cerpen remaja 51

Pacaran Membuatku Lupa Segalanya

Judul Cerpen Pacaran Membuatku Lupa Segalanya
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Nasihat, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 October 2016
Halo nama saya Diki Wahyudi, saya akan bercerita tentang kehidupan saya dimasa smk dulu, dimana dulu cinta pertama saya pun hadir dan meracuni jiwa dan raga saya.
Kehidupan saya baik-baik saja saat saya hidup sebagai anak muda yang cukup aktif dan polos, saya belum mengerti apa itu cinta. Dari kecil hingga masuk sekolah menengah pertama saya belum tertarik dengan yang namanya pacaran, bukan karena saya tidak normal tapi karena orangtua tidak mengizinkan saya pacaran sebelum lulus sekolah. Hari-hari saya berjalan dengan baik seperti biasa sampai pada akhirnya saya termakan rayuan teman saya sebut saja si Fulan, dia bilang kalau pacaran itu enak dan bisa ngilangin stress, galau, bete gitu, saya pada waktu itu percaya saja karena dia sudah berpengalaman soal percintaan, ya saya percaya karena dia bilang mantannya lebih dari 20an lebih hahah. saya pun penasaran gimana sih rasanya pacaran.
Tapi sayangnya saya mendapat awal yang sangat buruk untuk memulai hubungan, kenapa? Saya mendapatkan wanita yang “bad girl” what is bad girl? Saya mendapatkan wanita yang ‘nakal’, itu juga rekomendasi dari teman saya karena dia gampang sekali didekati, saya rayu dia saya dekati dia saya Pepet terus setiap jam istirahat, saya jadi tertarik begitu juga sebaliknya, akhirnya saya pun ‘tembak’ (istilahnya mengutarakan perasaan) saya ke wanita itu dan dia pun meng’iya’kannya (tuh kan gampang banget)
Setiap pulang sekolah saya tidak pulang ke rumahnya melainkan di sekolah bermesraan dengan Putri -nama pacar pertama saya- saya berdua-duaan sampai saya pun ada pikiran nakal, saya mencium bibirnya.. yang belum pernah saya rasakan selama hidup saya.
Seketika kehidupan saya berubah menjadi orang yang haus cinta, begitu banyak tekanan, menjadi liar tapi di sisi lain saya ingin kembali seperti saya yang dulu, tapi perasaan saya masih ingin melakukan itu tidak ada puasnya, rasanya hidup sudah terpaku dengan pacaran, kehidupan saya kacau, saya jadi orang yang boros, saya jadi tidak fokus belajar karena hanya memikirkan tentang wanita..
Tapi karena Allah masih sayang sama saya, Allah tuntun saya ke jalan yang benar lagi melalui kejadian. Pada saat memasuki bulan Ramadhan sekolah saya diliburkan selama sebulan dan sekolah mencarikan tempat magang untuk siswanya untuk mengisi liburannya, tapi saya tidak ikut karena ibu saya sedang hamil besar -8 bulan mau naik 9 bulan- pada saat mengisi liburan saya mengantar-jemput dia ke tempat magangnya karena saya ingin memegang tangannya selalu, saya memikirkan dia setiap malam, rutin saya lakukan setiap hari, sehingga dia meminta untuk tidak menjemput dia karena takut merepotkan, nah pada saat itulah saya tidak pernah antar-jemput dia sampai sebulan.
Nggak tau kenapa perasaan saya perlahan mulai hilang, saya mulai ingat sama Allah, saya jadi sadar kalau apa yang saya lakukan itu salah, saya putusin dia dan saya minta maaf ke dia kalau selama ini saya sudah bertindak berlebihan sama dia, tapi tidak apa-apa karena peristiwa itu saya jadi mengerti kenapa orangtua saya melarang pacaran sebelum lulus sekolah.
