cerpen remaja 51

Pacaran Membuatku Lupa Segalanya

Judul Cerpen Pacaran Membuatku Lupa Segalanya
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 October 2016
Halo nama saya Diki Wahyudi, saya akan bercerita tentang kehidupan saya dimasa smk dulu, dimana dulu cinta pertama saya pun hadir dan meracuni jiwa dan raga saya.
Kehidupan saya baik-baik saja saat saya hidup sebagai anak muda yang cukup aktif dan polos, saya belum mengerti apa itu cinta. Dari kecil hingga masuk sekolah menengah pertama saya belum tertarik dengan yang namanya pacaran, bukan karena saya tidak normal tapi karena orangtua tidak mengizinkan saya pacaran sebelum lulus sekolah. Hari-hari saya berjalan dengan baik seperti biasa sampai pada akhirnya saya termakan rayuan teman saya sebut saja si Fulan, dia bilang kalau pacaran itu enak dan bisa ngilangin stress, galau, bete gitu, saya pada waktu itu percaya saja karena dia sudah berpengalaman soal percintaan, ya saya percaya karena dia bilang mantannya lebih dari 20an lebih hahah. saya pun penasaran gimana sih rasanya pacaran.
Tapi sayangnya saya mendapat awal yang sangat buruk untuk memulai hubungan, kenapa? Saya mendapatkan wanita yang “bad girl” what is bad girl? Saya mendapatkan wanita yang ‘nakal’, itu juga rekomendasi dari teman saya karena dia gampang sekali didekati, saya rayu dia saya dekati dia saya Pepet terus setiap jam istirahat, saya jadi tertarik begitu juga sebaliknya, akhirnya saya pun ‘tembak’ (istilahnya mengutarakan perasaan) saya ke wanita itu dan dia pun meng’iya’kannya (tuh kan gampang banget)
Setiap pulang sekolah saya tidak pulang ke rumahnya melainkan di sekolah bermesraan dengan Putri -nama pacar pertama saya- saya berdua-duaan sampai saya pun ada pikiran nakal, saya mencium bibirnya.. yang belum pernah saya rasakan selama hidup saya.
Seketika kehidupan saya berubah menjadi orang yang haus cinta, begitu banyak tekanan, menjadi liar tapi di sisi lain saya ingin kembali seperti saya yang dulu, tapi perasaan saya masih ingin melakukan itu tidak ada puasnya, rasanya hidup sudah terpaku dengan pacaran, kehidupan saya kacau, saya jadi orang yang boros, saya jadi tidak fokus belajar karena hanya memikirkan tentang wanita..
Tapi karena Allah masih sayang sama saya, Allah tuntun saya ke jalan yang benar lagi melalui kejadian. Pada saat memasuki bulan Ramadhan sekolah saya diliburkan selama sebulan dan sekolah mencarikan tempat magang untuk siswanya untuk mengisi liburannya, tapi saya tidak ikut karena ibu saya sedang hamil besar -8 bulan mau naik 9 bulan- pada saat mengisi liburan saya mengantar-jemput dia ke tempat magangnya karena saya ingin memegang tangannya selalu, saya memikirkan dia setiap malam, rutin saya lakukan setiap hari, sehingga dia meminta untuk tidak menjemput dia karena takut merepotkan, nah pada saat itulah saya tidak pernah antar-jemput dia sampai sebulan.
Nggak tau kenapa perasaan saya perlahan mulai hilang, saya mulai ingat sama Allah, saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan itu salah, saya putusin dia dan saya minta maaf ke dia kalau selama ini saya sudah bertindak berlebihan sama dia, tapi tidak apa-apa karena peristiwa itu saya jadi mengerti kenapa orangtua saya melarang pacaran sebelum lulus sekolah.
Kawan-kawan Allah tidak menyebutkan adanya pacaran dalam al-quran, Pacaran terjadi karena adanya bisikan syetan, jika kalian berfikir bahwa adanya pacaran islami? Itu artinya kamu sudah ditipu sama syetan, tidak ada pacaran yang islami, pacaran menuju kepada kemaksiatan. Maka jauhilah sekarang juga karena azab Allah sangat pedih. Saya harap pembaca mengambil pelajaran dari pengalaman saya ini, karena pengalaman yang berharga dan gratis adalah pengalaman yang kita lihat dari orang lain.
Wassalamu’alaikum
Cerpen Karangan: Dicky Wahyudi
Facebook: facebook.com/dicky.wahyudi.9275439
Nama saya Diki Wahyudi
Lahir: Bekasi, 23 Agustus 1999
Saya tinggal di Bekasi, rawa banteng kecamatan Cibitung, cibuntu
Sekolah di SMK mitra bakti
Cerita Pacaran Membuatku Lupa Segalanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 50

Cowok Misterius Di Kereta Api

Judul Cerpen Cowok Misterius Di Kereta Api
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Keseharian, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Baru kali ini aku naik kereta api di umurku yang sudah beranjak tujuh belas tahun. Aku memang anak rumahan yang jarang pergi kemana-mana. Kali ini pun aku terpaksa naik kereta api. Aku sedang dalam kereta ekonomi menuju Pekalongan. Kereta ini sungguh ramai, karena bertepatan juga dengan para pemudik. Jadilah aku berdiri. Aku berdiri tepat di pinggir perbatasan gerbong. Di sebelahku ada pintu pembatas gerbong yang bergerak-gerak karena guncangan kereta. Aku menikmati saja perjalanan ini.
Di salah satu stasiun kereta, beberapa penumpang naik. Masuklah sosok yang menarik perhatianku saat pintu gerbong yang berjarak kira-kira lima meter dibuka. Pandanganku tersangkut pada cowok sepantaranku. Cowok terperfect yang pernah aku lihat, menurutku. Tampan dan berpostur keren. Rambut yang agak kriting entah diberi apa yang membuatnya semakin mempesona, matanya tajam menghanyutkan, dinaungi alis yang berbentuk tebal, kulit putih, dengan hidung mancung sedangnya, badannya tinggi tegap dilapisi t-shirt hitam dengan kemeja kotak berwarna merah sebagai luarannya. Aku tak tahu apa ini love at the first sight atau hanya sekedar mengagumi. Tapi aku tidak terlalu percaya pada cinta pandangan pertama dan seketika percaya saat dia tersenyum manis padaku.
Baru kali ini aku mengalami suasana sedramatis itu. Seolah ini adalah adegan film yang telah diatur rapi skenarionya. Langkah cowok itu berderap slow motion dalam duniaku, menggetarkan seluruh jantungku. Fokus kamera mataku telah diarahkan pada sosok yang lebih berkilau dari yang lainnya. Sekilas goncangan kereta mengubah konsentrasiku, aku sesali goncangan tadi karena sosok pemuda incaranku pun lenyap ke gerbong sebelah. Aku jadi sedih mengingat akankah momen indah itu bakal terulang lagi atau tidak dan bertemu lagi dengan “si keren” entah itu siapa namanya aku tak tahu. Cowok tadi sempat menatapku dan tersenyum manis dengan senyuman yang membuatku rela menahan napas dan berkedip.
Aku mencoba menengok gerbong sebelah lewat kaca tepat di sampingku. Cowok itu segera mengalihkan pandangannya setelah sadar aku lirik. Tiba-tiba datang seorang pria bebadan besar yang menghalangi pandanganku. “si keren” itu menghilang lagi. Mataku terus mencari sosoknya dalam suasana riuhnya kereta api itu. Entah dari mana dia berjalan cowok itu tepat berada di sebelahku. Lagu aku jatuh cinta, roulette mengalun lembut di hatiku. Semua di sekelilingku jadi serasa romantis. Aku ragu pada perasaanku. Ah, mungkin ini tidak akan bertahan lama, ketertarikan yang akan hilang dalam hitungan hari atau jam. Tetapi berdiri di sebelahnya membuatku tersenyum lepas, seolah dialah “Mr. Right” untukku.
Goncangan kereta melemahkan keseimbanganku. Hampir saja wajahku mencium lantai kalau tidak ditolong oleh tangan jangkung yang menahan perutku. Aku berdiri mendongak dan melihat pangeranku berdiri satu jengkal di hadapanku dan tersenyum lembut ke arahku. Jantungku seakan siap meledak, aliran darahku semakin cepat saat dia menyentuhku. “Terimakasih” kataku. Senyuman malaikat terlihat jelas di hadapanku, bahkan lebih dekat. Aroma tubuhnya yang menyenangkan membuat otakku tidak bisa berpikir jernih. Aku rela berada di dekapannya selamanya. “You’re welcome” balasnya dengan sedikit mengangguk. Kurasa aku tidak akan bisa melupakan suara ngebassnya itu, saat dia berkata lagi, “maaf jamku tersangkut”. Oh, ternyata jam tangan yang dia pakai tersangkut di sela benang kerudungku. Jantungku benar-benar meledak sekarang. Tubuhku bergetar kencang. Aku berdiri tersipu di dekatnya.
Tak begitu lama, Rasa bahagia itu sirna ketika stasiun tujuannku di depan mata. Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku turun kereta. Aku merasa sedih karena dia tidak juga turun bersamaku, mungkin dia turun di stasiun selanjutnya. Aku juga merasa menyesal tidak menanyakan namanya. Yang pasti saat aku akan turun dia kembali tersenyum padaku. Lagu Vierratale, “seandainya” mengalun lembut di hati.
Cerpen Karangan: Ressa Permata
Blog: sajaktanpasejak.blogsot.com
dibalik perempuan yang gemar bersenandung sajak tentang sepi
Cerita Cowok Misterius Di Kereta Api merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 49

