“Makasih ya lo udah care banget sama gue. Tapi gue cuma mau dukungan dari lo mudah mudahan aja gue bisa dapetin dia. Oh ya gue ke kelas duluan yaa, byeee.”
“Byeeee”. Jawabnya. “Dan Gue bakal selalu doain lo kok vay.” Batinnya
Kumulai langkahkan kakiku meninggalkan sahabatku. Aku berjalan melewati koridor sekolah. Tiba tiba bel sekolah berbunyi. Aku berbegas menuju kelasku yang berada di sebelah ruang BP. Dan tanpa sengaja aku menubruk seseorang. Dan seseorang tersebut adalah ARFAN. Orang yang selama ini kutunggu.
“So..sorry gu..guee gak sengaja.” Kataku
“Iyaa gak papa kok. Lain kali kalo jalan hati hati jangan terburu buru gitu”. Jawabnya dengan penuh senyuman yang begitu merekah. Senyuman yang selama ini kudambakan
“Maa..aaf”. Hanya itulah kata kata yang kusampaikan. Aku tak pernah menyangka bisa berbicara dengan orang yang selama ini kuimpikan. “Ya ampun gue selama ini emang gak pernah salah buat nunggu lo. Sikap lo yang lembut itu yang bikin gue bertambah yakin kalo lo itu cowok idaman gue”. Batinku
Karena saking groginya, aku bergegas meninggalkan laki laki idamanku tersebut dan menuju ke kelas yang tanpa kusadari sejak dari tadi bel sekolah sudah berbunyi.
Bel berbunyi menandakan pelajaran sekolah hari ini telah usai. Seperti biasa aku menunggunya di depan gerbang sekolah hanya untuk melihatnya. Sekedar memandangnya pun sudah menjadi hal yang terindah dalam kehidupanku.
Dari jarak kejauhan terlihatlah seorang laki laki bertubuh tinggi dengan seorang perempuan berambut panjang. Dan ternyata mereka adalah ARFAN dan YASMIN. Mereka berdua pun menghampiriku. Aku tak kuasa melihat pemandangan yang membuat hatiku terasa sakit. Jarak mereka semakin dekat denganku. Sebelum mereka menghampiriku, aku pun beranjak pergi dari tempat tersebut. Air mataku sudah tak kuasa kubendung lagi. Setetes demi setetes pun akhirnya jatuh membahasi pipiku. Aku pun bergegas untuk pulang.
Di sepanjang jalan air mataku sudah bercucuran dengan derasnya. Rasanya aku ingin sekali cepat sampai ke rumah. Karena aku sudah tak kuasa lagi. Dan setibanya di rumah, aku pun berlari menuju ke kamarku. Belum sempat masuk ke kamar kakakku pun memanggilku. Kakak bertanya tentang keadaanku, karena mungkin dia melihatku sedang menangis.
“Dee… Kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?” Tanya kakakku yang sejak dari tadi melihat air mataku yang bercucuran
“Enggak papa kok kaa.. Ini cuma kelilipan biasa doang kok.” Jawabku
“Kamu bohong! Apa ini semua gara gara dia… Apa yang dia lakuin ke kamu…” Tanyanya dengan cemas
“Bener kok aku enggak bohong.. Dikata cuma kelilipan doang”. Jawabku yang berusaha menutupi semuanya.
“Hmm.. Kalo kamu ada masalah cerita aja sama kakak. Jangan pernah ada niatan sedikit pun buat pendam semua apa yang kamu rasain. Kakak siap kok menjadi teman curhat kamu. Kakak gak mau ada yang nyakitin kamu, apalagi seorang laki laki. Karena kakak gak mau kamu sedih terus kaya gini.” Jawabnya yang berusaha menasihatiku.
Yaa. Tak jarang pun aku menangis. Setiap kali aku melihatnya dengan wanita lain. Hatiku pun terasa sakit bagaikan tertusuk seribu duri. Tapi aku berusaha tegar menghadapi semuanya. Berusaha menutupi rasa sakit di hatiku. Apalagi di depan kakakku.
Hari pun sudah mulai gelap pertanda kalau malam mulai datang. Sepintas terlewati di pikiranku tentang kejadian di sekolah tadi. Aku bingung ingin menceritakan hal ini kepada siapa. Karena tidak mungkin aku menceritakannya kepada sahabatku apalagi kepada kakakku. Aku pun berjalan menuju meja belajarku. Aku mengambil kotak diaryku yang berisi curahan curahan hatiku. Aku pun mulai menceritakannya kepada buku kesayanganku yang setiap saat bersedia mendengarkan curahan hatiku.
DEAR DIARY
Di, kenapa dia begitu tega denganku? Aku yang selama ini menunggunya malah dibiarkan begitu saja. Sedangkan dia? Dia? Hikss
Aku mencintainya lebih dari dia mencintai arfan
Aku tulus menyayanginya
Aku rela menghabiskan waktuku hanya untuk menunggunya.
Tetapi dia tak pernah sedikitpun tau tentang perasaanku
Di, aku berharap suatu hari nanti ada keajaiban yang mungkin bisa membuatnya jatuh cinta kepadaku walaupun aku tau itu hanyalah angan anganku
VAYLENA
Air mataku pun jatuh kembali. Kututup kotak diary tersebut. Kuletakkan kembali kotak tersebut ke tempat semula. Aku ingin sekali melihat senyumnya untukku, bukan untuk orang lain.