Kawan-kawan Allah tidak menyebutkan adanya pacaran dalam al-quran, Pacaran terjadi karena adanya bisikan syetan, jika kalian berfikir bahwa adanya pacaran islami? Itu artinya kamu sudah ditipu sama syetan, tidak ada pacaran yang islami, pacaran menuju kepada kemaksiatan. Maka jauhilah sekarang juga karena azab Allah sangat pedih. Saya harap pembaca mengambil pelajaran dari pengalaman saya ini, karena pengalaman yang berharga dan gratis adalah pengalaman yang kita lihat dari orang lain.
Wassalamu’alaikum
Cerpen Karangan: Dicky Wahyudi
Facebook: facebook.com/dicky.wahyudi.9275439
Nama saya Diki Wahyudi
Lahir: Bekasi, 23 Agustus 1999
Saya tinggal di Bekasi, rawa banteng kecamatan Cibitung, cibuntu
Sekolah di SMK mitra bakti
Cerita Pacaran Membuatku Lupa Segalanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 50

Cowok Misterius Di Kereta Api

Judul Cerpen Cowok Misterius Di Kereta Api
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Keseharian, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Baru kali ini aku naik kereta api di umurku yang sudah beranjak tujuh belas tahun. Aku memang anak rumahan yang jarang pergi kemana-mana. Kali ini pun aku terpaksa naik kereta api. Aku sedang dalam kereta ekonomi menuju Pekalongan. Kereta ini sungguh ramai, karena bertepatan juga dengan para pemudik. Jadilah aku berdiri. Aku berdiri tepat di pinggir perbatasan gerbong. Di sebelahku ada pintu pembatas gerbong yang bergerak-gerak karena guncangan kereta. Aku menikmati saja perjalanan ini.
Di salah satu stasiun kereta, beberapa penumpang naik. Masuklah sosok yang menarik perhatianku saat pintu gerbong yang berjarak kira-kira lima meter dibuka. Pandanganku tersangkut pada cowok sepantaranku. Cowok terperfect yang pernah aku lihat, menurutku. Tampan dan berpostur keren. Rambut yang agak kriting entah diberi apa yang membuatnya semakin mempesona, matanya tajam menghanyutkan, dinaungi alis yang berbentuk tebal, kulit putih, dengan hidung mancung sedangnya, badannya tinggi tegap dilapisi t-shirt hitam dengan kemeja kotak berwarna merah sebagai luarannya. Aku tak tahu apa ini love at the first sight atau hanya sekedar mengagumi. Tapi aku tidak terlalu percaya pada cinta pandangan pertama dan seketika percaya saat dia tersenyum manis padaku.
Baru kali ini aku mengalami suasana sedramatis itu. Seolah ini adalah adegan film yang telah diatur rapi skenarionya. Langkah cowok itu berderap slow motion dalam duniaku, menggetarkan seluruh jantungku. Fokus kamera mataku telah diarahkan pada sosok yang lebih berkilau dari yang lainnya. Sekilas goncangan kereta mengubah konsentrasiku, aku sesali goncangan tadi karena sosok pemuda incaranku pun lenyap ke gerbong sebelah. Aku jadi sedih mengingat akankah momen indah itu bakal terulang lagi atau tidak dan bertemu lagi dengan “si keren” entah itu siapa namanya aku tak tahu. Cowok tadi sempat menatapku dan tersenyum manis dengan senyuman yang membuatku rela menahan napas dan berkedip.
Aku mencoba menengok gerbong sebelah lewat kaca tepat di sampingku. Cowok itu segera mengalihkan pandangannya setelah sadar aku lirik. Tiba-tiba datang seorang pria bebadan besar yang menghalangi pandanganku. “si keren” itu menghilang lagi. Mataku terus mencari sosoknya dalam suasana riuhnya kereta api itu. Entah dari mana dia berjalan cowok itu tepat berada di sebelahku. Lagu aku jatuh cinta, roulette mengalun lembut di hatiku. Semua di sekelilingku jadi serasa romantis. Aku ragu pada perasaanku. Ah, mungkin ini tidak akan bertahan lama, ketertarikan yang akan hilang dalam hitungan hari atau jam. Tetapi berdiri di sebelahnya membuatku tersenyum lepas, seolah dialah “Mr. Right” untukku.