Good Bye Mr. A (Angga Dirgadinata)

Judul Cerpen Good Bye Mr. A (Angga Dirgadinata)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
July, 2016
Rain POV
Wajah itu sudah tak mampu kulihat. Mata itu sudah tak mampu lagi kutatap. Senyumannya hilang sirna bersama kepergiannya. Namanya sungguh indah di mataku. Wajahnya yang menurut sebagian orang biasa-biasa saja, namun bagiku hampir mendekati kata ‘Sempurna’.
Flashback
April, 2016
Namaku Raina Rainata dan yang sidang kuperhatikan adalah pria tampan bernama Angga Dirgadinata. Nama yang sejak 3 tahun ini selalu kuperhatikan, aku ikuti apapun kegiatannya. Seorang cowok dengan siluet wajah yang sangat mempesona bak seorang model catwalk. Dengan rambutnya yang keren, alis mata tebal, bulu mata nan lentik, tatapan mata yang begitu terang menunjukkan keseriusannya, senyuman di bibirnya yang selalu saja ia perlihatkan ketika berbicara dengan siapapun. Sungguh memesona.
Ia bercanda dengan teman temannya. Aku hanya memperhatikannya dari jarak yang terlampau jauh. Sejak pertama masuk SMA ini aku hanya tertarik padanya. Banyak laki-laki yang kutolak, karena hanya ‘dia’ yang kuharapkan.
“lihat deh rain. dia lihat kesini” keysha teman sekelasku, tampaknya mengetahui bahwa sejak dari kelas tadi aku memperhatikan Angga.
“hmm udah deh. bukannya lo mau ke toilet? ceperan ayo” Aku yang sudah tahu Angga melihatku yang sedang memperhatikannya, salah tingkah dan lekas menarik baju Keysha menuju toilet.
Aku ketahuan ‘lagi’
11 April 2016
Hari ini Angga berulang tahun yang ke-17. Pagi ini sekolah sontak ramai dengan desas-desus mengenai Angga yang berulang tahun, maklum ia adalah salah satu bintang sekolah. aku juga tak mau kalah dengan mereka, dengan kado yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari dan secuil keberanian aku akan menemuinya ‘mungkin’, maklum saja aku bahkan tak pernah bicara dengannya melebihi 1 paragraf walau kami satu kelas lintas minat sejak kelas 1.
Dadaku terus saja berdebar ketika ingin melihatnya apalagi menemuinya, mengatakan Happy Birthday atau sekedat HBD Angga. Malu rasanya, karena memang sejak kelas 1 kami sama sekali tidak dekat. Bahkan dia tidak tahu siapa namaku. Miris.
Aku berdiri di depan pintu kelas. Aku melihat teman-teman sibuk duduk berkelompok membahas berita berita hot di sekolah.
“Rain. lo tau nggak si Angga itu dikasih surprise tadi sama ceweknya sumpah nggak boong mereka sweet banget” Aku kaget dengan apa yang dikatakan Della. Cewek? dia punya pacar? Siapa? kok gak tau?.
“Iyalah guys Mutia bilang tadi. kan ceweknya anak kelasnya juga. dinyanyiin, dikasi kue, keren lah pokoknya” Putri menambahkan.
Aku yang cuma diam menanggapi apa yang mereka bicarakan. Pikiranku berpikir keras siapa perempuan beruntung yang meluluhkan hati Angga? sejak kapan mereka pecaran? kok gue gak tau? kenapa jadi gini?. Argh..
Sepulang sekolah. Rain sengaja menunggu semua siswa pulang. Ia harus menemui Angga dan mengatakan perasaannya. Harus. entah apa yang dikatakan orang-orang nanti jika tahu seorang siswa biasa menyatakan perasaannya terhadap bintang sekolah.
“Angga tunggu ada yang mau gue omongin sama lu” tanganku bergetar ketika aku memanggilnya. Bodoh aku gugup. Dia berbalik, menatapku dan menyinggungkan senyum manisnya.
Deg. Senyumnya manis banget teriak batinku. Aku yakin saat ini pipiku sudah memerah seperti tomat masak atau sama dengan merahnya traffic light. Malu. Dasar Rain. Aku mencoba menutupi degupan jantungnya, tidak lucu kan kalau Angga mendengarnya.
“lo mau ngomong apa?” Angga memang terkenal dengan sikap ramah dan lembutnya. Wajar banyak perempuan yang menggila karenanya.
“Happy birthday Angga” Aku langsung berbalik setelah selesai mengucapkan 3 kata itu. Aku tak tau apa yang akan dilakukan Angga dibaliknya. Aku hanya mengatur degupan jantungku. Sungguh saat ini jantung ini seperti ingin keluar dan meledak.
“thanks. gue duluan” Angga yang di belakang sana melangkahkan kakinya pergi.
“Angga… tunggu” Rain berbalik dan berlari mengejar Angga.
CUP
Aku mengecupnya, tepat di bibir tipis miliknya, membuatnya terdiam dengan mata yang membulat kaget dengan apa yang aku lakukan. Aku merasa aneh, aku menciumnya, tapi mengapa ia tak memberontak sama sekali, hanya diam dan tak bergerak sama sekali. tidak membalas tapi aku yakin dia menikmatinya.
Angga POV
Aku kaget saat sesuatu lembut dan basah menyentuh atau bisa dikatakan mengecup bibirku. Aku yang terlalu kaget dengan apa yang sedang dilakukannya, hanya diam menerimanya. tidak menolak dan tidak membalas. Satu hal yang aku sadari, ada perasaan yang bergelonjak di dalam dadaku saat ia mencium bibirku.
Aku mengenalnya. Raina Rainata namanya, gadis yang selama ini kuketahui selalu memgikuti bak seorang ‘secret admire’, melihatku dari jauh, selalu memperhatikanku, dan aku juga tau bahwa ia menyukaiku. Aku sering memergokinya yang tengah memperhatikanku, lalu bersikap seolah-olah dia tidak melihatku. lucu menurutku, aku yang tau bahwa dia menyukaiku hanya bersikap pura-pura tidak tahu sama sekali.
Juny, 2016
Libur panjang akhir semester dan lebaran telah tiba. Setelah menjalani ujian yang sangat memuakkan akhirnya penderitan seluruh siswa akan berakhir dengan bahagia karena mendapatkan nilai rapor yang sangat bagus.
Raina POV