Tak terasa hari sudah larut malam. Mataku sudah terlalu berat untuk melihat. Aku pun tertidur dengan pulasnya.
Pagi yang cerah, sinar matahari mulai masuk melalui ventilasi ventilasi udara di kamarku. Pagi ini begitu cerah sekali namun tak secerah hatiku di pagi ini. Aku ingin sekali tidak masuk sekolah. Karena aku tidak kuat melihat orang yang kusayangi bersama orang lain. Tapi aku juga tidak mau tertinggal pelajaran sekolah. Aku pun berpikir sejenak dan kuputuskan untuk berangkat ke sekolah.
Aku bersegera untuk mandi. Karena aku ingin datang lebih awal. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 06.45. Tinggal 15 menit lagi bel sekolah berbunyi. Namun aku masih belum juga berangkat ke sekolah.
“Duhh bagaimana ini? Sudah jam 06.45? Aku harus segera berangkat kesekolah! Kalau tidak aku pasti terlambat!”. Batinku
Aku pun bersegera berangkat ke sekolah. Karena aku takut kalau terlambat masuk kekelas. Sesampainya di sekolah aku pun melirik jam di tanganku. Huftt… Untungnya baru jam 06.55 dan lima menit lagi akan masuk sekolah.
Kulihat di sekelilingku. Tetapi aku pun belum menemukan seseorang yang kucari.
Dan ternyata terlihatlah sebuah Motor Ninja berwarna merah. Dan di motor itu ada seseorang yang kusayangi. Tetapi kenapa? Kenapa harus ada perempuan yang kubenci karena dia sudah merebutnya dariku. Aku pun mendecak kesal.
“Kenapa harus dia lagi dia lagi, kenapa bukan aku. Kenapa bukan aku yang berada di sampingmu.” Lamunku.
Tanpa kusadari ternyata bel masuk pun sudah berbunyi.
Aku pun berlari menuju kelasku dengan tergesa gesa. Sesampainya di depan kelas aku pun langsung masuk ke kelas berbarengan dengan guruku.
“Vay ayo cepat masuk pelajaran sekolah akan segera dimulai.” Kata guruku tersebut.
“Baik pak”. Jawabku
Di dalam kelas
“Oke anak anak pelajaran hari ini adalah biologi. Bapak akan beri kalian tugas tentang mikrobiologi. Dan bapak akan bikin per kelompok. Masing masing kelompok terdiri dari 4 orang. Kalian Paham?”. Kata pak guru yang berusaha menjelaskan dengan panjang lebar.
“Paham pak”. Jawab para murid dengan serentak.
“Bapak akan sebutkan satu persatu nama dari masing masing kelompok.
Kelompok 1: Indah, Fiara, Indra, Dan Devryan
Kelompok 2: Vaylena, Ezya, Azzam, Dan Ashica
Kelompok 3: Falissa, Evelyn, Adam, Dan Azaleya.” Kata pak guru
“Omg…. Gue sekelompok sama azzam? Gue gak mimpi kan? Tapi kenapa juga sih harus ada cewek tengil itu. Gue kan maunya sama azzam doang.” Lamunku. Aku pun berdecak kesal terlalu keras. Dan itu membuat guruku heran denganku.
“Vay kamu kenapa?”. Guruku
“Aa..nuu gak papa paak hehe”. Jawabku dengan penuh kegugupan.
“Oke. Baiklah sekarang kalian boleh gabung dengan kelompok kalian.” Guruku
“Baik paaak”. Jawab murid murid
Aku pun langsung bergabung dengan mereka. Aku duduk di samping azzam. Tetapi akupun gugup berada di sampingnya. Tiba tiba ezya menghampiri azzam dengan wajah tengilnya itu. Dan itu membuatku menjadi ilfeel dengannya.
“Sayang kayanya kita jodoh deh.” Kata ezya
“Kok kamu bisa ngomong gitu sih.” Kata azzam
“Habisnya sih apa apa kita selalu berdua, kemana mana berdua, sampe sampe kita berdua satu kelompok.” Kata ezya yang membuatku bertambah ilfeel
“Hehe iya yaaa, aku jadi makin sayang deh sama kamu.” Kata azzam yang berusaha menggombal
JEDERRRRR
Perkataan azzam tadi langsung membuat hatiku terasa sakit bagaikan tersambar petir. Dia benar benar tidak memandang kalau aku sedang berada di sampingnya. Dia benar benar tega mengucapkan perkataan tadi. Dia tidak menghargai perasaanku. Air mataku pun langsung jatuh ke tanah. Dan azzam pun bingung denganku.
“Vay? Kenapa? lo nangis yaa?”. Tanyanya
“Haah? Eee.. Nggak papa zam. Ini loh gue nangis karena gue keingetan drama korea yang gue tonton.” Jawabku
“Ohh… Gue kira kenapa.” Jawab azzam
“Woyy kalian tega yaaa cuekin gue kaya gini hikss hikss.” Kata ashica yang berusaha memecahkan suasana.
“Ohh iya gue lupa kalo disini ada lo caa sorry sorry.” Kata azzam
“Sorry sorry, gue bilangin enya babeh gue baru tahu rasa lo.” Kata ashica kesal.
“Weitss galak bener buu.” Kata azzam
“Iyalah, makanya jangan coba coba cuekin icaaa.” Kata ashica
“Iya dah iyaa buu cai wks.” Kata azzam
Cerpen Karangan: Winda Kane
Facebook: Vaylena Putri
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Popular Posts