Goncangan kereta melemahkan keseimbanganku. Hampir saja wajahku mencium lantai kalau tidak ditolong oleh tangan jangkung yang menahan perutku. Aku berdiri mendongak dan melihat pangeranku berdiri satu jengkal di hadapanku dan tersenyum lembut ke arahku. Jantungku seakan siap meledak, aliran darahku semakin cepat saat dia menyentuhku. “Terimakasih” kataku. Senyuman malaikat terlihat jelas di hadapanku, bahkan lebih dekat. Aroma tubuhnya yang menyenangkan membuat otakku tidak bisa berpikir jernih. Aku rela berada di dekapannya selamanya. “You’re welcome” balasnya dengan sedikit mengangguk. Kurasa aku tidak akan bisa melupakan suara ngebassnya itu, saat dia berkata lagi, “maaf jamku tersangkut”. Oh, ternyata jam tangan yang dia pakai tersangkut di sela benang kerudungku. Jantungku benar-benar meledak sekarang. Tubuhku bergetar kencang. Aku berdiri tersipu di dekatnya.
Tak begitu lama, Rasa bahagia itu sirna ketika stasiun tujuannku di depan mata. Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku turun kereta. Aku merasa sedih karena dia tidak juga turun bersamaku, mungkin dia turun di stasiun selanjutnya. Aku juga merasa menyesal tidak menanyakan namanya. Yang pasti saat aku akan turun dia kembali tersenyum padaku. Lagu Vierratale, “seandainya” mengalun lembut di hati.
Cerpen Karangan: Ressa Permata
Blog: sajaktanpasejak.blogsot.com
dibalik perempuan yang gemar bersenandung sajak tentang sepi
Cerita Cowok Misterius Di Kereta Api merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 49

Good Bye Mr. A (Angga Dirgadinata)

Judul Cerpen Good Bye Mr. A (Angga Dirgadinata)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
July, 2016
Rain POV
Wajah itu sudah tak mampu kulihat. Mata itu sudah tak mampu lagi kutatap. Senyumannya hilang sirna bersama kepergiannya. Namanya sungguh indah di mataku. Wajahnya yang menurut sebagian orang biasa-biasa saja, namun bagiku hampir mendekati kata ‘Sempurna’.
Flashback
April, 2016
Namaku Raina Rainata dan yang sidang kuperhatikan adalah pria tampan bernama Angga Dirgadinata. Nama yang sejak 3 tahun ini selalu kuperhatikan, aku ikuti apapun kegiatannya. Seorang cowok dengan siluet wajah yang sangat mempesona bak seorang model catwalk. Dengan rambutnya yang keren, alis mata tebal, bulu mata nan lentik, tatapan mata yang begitu terang menunjukkan keseriusannya, senyuman di bibirnya yang selalu saja ia perlihatkan ketika berbicara dengan siapapun. Sungguh memesona.
Ia bercanda dengan teman temannya. Aku hanya memperhatikannya dari jarak yang terlampau jauh. Sejak pertama masuk SMA ini aku hanya tertarik padanya. Banyak laki-laki yang kutolak, karena hanya ‘dia’ yang kuharapkan.
“lihat deh rain. dia lihat kesini” keysha teman sekelasku, tampaknya mengetahui bahwa sejak dari kelas tadi aku memperhatikan Angga.
“hmm udah deh. bukannya lo mau ke toilet? ceperan ayo” Aku yang sudah tahu Angga melihatku yang sedang memperhatikannya, salah tingkah dan lekas menarik baju Keysha menuju toilet.