Semanjak hari itu aku tak pernah lagi menemuinya, berhenti mengikutinya, tidak lagi memperhatikannya dari jauh dan tidak mau membicarakan apapun mengenai laki-laki itu. aku berhenti menggaguminya, rasanya terlalu murahan bagiku menemuinya setelah kejadian dihari ulang tahunnya itu.
Angga POV
Raina seolah pergi menghilang dibawa angin. Aku sudah tak pernah mempergokinya tengah memperhatikanku lagi sejak hari itu. Dia menjauh dan entah bagaimana aku merasakan bahwa aku kangen dengan dia yang dulu memperhatikanku dari jauh. memperhatikan bagaimana gerak-gerikku, mengetahui semua jadwal kegiatanku walau aku dan dia tidak pernah berbicara lebih dari satu atau dua kalimat.
Selama libur aku sibuk mengurus kepindahanku. Aku akan mengikuti Ayah dan Ibuku pindah tugas keluar kota. Mulai dari surat pendah sekolah dan mengemasi barang barangku yang lain. Ingin sebenarnya tetap disini untuk menyelesaikan sekolahku, mengingat tahun depan aku sudah akan menamatkan masa SMA-ku.
Sebenarnya ada satu hal lagi yang menganjal di hatiku. Perasaanku yang sudah tak mampu kukendalikan, rasa rindu dan kangen selalu menguak di hatiku. Perasaan lebih dari rasa seorang kawan kepada teman perempuannya. Perasaan ‘Aku Menyukaimu Raina Rainata’ yang masih kusimpan dan tak mampu aku ucapkan langsung padanya, karena pasalnya ia yang selalu saja menjauh ketika aku melihatnya melewati kelasku tiap pagi, istirahat, atapun pulang. Seolah takdir dibalikkan oleh tuhan, ia yang dulu mengejarku kini berbalik aku yang mengejarnya.
Aku menunggu Rain di taman ini. Aku akan menemuinya dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Aku tadi menghubunginya setelah bersusah payah mendapatkan Id Linenya dari ‘hampir’ seluruh teman sekelasnya.
“Hai ada apa lo ngajakin gue?” Rain baru saja datang dan melambaikan tangannya bertanda mengucapkan salam ‘Hai’.
“Apa setelah lo ngambil milik gue waktu itu lo gak punya rasa bersalah?” Aku menatapnya cuek. Sebenarnya itu hanya akal-akalanku saja agar dia minta maaf dan memelukku seperti kebanyakkan film-film romantis.
Rain menggigit bibir bawahnya.
“Ak.. aku minta maaf soal waktu itu” Ia menundukkan wajahnya melihat tanah. Aku tahu ia berusaha menutupi kegelisahan dan berusaha mengendalikan agar tingkah bodohnya tidak aka keluar disaat-saat seperti ini, mengingat dulu ia selalu saja kepergok bertingkah bodoh saat berhadapan atau sekedar berpapasaan saat di kantin.
“Lupain gue juga udah nggak mikirin itu” Aku lihat dia sudah mulai bersikap biasa.
“Rain.. boleh gue ngomong sesuatu sama lo?” Bodoh kenapa aku harus bertanya hal-hal tidak penting.
“lo lucu ya boleh lah” Timpalnya terkekeh.
Aku mendekatkan diriku tepat di depan wajahnya. Sedikit menunduk untuk memandang wajahnya, memiringkan wajahku agar dapat merasakan kembali kecupan manis darinya dan kedua tanganku terangkat menggulung tengkuknya.
“Aku Menyukaimu Raina Rainata”
CUP
Rain tergelonjak kaget, saat sesuatu yang lengket mengenai bibir tipisnya dengan lembut. Aku memberikan satu kecupan manis di bibir indah milik Rain. Ia hanya diam tidak bergerak untuk memberontak ataupun untuk membalas. Aku tahu ia kini Pasti tengah sibuk menentralkan detakan jantungnya, aku merasakannya.
Aku menjauhkan wajahku dari wajahnya, dan melihatnya yang terdiam masih tidak mampu mengatakan apapun. Aku yakin ia sangat kaget dengan apa yang aku katakan dan aku lakukan tadi. Mungkin kini ia merasa ini adalah mimpi atau masih tidak percaya bahwa aku juga menyukainya, walau aku belum mendengar langsung dari bibirnya bahwa ia menyukaiku.
“Ma..aaf… gue mungkin lagi mimpi. gue duluan” Ia berucap gugup dan langsung pergi tanpa membuat akhir untuk hubungan ini. Aku tidak bisa menahanya, karena itu percuma.
Rain POV
Plashback Off
July, 2016
Aku bodoh. Aku tolol. Dan terlalu pengecut untuk mengatakan hal yang sejak 3 tahun aku pendam sendiri ‘Aku menyukaimu Angga’. Dan satu lagi tanpa aku sadari hari itu adalah benar, hari dimana aku mendapatkan kecupan lembut dari Angga, saat ia mengatakan bahwa ia juga menyukaiku. Bodoh. Sangat bodoh.
Sekarang inilah aku. Aku kehilangannya. Dia pergi meninggalkanku. Dia tidak datang kenbali ke sekolah saat libur telah berakhir Dia tidak lagi menemuiku dan tidak juga menghubungiku untuk sekedar mengatakan salam perpisahan. Sedih memang ketika tahu alasan dia tidak datang lagi adalah karena ia pindah sekolah ke luar kota mengikuti orangtuanya, tapi kalimat ‘Setiap Pertemuan Pasti Ada Perpisahan’.
“Udah dong Rain, lebay lo baru juga dia pindah, bukan nikah. nggak usah dipikirin banget. entar kalo lo jodoh sama dia juga nggak bakalan kemana kali” Keysha sahabatku selalu saja menyemagatiku untuk tidak terlalu mengingatnya sejak ia pindah.
“Thanksnya Key. lo emang sahabat gue” Aku sedikit memluknya.
“Jijik Rain” Aku melepas pelukannya dan kemudian tertawa.
Tak lama Pak Septa masuk dengan mengandeng seseorang laki-laki yang membuat para siswi-siswi di kelas berbisik ‘ganteng banget’ ‘sumpah, gila dia ganteng’ dan lain lain. Sepertinya dia murid baru, terlihat seragamannya yang berbeda dengan yang aku kenakan.
“Halo nama gue Refan Valero. semoga bisa berteman baik”
Aku tersenyum ke arahnya.
‘Saat seseorang yang berharga pergi meninggakan kita, maka akan seseorang yang baru seolah-olah ialah penggantinya’
‘Good Bye Angga Dirgantara. Welcome Refan Valero’
Cerpen Karangan: Elyna Syafitri
Facebook: elynasyafitri
Cerita Good Bye Mr. A (Angga Dirgadinata) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 48

Pertemuan Dan Perpisahan

Judul Cerpen Pertemuan Dan Perpisahan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Pagi itu udara sangat dingin diiringi suara rintik hujan masih tedengar di luar kamar Firgi. Dengan malasnya Firgi tak ingin bangun dari tidurnya yang nyenyak ditambah dengan mimpi indah yang dialaminya semalam. Dalam mipinya itu ia akan bertemu dengan seorang cowok yang berpenampilan seperti anak kuliahan. Sosoknya yang sempurna, senyumnya yang manis terurai saat ia menyunggingkan bibir tipisnya. Dibalik matanya yang agak sedikit sayu tersimpan akhlak yang terpuji di dalamnya. Siapakah dia? Firgi selalu memikirkan sosok cowok yang ia mimpikan di dalam tidurnya. Membuat Firgi tak ingin bangun dari tidurnya agar ia bisa selalu bisa menatap wajah manis cowok itu. Firgi berharap mimipinya akan menjadi kenyataan besok, lusa atau dihari-hari ia akan bertemu dengan cowok itu yang akan menjadi nyata.
Firgi berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya. Tiba di sekolah Firgi dibuat heran dengan spanduk yang ditempel di dinding luar kelasnya yang lama alias kelas X ipa 2. Kelas itu akan Firgi tinggalkan bersama dengan teman-temannya karena mereka akan pindah ke kelas XI ipa 2. Diujung kelas Firgi menemui sohibnya yang lagi nongkrong bersama.
“hai…” sapa Firgi dengan senyum pepsodentnya.
“hai juga…” balas Aurel salah satu di antara sohibnya Firgi.
“spanduk apa sih yang dinding kelas lama kita?” tanya Firgi pada sohibnya.
“hah? Spanduk? Spanduk apaan sih?”
“itu… aduh susah deh menjelaskannya kalau nggak lihat sendiri” kata Firgi hilang akal.
“Firly, Tesa, Farah, kita lihat yuk spanduk yang dimaksud Firgi”. Ajak Aurel dengan semangat karena ia sudah tak sabar ingin melihatnya.
“yuk, gue jadi penasaran juga nih!” jawab Firly antusias.
“iiih ngapain kesana sih, kita disini aja, gue nggak mau ikut sama kalian ahh!” jawab Tesa yang selalu tidak mau tahu dengan sesuatu yang beru.
“Tesa! Lo gimana sih! Ayo dong ah!” kata farah sambil menarik tangan Tesa.
Firgi dan sohibnya tiba di depan spanduk itu dan serentak mendongakkan kepala mereka untuk mengetahui informasi yang ada pada spanduk yang dimaksud Firgi tersebut. Setelah lama membacanya ada yang mangut-manggut tanda memahami maksud spanduk itu, dan juga yang acuh tak acuh.
“wah… jurusan kita bakalan ada seminar nih” kata Firly kesenangan.
“aduuuh… seminar apaan sih? Gue nggak suka seminar ah!” jawab Firgi sambil memalingkan wajahnya karena ia tak pernah suka dengan namanya seminar atau apalah itu.
“kalian lihat deh siapa narasumbernya? Wahhh ganteng banget” puju Firly.
“firly, lo kebiasaan banget ya kalau udah lihat yang ganteng, dasar lu, kecentilan!” ejek Aurel pada firly.
“Ih… biasa aja keleszz, kapan ya caranya dimulai, gue pengen ketemu sama narasumber gantengnya”. Kata Firly kegirangan.
“eh Fir, lo nggak punya mata apa? Tuh tanggal 18-20 mei!” kata Aurel sambil menunjuk tanggal yang tertera pada spanduk.
“oh iya, hah berarti mulai hari ini juga dong? Aduh mimpi apa ya gue semalam!” lanjut Firly semakin bertambah kegirangan.
“lo lebay banget sih fir” tangkas Firgi menunjukkan rasa tidak suka pada sifat Firly yang selalu kecentilan.
Mimpi… kata mimpi itu terngiang di telinga Firgi akan mimpi indah yang ia lalui tadi malam. “ahhh? Jangan jangan mimpi gue jadi kenyataan? Aduh gue nggak lagi mimpi lagi ya sekarang?” tanya Firly sendiri pada batinnya. Jika itu memang benar betapa bahagianya Firgi mimpinya kali ini akan menjadi nyata.
Semua jurusan ipa dikumpulkan oleh ketua jurusan di sebuah labor ipa yang lumayan cukup besar. Ternyata hal yang diduga Firgi menjadi kenyataan. Cowok yang ia mimpikan ternyata sekarang ada di depan matanya. Sewaktu acara seminar mata irgi hanya tertuju pada narasuber ganteng itu yang bernama Franda. Saaat ia menjelaskan bahan ajaran wajahnya, senyumnya, tak luput dari pandangan irgi.
“oke adik-adik semua ada yang ingin bertanya?” tanya Franda memanggil adik pada siswa kelas dua sma karena unurnya hanya selisih 5 tahun.
“tidak” jawab semua serempak, tak terkecuali Firgi yang selalu memerhatikan Franda tak mengeluarkan kata sepatah pun untuk menjawab pertanyaan franda.
“hallo dek?” kata Franda membangunkan Firgi dari lamunannya.
Firgi tersentak kaget dan ia dibuat linglung.
“eh kak, ya kak ganteng” jawab Firgi asal-asalan saja.
Franda tersenyum simpul mendengar ucapan Firgi yang keluar memuji dirinya.
“cie cie…” sorak anak-anak yang lain.
Firgi dibuat malu di depan Franda dan air mukanya memerah.
Sejak kejadian itu selama tiga hari berlangsungnya seminar Firgi dan Franda semakin dekat. Firgi selalu bertanya pada Franda tentang hal yang ia tidak ketahui, dan franda juga dengan senang hati selalu menjawab pertanyaan Firgi dengan jelas. Kedekatan itu membuat Firgi semakin jatuh hati pada Franda namun ia tak tahu apakah Franda akan merasakan hal yang sama seperti yang Firgi rasakan. Semua berjalan sesuai takdir yang Allah berikan.
Hari ini hari terakhir seminar, berarti Franda akan pergi untuk melanjutkan kuliahnya yang sudah mencapai semester enam. Hati Firgi begitu berat melepas kepergian Franda orang yang ia sayangi. Sebelum berpisah firgi sempat berfoto dengan Franda sebagai kenang-kenangan. Firgi tidak tahu apakah ia akan bisa bertemu franda lagi atau bukan. Bagi Firgi, sosok Franda tekah mengajarkan Firgi banyak hal dalam pelajaran ipa. Firgi berjanji ia akan rajin belajar supaya nanti setelah tamat Firgi akan menyusul Franda untuk kuliah bersama kalau takdir menakdirkan mereka untuk bertemu kembali. Biarlah rasa cinta dan sayang yang Firgi pendam ini suatu saat ia akan mengungkapkan perasaannya yang sejujurnya. Dan Firgi berharap Franda juga akan memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dibalik itu juga ada rasa menyesal menyelinap di hati Firgi kenapa tidak dari awal bertemu dengan Franda ia langsung nyatakan saja perasannya. Firgi menjadi dilema.
Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri
Cerita Pertemuan Dan Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 47