Aku ketahuan ‘lagi’
11 April 2016
Hari ini Angga berulang tahun yang ke-17. Pagi ini sekolah sontak ramai dengan desas-desus mengenai Angga yang berulang tahun, maklum ia adalah salah satu bintang sekolah. aku juga tak mau kalah dengan mereka, dengan kado yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari dan secuil keberanian aku akan menemuinya ‘mungkin’, maklum saja aku bahkan tak pernah bicara dengannya melebihi 1 paragraf walau kami satu kelas lintas minat sejak kelas 1.
Dadaku terus saja berdebar ketika ingin melihatnya apalagi menemuinya, mengatakan Happy Birthday atau sekedat HBD Angga. Malu rasanya, karena memang sejak kelas 1 kami sama sekali tidak dekat. Bahkan dia tidak tahu siapa namaku. Miris.
Aku berdiri di depan pintu kelas. Aku melihat teman-teman sibuk duduk berkelompok membahas berita berita hot di sekolah.
“Rain. lo tau nggak si Angga itu dikasih surprise tadi sama ceweknya sumpah nggak boong mereka sweet banget” Aku kaget dengan apa yang dikatakan Della. Cewek? dia punya pacar? Siapa? kok gak tau?.
“Iyalah guys Mutia bilang tadi. kan ceweknya anak kelasnya juga. dinyanyiin, dikasi kue, keren lah pokoknya” Putri menambahkan.
Aku yang cuma diam menanggapi apa yang mereka bicarakan. Pikiranku berpikir keras siapa perempuan beruntung yang meluluhkan hati Angga? sejak kapan mereka pecaran? kok gue gak tau? kenapa jadi gini?. Argh..
Sepulang sekolah. Rain sengaja menunggu semua siswa pulang. Ia harus menemui Angga dan mengatakan perasaannya. Harus. entah apa yang dikatakan orang-orang nanti jika tahu seorang siswa biasa menyatakan perasaannya terhadap bintang sekolah.
“Angga tunggu ada yang mau gue omongin sama lu” tanganku bergetar ketika aku memanggilnya. Bodoh aku gugup. Dia berbalik, menatapku dan menyinggungkan senyum manisnya.
Deg. Senyumnya manis banget teriak batinku. Aku yakin saat ini pipiku sudah memerah seperti tomat masak atau sama dengan merahnya traffic light. Malu. Dasar Rain. Aku mencoba menutupi degupan jantungnya, tidak lucu kan kalau Angga mendengarnya.
“lo mau ngomong apa?” Angga memang terkenal dengan sikap ramah dan lembutnya. Wajar banyak perempuan yang menggila karenanya.
“Happy birthday Angga” Aku langsung berbalik setelah selesai mengucapkan 3 kata itu. Aku tak tau apa yang akan dilakukan Angga dibaliknya. Aku hanya mengatur degupan jantungku. Sungguh saat ini jantung ini seperti ingin keluar dan meledak.
“thanks. gue duluan” Angga yang di belakang sana melangkahkan kakinya pergi.
“Angga… tunggu” Rain berbalik dan berlari mengejar Angga.
CUP
Aku mengecupnya, tepat di bibir tipis miliknya, membuatnya terdiam dengan mata yang membulat kaget dengan apa yang aku lakukan. Aku merasa aneh, aku menciumnya, tapi mengapa ia tak memberontak sama sekali, hanya diam dan tak bergerak sama sekali. tidak membalas tapi aku yakin dia menikmatinya.
Angga POV
Aku kaget saat sesuatu lembut dan basah menyentuh atau bisa dikatakan mengecup bibirku. Aku yang terlalu kaget dengan apa yang sedang dilakukannya, hanya diam menerimanya. tidak menolak dan tidak membalas. Satu hal yang aku sadari, ada perasaan yang bergelonjak di dalam dadaku saat ia mencium bibirku.
Aku mengenalnya. Raina Rainata namanya, gadis yang selama ini kuketahui selalu memgikuti bak seorang ‘secret admire’, melihatku dari jauh, selalu memperhatikanku, dan aku juga tau bahwa ia menyukaiku. Aku sering memergokinya yang tengah memperhatikanku, lalu bersikap seolah-olah dia tidak melihatku. lucu menurutku, aku yang tau bahwa dia menyukaiku hanya bersikap pura-pura tidak tahu sama sekali.