Pertemuan Dan Perpisahan

Judul Cerpen Pertemuan Dan Perpisahan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Pagi itu udara sangat dingin diiringi suara rintik hujan masih tedengar di luar kamar Firgi. Dengan malasnya Firgi tak ingin bangun dari tidurnya yang nyenyak ditambah dengan mimpi indah yang dialaminya semalam. Dalam mipinya itu ia akan bertemu dengan seorang cowok yang berpenampilan seperti anak kuliahan. Sosoknya yang sempurna, senyumnya yang manis terurai saat ia menyunggingkan bibir tipisnya. Dibalik matanya yang agak sedikit sayu tersimpan akhlak yang terpuji di dalamnya. Siapakah dia? Firgi selalu memikirkan sosok cowok yang ia mimpikan di dalam tidurnya. Membuat Firgi tak ingin bangun dari tidurnya agar ia bisa selalu bisa menatap wajah manis cowok itu. Firgi berharap mimipinya akan menjadi kenyataan besok, lusa atau dihari-hari ia akan bertemu dengan cowok itu yang akan menjadi nyata.
Firgi berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya. Tiba di sekolah Firgi dibuat heran dengan spanduk yang ditempel di dinding luar kelasnya yang lama alias kelas X ipa 2. Kelas itu akan Firgi tinggalkan bersama dengan teman-temannya karena mereka akan pindah ke kelas XI ipa 2. Diujung kelas Firgi menemui sohibnya yang lagi nongkrong bersama.
“hai…” sapa Firgi dengan senyum pepsodentnya.
“hai juga…” balas Aurel salah satu di antara sohibnya Firgi.
“spanduk apa sih yang dinding kelas lama kita?” tanya Firgi pada sohibnya.
“hah? Spanduk? Spanduk apaan sih?”
“itu… aduh susah deh menjelaskannya kalau nggak lihat sendiri” kata Firgi hilang akal.
“Firly, Tesa, Farah, kita lihat yuk spanduk yang dimaksud Firgi”. Ajak Aurel dengan semangat karena ia sudah tak sabar ingin melihatnya.
“yuk, gue jadi penasaran juga nih!” jawab Firly antusias.
“iiih ngapain kesana sih, kita disini aja, gue nggak mau ikut sama kalian ahh!” jawab Tesa yang selalu tidak mau tahu dengan sesuatu yang beru.
“Tesa! Lo gimana sih! Ayo dong ah!” kata farah sambil menarik tangan Tesa.
Firgi dan sohibnya tiba di depan spanduk itu dan serentak mendongakkan kepala mereka untuk mengetahui informasi yang ada pada spanduk yang dimaksud Firgi tersebut. Setelah lama membacanya ada yang mangut-manggut tanda memahami maksud spanduk itu, dan juga yang acuh tak acuh.
“wah… jurusan kita bakalan ada seminar nih” kata Firly kesenangan.
“aduuuh… seminar apaan sih? Gue nggak suka seminar ah!” jawab Firgi sambil memalingkan wajahnya karena ia tak pernah suka dengan namanya seminar atau apalah itu.
“kalian lihat deh siapa narasumbernya? Wahhh ganteng banget” puju Firly.
“firly, lo kebiasaan banget ya kalau udah lihat yang ganteng, dasar lu, kecentilan!” ejek Aurel pada firly.
“Ih… biasa aja keleszz, kapan ya caranya dimulai, gue pengen ketemu sama narasumber gantengnya”. Kata Firly kegirangan.
“eh Fir, lo nggak punya mata apa? Tuh tanggal 18-20 mei!” kata Aurel sambil menunjuk tanggal yang tertera pada spanduk.
“oh iya, hah berarti mulai hari ini juga dong? Aduh mimpi apa ya gue semalam!” lanjut Firly semakin bertambah kegirangan.
“lo lebay banget sih fir” tangkas Firgi menunjukkan rasa tidak suka pada sifat Firly yang selalu kecentilan.
Mimpi… kata mimpi itu terngiang di telinga Firgi akan mimpi indah yang ia lalui tadi malam. “ahhh? Jangan jangan mimpi gue jadi kenyataan? Aduh gue nggak lagi mimpi lagi ya sekarang?” tanya Firly sendiri pada batinnya. Jika itu memang benar betapa bahagianya Firgi mimpinya kali ini akan menjadi nyata.
Semua jurusan ipa dikumpulkan oleh ketua jurusan di sebuah labor ipa yang lumayan cukup besar. Ternyata hal yang diduga Firgi menjadi kenyataan. Cowok yang ia mimpikan ternyata sekarang ada di depan matanya. Sewaktu acara seminar mata irgi hanya tertuju pada narasuber ganteng itu yang bernama Franda. Saaat ia menjelaskan bahan ajaran wajahnya, senyumnya, tak luput dari pandangan irgi.
“oke adik-adik semua ada yang ingin bertanya?” tanya Franda memanggil adik pada siswa kelas dua sma karena unurnya hanya selisih 5 tahun.
“tidak” jawab semua serempak, tak terkecuali Firgi yang selalu memerhatikan Franda tak mengeluarkan kata sepatah pun untuk menjawab pertanyaan franda.
“hallo dek?” kata Franda membangunkan Firgi dari lamunannya.
Firgi tersentak kaget dan ia dibuat linglung.
“eh kak, ya kak ganteng” jawab Firgi asal-asalan saja.
Franda tersenyum simpul mendengar ucapan Firgi yang keluar memuji dirinya.
“cie cie…” sorak anak-anak yang lain.
Firgi dibuat malu di depan Franda dan air mukanya memerah.
Sejak kejadian itu selama tiga hari berlangsungnya seminar Firgi dan Franda semakin dekat. Firgi selalu bertanya pada Franda tentang hal yang ia tidak ketahui, dan franda juga dengan senang hati selalu menjawab pertanyaan Firgi dengan jelas. Kedekatan itu membuat Firgi semakin jatuh hati pada Franda namun ia tak tahu apakah Franda akan merasakan hal yang sama seperti yang Firgi rasakan. Semua berjalan sesuai takdir yang Allah berikan.
Hari ini hari terakhir seminar, berarti Franda akan pergi untuk melanjutkan kuliahnya yang sudah mencapai semester enam. Hati Firgi begitu berat melepas kepergian Franda orang yang ia sayangi. Sebelum berpisah firgi sempat berfoto dengan Franda sebagai kenang-kenangan. Firgi tidak tahu apakah ia akan bisa bertemu franda lagi atau bukan. Bagi Firgi, sosok Franda tekah mengajarkan Firgi banyak hal dalam pelajaran ipa. Firgi berjanji ia akan rajin belajar supaya nanti setelah tamat Firgi akan menyusul Franda untuk kuliah bersama kalau takdir menakdirkan mereka untuk bertemu kembali. Biarlah rasa cinta dan sayang yang Firgi pendam ini suatu saat ia akan mengungkapkan perasaannya yang sejujurnya. Dan Firgi berharap Franda juga akan memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dibalik itu juga ada rasa menyesal menyelinap di hati Firgi kenapa tidak dari awal bertemu dengan Franda ia langsung nyatakan saja perasannya. Firgi menjadi dilema.
Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri
Cerita Pertemuan Dan Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 46

Mengalun

Judul Cerpen Mengalun
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Tap… tap…
1… 2… 3… tap… tap… 1… 2… 3… 4… angkat tangan kanan. Turunkan. Seblak. 1… 2… tap… tap…
Semua gerakan itu terlihat sempurna di mataku, benar-benar menyatu dengan alunan musik yang ada. Selama beberapa saat aku terpana, sampai tiba-tiba ibu berhenti. Beliau menyadari kehadiranku dan berbalik, lalu tersenyum.
“Belum tidur, Din?”, beliau mematikan tapenya dan berjalan menghampiriku.
Aku menggeleng. “Belum, Bu”, jawabku singkat. Ibu melihat gelas kosong yang ada di tanganku, lalu tertunduk. “Sudah larut, Bu. Istirahat saja. Gerakan ibu sudah bagus kok,” lanjutku.
Sekarang ibu yang menggeleng.
“Ibu masih harus latihan, biar lebih luwes. Maklum, ibu kan sudah tua… badan ibu sudah kaku. Coba kalau Dinda, pasti bisa lebih bagus,” Ibu baru akan meletakkan tangan di pundakku, tapi aku menghindar.
“Dinda mau tidur, Bu,” Aku berpaling dan meninggalkan ibuku. Seharusnya ibu tidak mengatakan kalimat itu karena beliau sudah tahu aturannya. Aku tidak menari. Tidak lagi.
Aku masuk kamar dan menutup pintu di belakangku. Mataku berkaca-kaca, hal yang selalu terjadi ketika aku tahu aku telah menyakiti hati ibuku. Aku membanting diriku di atas kasur dan tidur telentang, menatap langit-langit kamar. Dengan kasar aku mengusap air mataku yang mulai mengalir. Aku tidak menari lagi, bisikku pada diriku sendiri. Aku sudah berhenti.
Dulu, waktu aku masih kecil dan belum bisa memutuskan mau jadi apa, aku menari. Aku melakukannya karena ibu adalah seorang penari. Dan aku menikmatinya. Aku memenangkan banyak kejuaraan tari, baik tunggal maupun berkelompok. Hal itu membuat ibuku sangat bangga. Beliau mengatakan kalau aku berbakat alam, bahwa aku memang terlahir untuk menari. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kecintaanku pada seni tari memudar. Perlahan tapi pasti, aku mulai tidak menyukainya. Aku mulai menganggapnya kuno, jadul, dan mulai mempertanyakan alasanku menari. Puncaknya adalah saat aku kelas 2 SMP, aku berdebat dengan ibuku, membuat beliau murka sampai menamparku. Sakit hati, saat itu juga aku memutuskan untuk berhenti menari.
Sejak saat itu, hubunganku dengan ibu menjadi kaku. Aku tahu beliau menyesal telah menamparku, dan beliau juga sudah meminta maaf. Tapi aku tidak ingin menari kembali. Aku selalu menghindar bila ibu mulai menunjukkan gelagat ingin mengajakku menari. Meskipun begitu, sebenarnya aku tidak benar-benar membenci seni tari. Pada kenyataannya, aku masih senang melihat ibu menari. Di mataku, gerakan ibu benar-benar indah dan gemulai, selalu menyatu sempurna dengan alunan musik yang ada. Mengalun, begitu aku menyebutnya, meskipun aku tahu itu bukan istilah yang tepat.
Aku terbangun jam 05.30 pagi, tapi segera tertidur lagi begitu ingat kalau hari ini aku tidak akan pergi ke sekolah. Aku sudah izin kemarin. Hari ini aku dan ibuku akan terbang ke Belanda. Alasan beliau berlatih sampai larut malam kemarin adalah karena beliau diminta untuk mengisi acara di peringatan kerja sama bilateral Indonesia-Belanda, yang akan dilaksanakan di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di kota Amsterdam. Hal itu tentu sangat membanggakan, karena di Indonesia sendiri ibuku tidak begitu terkenal. Kebetulan koordinator acara tersebut adalah Mas Adit, tetanggaku waktu masih tinggal di Solo, yang sekarang kuliah S2 jurusan Bahasa Jawa di Universitas Leiden, Belanda. Menurutku Mas Adit baik sekali karena masih mengingat kami.
Aku dan ibuku berangkat dari Stasiun Gambir pukul 17.00 dan sampai di Bandara Soekarno Hatta pukul 17.30. Keberangkatan kami pukul 19.45, jadi selama menunggu, aku dan ibuku pergi ke restoran cepat saji untuk makan malam, walaupun nanti di pesawat juga akan ada makan malam. Pesawat kami tidak langsung menuju ke Belanda, maklum, belum ada penerbangan langsung Jakarta-Amsterdam, jadi kami harus ganti pesawat di Kuala-Lumpur, Malaysia. Perjalanan di udara memakan waktu kurang-lebih 14 jam. Aku tertidur pulas di pesawat, tapi ibu tidak. Beliau tidak begitu suka terbang. Aku jadi khawatir dengan kesehatan ibuku, bagaimana kalau beliau jatuh sakit di sana.
Karena waktu yang berbeda, kami tiba di Belanda pukul 05.45 pagi. Acaranya akan dilaksanakan malam hari, jadi masih ada waktu seharian penuh untuk istirahat. Mas Adit dan salah satu teman Belanda-nya menjemput kami di bandara, dan langsung mengantarkan kami ke hotel. Semua biaya akomodasi sudah ditanggung panitia, jadi kami tidak perlu khawatir. Ibuku yang mengalami jet lag langsung tertidur pulas, tapi aku yang sudah tidur 12 jam lebih, memutuskan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana sejuk kota Amsterdam. Mas Adit sibuk, jadi dia tidak bisa menemaniku. Sebagai gantinya, dia meminta tolong pada teman Belanda-nya, Boudewijn Caspar, untuk menemaniku.
Karena nama depannya yang terlalu sulit untuk kuucapkan, aku memanggilnya Caspar. Dia cowok tinggi pucat berambut pirang yang mukanya cukup pasaran di Belanda, tapi kalau buat ukuran orang Indonesia, ya, ganteng lah. Sesuai dengan nama depannya yang berarti sopan dan ramah, Caspar sangat sopan dan ramah terhadapku. Untung saja dia mahir berbahasa Inggris, jadi kami dapat bercakap-cakap. Aku menghabiskan waktuku di pusat kota; berfoto dan makan. Hampir tiap jajanan aku coba, mumpung ada kesempatan. Karena terlalu sibuk bersenang-senang aku jadi lupa pada ibuku, sampai Mas Adit meneleponku.
“Din, ibumu masuk rumah sakit, beliau demam tinggi,”
“Apa?”
Selama beberapa saat aku tertegun, tidak percaya pada ucapan Mas Adit. Tapi akhirnya aku tersadar, dan dengan panik langsung pergi menuju ke rumah sakit.
Mas Adit sudah di sana, tampak lelah. Sekarang sudah pukul 15.30, persiapan acara seharusnya sudah matang dan gladi bersih harusnya sudah dilaksanakan juga, akan tetapi ibuku tak sadarkan diri. Mas Adit bilang petugas hotel menemukan ibu pingsan di depan pintu kamar mandi saat sang petugas sedang mengantarkan makan siang.
“Maaf, Din, ini salah Mas Adit, seharusnya keberangkatan kalian 2 hari yang lalu, biar ada waktu istirahat buat ibumu… ”
“Enggak kok Mas, biasanya ibu juga nggak apa-apa. Dinda yang salah Mas, seharusnya Dinda jagain ibu tadi,” ucapku penuh penyesalan. Seharusnya aku memang tidak bersenang-senang dahulu, karena aku tahu ibu tidak istirahat semalam, dan beliau juga mengalami jet lag. Sekarang, aku benar-benar merasa seperti anak durhaka. Tanpa sadar tangisku pecah melihat ibu terbaring pucat tak berdaya di ranjang rumah sakit. Mas Adit menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkanku, sementara Caspar hanya hanya dapat terdiam.