Juny, 2016
Libur panjang akhir semester dan lebaran telah tiba. Setelah menjalani ujian yang sangat memuakkan akhirnya penderitan seluruh siswa akan berakhir dengan bahagia karena mendapatkan nilai rapor yang sangat bagus.
Raina POV
Semanjak hari itu aku tak pernah lagi menemuinya, berhenti mengikutinya, tidak lagi memperhatikannya dari jauh dan tidak mau membicarakan apapun mengenai laki-laki itu. aku berhenti menggaguminya, rasanya terlalu murahan bagiku menemuinya setelah kejadian dihari ulang tahunnya itu.
Angga POV
Raina seolah pergi menghilang dibawa angin. Aku sudah tak pernah mempergokinya tengah memperhatikanku lagi sejak hari itu. Dia menjauh dan entah bagaimana aku merasakan bahwa aku kangen dengan dia yang dulu memperhatikanku dari jauh. memperhatikan bagaimana gerak-gerikku, mengetahui semua jadwal kegiatanku walau aku dan dia tidak pernah berbicara lebih dari satu atau dua kalimat.
Selama libur aku sibuk mengurus kepindahanku. Aku akan mengikuti Ayah dan Ibuku pindah tugas keluar kota. Mulai dari surat pendah sekolah dan mengemasi barang barangku yang lain. Ingin sebenarnya tetap disini untuk menyelesaikan sekolahku, mengingat tahun depan aku sudah akan menamatkan masa SMA-ku.
Sebenarnya ada satu hal lagi yang menganjal di hatiku. Perasaanku yang sudah tak mampu kukendalikan, rasa rindu dan kangen selalu menguak di hatiku. Perasaan lebih dari rasa seorang kawan kepada teman perempuannya. Perasaan ‘Aku Menyukaimu Raina Rainata’ yang masih kusimpan dan tak mampu aku ucapkan langsung padanya, karena pasalnya ia yang selalu saja menjauh ketika aku melihatnya melewati kelasku tiap pagi, istirahat, atapun pulang. Seolah takdir dibalikkan oleh tuhan, ia yang dulu mengejarku kini berbalik aku yang mengejarnya.
Aku menunggu Rain di taman ini. Aku akan menemuinya dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Aku tadi menghubunginya setelah bersusah payah mendapatkan Id Linenya dari ‘hampir’ seluruh teman sekelasnya.
“Hai ada apa lo ngajakin gue?” Rain baru saja datang dan melambaikan tangannya bertanda mengucapkan salam ‘Hai’.
“Apa setelah lo ngambil milik gue waktu itu lo gak punya rasa bersalah?” Aku menatapnya cuek. Sebenarnya itu hanya akal-akalanku saja agar dia minta maaf dan memelukku seperti kebanyakkan film-film romantis.
Rain menggigit bibir bawahnya.
“Ak.. aku minta maaf soal waktu itu” Ia menundukkan wajahnya melihat tanah. Aku tahu ia berusaha menutupi kegelisahan dan berusaha mengendalikan agar tingkah bodohnya tidak aka keluar disaat-saat seperti ini, mengingat dulu ia selalu saja kepergok bertingkah bodoh saat berhadapan atau sekedar berpapasaan saat di kantin.
“Lupain gue juga udah nggak mikirin itu” Aku lihat dia sudah mulai bersikap biasa.
“Rain.. boleh gue ngomong sesuatu sama lo?” Bodoh kenapa aku harus bertanya hal-hal tidak penting.
“lo lucu ya boleh lah” Timpalnya terkekeh.
Aku mendekatkan diriku tepat di depan wajahnya. Sedikit menunduk untuk memandang wajahnya, memiringkan wajahku agar dapat merasakan kembali kecupan manis darinya dan kedua tanganku terangkat menggulung tengkuknya.