“So, how about the show? Bagaimana dengan pertunjukannya?”, akhirnya Caspar memecah keheningan yang ada.
“We have no choice but to cancel the traditional dance show. Kita tidak punya pilihan lain, pertunjukkan seni tarinya harus dibatalkan.” Kata Mas Adit dengan berat. Ia pasti sangat kecewa karena acara yang disusunnya dengan susah payah jadi kacau. Aku tak tega melihat wajahnya yang lelah itu kini tampak lebih memprihatinkan karena putus asa.
“Sebenarnya… Mas… Dinda mungkin bisa gantiin ibu.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku sebelum aku menyadarinya. Mungkin karena perasaan bersalah terhadap Ibu dan Mas Adit.
“Bener, Din?” tiba-tiba mata Mas Adit kembali bersinar, “… kamu beneran mau gantiin ibumu?”,
Semangat Mas Adit yang tiba-tiba menyala kembali membuatku takut. Aku hanya bisa meringis mengiakan.
“Oh iya, Mas Adit lupa, kamu kan pinter nari juga… dulu waktu kecil kamu sering juara, sekarang kamu pas lebih hebat!” Kalimat Mas Adit serasa mencambukku. Bagaimana kalau dia tahu sudah 3 tahun lebih aku tidak menari? Aku tidak berani membayangkannya. Mungkin lebih baik kalau dia tidak tahu.
“Kalo gitu, tolong Mas Adit, ya, Din. Soalnya acara ini penting banget buat Mas,” lanjutnya.
“Eh, iya Mas, tapi Dinda nggak sebagus itu kok, ibu Dinda jauh lebih bagus,” ujarku terbata-bata. Mati aku, batinku. Aku kan tidak pernah mempelajari tari yang akan ibu bawakan. Seharusnya aku berpikir dulu sebelum berucap. Bagaimana kalau acaranya malah jadi hancur?
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dari mulut? begitu terus-menerus. 5 menit lagi aku tampil, tapi aku belum bisa menghilangkan kegugupanku. Bagaimana tidak? berlatih saja tidak pernah. Aku telah mengenakan kostum dan full make up. Untung saja postur tubuhku dan postur ibu tak jauh beda, aku hanya harus mengecilkan bagian pinggangnya sedikit. Tapi, Ya Tuhan, aku tidak bisa menghilangkan perasan gugupku. Usahaku untuk mengingat gerakan yang biasa ibu lakukan sia-sia. Terlintas di benakku untuk kabur saja, tapi nanti bagaimana dengan Mas Adit? Dia telah begitu baik pada kami, aku tak bisa mengecewakannya.
Aku mengintip dari balik panggung, dan melihat wajah-wajah asing para tamu undangan yang tengah fokus mendengarkan pidato dari Duta Besar Indonesia. Tubuhku gemetaran hebat karena gugup dan panik, bajuku telah basah oleh keringat dingin. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Panggilan untukku tampil sudah disuarakan, tapi aku belum bisa bergerak. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget.
“Semangat, ya! Gak usah gugup gitu, kamu pasti bisa kok!” Mas Adit tersenyum hangat menyemangatiku, begitu juga Caspar.
“Good luck, I know you can do it!”, ujarnya kalem.
Aku ingin menangis, seharusnya kukatakan saja pada mereka yang sebenarnya. Apakah sekarang sudah terlambat untuk itu? Sepertinya begitu, karena alunan gamelan sudah mulai terdengar. Aku sudah terlanjur basah, jadi sekalian saja mencebur. Masalah malu, itu urusan nanti, toh tak semua orang kenal tarian yang akan kubawakan, jadi tidak apa kalau salah satu-dua gerakan, atau dalam kasusku pasti akan lebih dari itu. Aku berbalik dan memejamkan mataku, berdoa. Sambil menggigit bibir bawah, kuambil langkah pertamaku. Cahaya yang menyilaukan menyambutku di atas panggung. Dengan percaya diri, aku lenggokkan tubuhku sesuai irama musik yang mengalun. Mengalun. Aku tersadar. Yang harus aku lakukan hanya mengalun.
Tap… tap…
1… 2… 3… tap… tap… 1… 2… 3… 4… angkat tangan kanan. Turunkan. Seblak. 1… 2… tap… tap…
Selama 7 menit penuh aku hanya mendengarkan musik dan membiarkan tubuhku bergerak sesuka hati. Aku menikmatinya, seperti dulu. Ternyata ini lebih mudah daripada yang kuduga. Tubuhku rupanya masih ingat bagaimana cara menari, bahkan dapat mempraktikkan gerakan yang hanya kulihat dari latihan ibu, hanya saja mungkin tidak seluwes itu. Para penonton terdiam, mungkin melihat keganjilan dalam gerakanku. Masa bodoh. Yang penting aku sudah tampil. Nanti aku akan meminta maaf pada Mas Adit dan mengatakan yang sebenarnya; bahwa aku telah lama berhenti menari. Sebagai permintaan maaf, mungkin aku akan mengembalikan upah menarinya. Ya, dengan begitu pasti beres.
Alunan gamelan berhenti, begitu pula tarianku. Aku tidak sanggup melihat penonton, jadi aku hanya memandangi lantai panggung. Aku menunduk sebentar untuk memberi hormat dan sebagai ucapan terima kasih karena telah menonton, saat keriuhan itu terdengar. Aku mendongak, dan melihat para hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Standing applause. Tidak percaya, aku menengok ke sisi panggung di mana Mas Adit dan Caspar tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Bagaimana mungkin aku lupa rasanya? Dulu aku sering mendapat sambutan meriah saat pertunjukkan tari; tapi bukan itu, bukan itu yang kucari. Bagaimana mungkin aku melupakan bahwa menari itu menyenangkan?
“You’re awesome. Kau luar biasa!”, Caspar menyambutku.
Aku belum bisa berkata-kata, alih-alih menjawab, aku malah menangis.
“Kamu hebat, Din. Mas belum pernah melihat tarian yang seperti itu… ”
Karena tarian itu memang ngawur, batinku. Tapi aku tidak mengatakannya. Aku jadi teringat ibu.
“Ibu… ?”
“Oh, iya. Tadi rumah sakit menelepon. Ibumu sudah sadar. Beliau cuma kurang istirahat, karena muntah-muntah jadi dehidrasi. Tekanan darahnya rendah, tapi udah baikan kok sekarang. Kalo kamu mau ke rumah sakit duluan, nanti Caspar yang antar, soalnya Mas masih sibuk.” Jawab mas Adit, bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku hanya mengangguk. Aku segera berganti pakaian dan bergegas ke rumah sakit. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu ibuku dan mengatakan kalau aku akan menari lagi. Keputusanku kali ini atas pilihanku sendiri, bukan karena ibu atau paksaan orang lain. Aku akan menari karena aku menikmatinya.
Dalam perjalanan itu, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Boudewijn Caspar pasti heran karena beberapa saat lalu aku tak bisa berhenti menangis. Masa bodoh. Aku sangat senang karena telah membuat keputusan sendiri.
Cerpen Karangan: Dianika
Facebook: Ikaya Dian