“Aku Menyukaimu Raina Rainata”
CUP
Rain tergelonjak kaget, saat sesuatu yang lengket mengenai bibir tipisnya dengan lembut. Aku memberikan satu kecupan manis di bibir indah milik Rain. Ia hanya diam tidak bergerak untuk memberontak ataupun untuk membalas. Aku tahu ia kini Pasti tengah sibuk menentralkan detakan jantungnya, aku merasakannya.
Aku menjauhkan wajahku dari wajahnya, dan melihatnya yang terdiam masih tidak mampu mengatakan apapun. Aku yakin ia sangat kaget dengan apa yang aku katakan dan aku lakukan tadi. Mungkin kini ia merasa ini adalah mimpi atau masih tidak percaya bahwa aku juga menyukainya, walau aku belum mendengar langsung dari bibirnya bahwa ia menyukaiku.
“Ma..aaf… gue mungkin lagi mimpi. gue duluan” Ia berucap gugup dan langsung pergi tanpa membuat akhir untuk hubungan ini. Aku tidak bisa menahanya, karena itu percuma.
Rain POV
Plashback Off
July, 2016
Aku bodoh. Aku tolol. Dan terlalu pengecut untuk mengatakan hal yang sejak 3 tahun aku pendam sendiri ‘Aku menyukaimu Angga’. Dan satu lagi tanpa aku sadari hari itu adalah benar, hari dimana aku mendapatkan kecupan lembut dari Angga, saat ia mengatakan bahwa ia juga menyukaiku. Bodoh. Sangat bodoh.
Sekarang inilah aku. Aku kehilangannya. Dia pergi meninggalkanku. Dia tidak datang kenbali ke sekolah saat libur telah berakhir Dia tidak lagi menemuiku dan tidak juga menghubungiku untuk sekedar mengatakan salam perpisahan. Sedih memang ketika tahu alasan dia tidak datang lagi adalah karena ia pindah sekolah ke luar kota mengikuti orangtuanya, tapi kalimat ‘Setiap Pertemuan Pasti Ada Perpisahan’.
“Udah dong Rain, lebay lo baru juga dia pindah, bukan nikah. nggak usah dipikirin banget. entar kalo lo jodoh sama dia juga nggak bakalan kemana kali” Keysha sahabatku selalu saja menyemagatiku untuk tidak terlalu mengingatnya sejak ia pindah.
“Thanksnya Key. lo emang sahabat gue” Aku sedikit memluknya.
“Jijik Rain” Aku melepas pelukannya dan kemudian tertawa.
Tak lama Pak Septa masuk dengan mengandeng seseorang laki-laki yang membuat para siswi-siswi di kelas berbisik ‘ganteng banget’ ‘sumpah, gila dia ganteng’ dan lain lain. Sepertinya dia murid baru, terlihat seragamannya yang berbeda dengan yang aku kenakan.
“Halo nama gue Refan Valero. semoga bisa berteman baik”
Aku tersenyum ke arahnya.
‘Saat seseorang yang berharga pergi meninggakan kita, maka akan seseorang yang baru seolah-olah ialah penggantinya’
‘Good Bye Angga Dirgantara. Welcome Refan Valero’
Cerpen Karangan: Elyna Syafitri
Facebook: elynasyafitri
Cerita Good Bye Mr. A (Angga Dirgadinata) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 48

Pertemuan Dan Perpisahan

Judul Cerpen Pertemuan Dan Perpisahan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Pagi itu udara sangat dingin diiringi suara rintik hujan masih tedengar di luar kamar Firgi. Dengan malasnya Firgi tak ingin bangun dari tidurnya yang nyenyak ditambah dengan mimpi indah yang dialaminya semalam. Dalam mipinya itu ia akan bertemu dengan seorang cowok yang berpenampilan seperti anak kuliahan. Sosoknya yang sempurna, senyumnya yang manis terurai saat ia menyunggingkan bibir tipisnya. Dibalik matanya yang agak sedikit sayu tersimpan akhlak yang terpuji di dalamnya. Siapakah dia? Firgi selalu memikirkan sosok cowok yang ia mimpikan di dalam tidurnya. Membuat Firgi tak ingin bangun dari tidurnya agar ia bisa selalu bisa menatap wajah manis cowok itu. Firgi berharap mimipinya akan menjadi kenyataan besok, lusa atau dihari-hari ia akan bertemu dengan cowok itu yang akan menjadi nyata.