cerpen remaja 45

Hikmah Cinta

Judul Cerpen Hikmah Cinta
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Nama gue Andri, gue anak smk yang mungkin bisa dikatakan sedikit pintar, jujur gue belum pernah pacaran tapi gue suka begadang malem keluyuran gak jelas. Kisah ini adalah sebuah pengalaman dan pembelajaran gue untuk bagaimana menjalani permainan hidup.
Kisah ini berawal dari hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama liburan kenaikan kelas. Di sekolah hari-hari gue awalnya berjalan dengan meulus tanpa ada polisi tidur ataupun kerikil, tapi semuanya berubah ketika gue berpapasan dengan cewek yang cuantik abis, seksi banget, super duper, pokoknya amazing, spectacular, sensational, segala macem deh. Saat itu juga bahkan detik itu juga gue ngerasa dunia ini berhenti sejenak, yang bergerak hanyalah bidadari di depan gue itu pun slow motion dengan tatapan matanya yang memesona serta rambut panjangnya yang terurai seakan-akan mengatakan “Haii..”, dalam hati berkata “Indahnya hidup ini..”. Lagi asyik-asyiknya berdrama ria temanku Doni mengagetkanku
“Oiiii… ngapain woiii…!!” sambil mengagetkan
“Apaan sih Don! Loe ganggu orang lagi bahagia aja” dengan sedikit kesal
“Hahah… ya loe dipanggil-panggil disenggol-senggol malah diem kaya patung pancoran” sambil makan siomay
“Eh Don ngomong-ngomong loe tau cewek yang tadi gak?” dengan nada penasaran
“Ooh yang tadi? Gue denger sih katanya anak pindahan” dengan nada yang sok tau
“Oooh anak pindahan ya.. Hmm.. Oke Oke” dengan nada bersemangat
“Apanya yang Oke?” dengan nada heran
“Hehehe.. gak.. gak papa…” dengan sedikit meringis senang
Semenjak itu semangat hidup gue bertambah 90 persen dan akan menjadi 100 persen kalau saja cewek yang tadi berhasil gue pacarin Selama ini gue gak pernah sesemangat ini!!. Gue berpikir bagaimana cara pdkt dan dapetin dia.. “Hmm.. ya ya ya, yang pertama adalah information!!” Misi pertama pun gue lakukan dengan mencaritahu namanya, rumahnya semuanya deh.. pokoknya gue kepoin dia.
Singkat waktu gue berhasil menjadi temen dekatnya dan ternyata namanya Intan, pokoknya kita deket banget sampai dikira kita pacaran. Suatu waktu ketika gue mau pulang dari kebiasaan buruk gue nongkrong malem saat itu kira-kira pukul 02:45 dini hari gue putusin lewat rumah Intan dan saat gue berhenti sejenak ngeliat rumahnya, gue denger suara cewek yang sedang mengaji, suaranya yang terlalu indah membuat gue takut dan merinding sekujur tubuh yang seolah olah mengingatkan dosa-dosa gue selama ini, karena merinding gue putusin cabut. Di rumah, gue gak bisa tidur dan gue bertanya tanya suara siapakah itu? suaranya tak asing lagi di telinga.. “hmmm apakah intan? masa sih Intan..”
Esok paginya gue putuskan untuk menginterogasi tersangka Intan alias menanyainya..
“Tan, gue mau tanya sesuatu boleh?” dengan nada sedikit penasaran
“Bolehlah, emangnya tanya apaan?” dengan nada santai sedikit serius
“Jawab yang jujur Loe jangan bohong..!”
“Iyaa.. iya tanya apaan?”
“Apa Loe bisa mengaji?” dengan mengerutkan dahi
“Kenapa kok tanya gitu?” dengan gugup dan heran
“Jawab yang jujur Tan, Apa loe bisa ngaji?” dengan nada penasaran
“Gak bisa Ndri..” dengan nada rendah
“Yakin loe Tan? Yang bener..” dengan nada yang masih penasaran
“Iya bener.. kok gak percaya sih, emang kenapa tanya gitu?” dengan nada kesel
“Ya gak papa sih cuma nanya aja.”
Dari interogasi kemarin gue kurang percaya dan membuat penasaran gue menjadi jadi sampai suatu ketika diem diem gue ngelihat dengan mata kepala dan telinga gue sendiri bahwa intan bisa mengaji dengan suara yang indah. Hmm.. dan ternyata setelah gue selidiki lebih lanjut ternyata Dia juga rajin melakukan sholat malam pokoknya sholehah, dan gue sekarang tau kalau Intan itu seperti durian, karena gue pernah mendengar nasihat “di dalam kerasnya kulit durian terdapat sesuatu yang lembut dan manis untuk dimakan”, gue sekarang sedikit belajar bahwa jangan melihat segala sesuatu itu dari luarnya saja karena siapa tau di dalamnya terdapat sesuatu yang indah yang tidak kita ketahui. Tapi setelah mengetahui itu semua bukannya gue ingin lebih cepat menjadi pacarnya si Intan malah tujuan gue mendekati Intan berubah 180 derajat dan entah kenapa gue berpikir “gue gak mau pacaran sama intan, dia terlalu baik untuk dijadikan pacar.. gue tau gue belum pantas untuknya, gue pelan-pelan akan menjauhinya, gue akan pergi untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan hidup ini”. Yang jelas gue ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Pagi ini adalah hari terakhir gue di sekolah dan gue memutuskan untuk jalan dengan Intan untuk yang terakhir kalinya karena gue ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, gue tau perasaan intan dari matanya dan intan pun sepertinya tau perasaan gue tapi kita hanya mengobrol biasa layaknya teman. Sore itu di tepi pantai di atas bangku dengan ditemani sunset serta angin yang sepoi-sepoi gue dan Intan duduk berdua dibatasi oleh tas..
“Tan.. gue besok mau pergi” Dengan senyuman tipis
“Oh jadi besok ya, hmm.. hati-hati di jalan ya, semangat”. dengan senyuman disertai mata yang berkaca kaca sambil melihat sunset
“I-iya..” dengan nada sedih sambil menunduk
“Iya doank..” dengan mata yang berkaca-kaca sambil menunduk
“Intan… Te-te-Terima kasih ” dengan menunduk dan menangis
Setelah itu gue antar dia pulang dengan sepeda motor, dalam perjalan Intan tertidur.. Hati gue bicara “Intan.. jika memang dimana hari itu datang dan loe masih belum menemukan seseorang yang tepat, tolong beri gue kesempatan untuk menjadi teman hidup loe.”
Cerpen Karangan: Ali
Facebook: adr.crb
Cerita Hikmah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Popular Posts