Firgi berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya. Tiba di sekolah Firgi dibuat heran dengan spanduk yang ditempel di dinding luar kelasnya yang lama alias kelas X ipa 2. Kelas itu akan Firgi tinggalkan bersama dengan teman-temannya karena mereka akan pindah ke kelas XI ipa 2. Diujung kelas Firgi menemui sohibnya yang lagi nongkrong bersama.
“hai…” sapa Firgi dengan senyum pepsodentnya.
“hai juga…” balas Aurel salah satu di antara sohibnya Firgi.
“spanduk apa sih yang dinding kelas lama kita?” tanya Firgi pada sohibnya.
“hah? Spanduk? Spanduk apaan sih?”
“itu… aduh susah deh menjelaskannya kalau nggak lihat sendiri” kata Firgi hilang akal.
“Firly, Tesa, Farah, kita lihat yuk spanduk yang dimaksud Firgi”. Ajak Aurel dengan semangat karena ia sudah tak sabar ingin melihatnya.
“yuk, gue jadi penasaran juga nih!” jawab Firly antusias.
“iiih ngapain kesana sih, kita disini aja, gue nggak mau ikut sama kalian ahh!” jawab Tesa yang selalu tidak mau tahu dengan sesuatu yang beru.
“Tesa! Lo gimana sih! Ayo dong ah!” kata farah sambil menarik tangan Tesa.
Firgi dan sohibnya tiba di depan spanduk itu dan serentak mendongakkan kepala mereka untuk mengetahui informasi yang ada pada spanduk yang dimaksud Firgi tersebut. Setelah lama membacanya ada yang mangut-manggut tanda memahami maksud spanduk itu, dan juga yang acuh tak acuh.
“wah… jurusan kita bakalan ada seminar nih” kata Firly kesenangan.
“aduuuh… seminar apaan sih? Gue nggak suka seminar ah!” jawab Firgi sambil memalingkan wajahnya karena ia tak pernah suka dengan namanya seminar atau apalah itu.
“kalian lihat deh siapa narasumbernya? Wahhh ganteng banget” puju Firly.
“firly, lo kebiasaan banget ya kalau udah lihat yang ganteng, dasar lu, kecentilan!” ejek Aurel pada firly.
“Ih… biasa aja keleszz, kapan ya caranya dimulai, gue pengen ketemu sama narasumber gantengnya”. Kata Firly kegirangan.
“eh Fir, lo nggak punya mata apa? Tuh tanggal 18-20 mei!” kata Aurel sambil menunjuk tanggal yang tertera pada spanduk.
“oh iya, hah berarti mulai hari ini juga dong? Aduh mimpi apa ya gue semalam!” lanjut Firly semakin bertambah kegirangan.
“lo lebay banget sih fir” tangkas Firgi menunjukkan rasa tidak suka pada sifat Firly yang selalu kecentilan.
Mimpi… kata mimpi itu terngiang di telinga Firgi akan mimpi indah yang ia lalui tadi malam. “ahhh? Jangan jangan mimpi gue jadi kenyataan? Aduh gue nggak lagi mimpi lagi ya sekarang?” tanya Firly sendiri pada batinnya. Jika itu memang benar betapa bahagianya Firgi mimpinya kali ini akan menjadi nyata.
Semua jurusan ipa dikumpulkan oleh ketua jurusan di sebuah labor ipa yang lumayan cukup besar. Ternyata hal yang diduga Firgi menjadi kenyataan. Cowok yang ia mimpikan ternyata sekarang ada di depan matanya. Sewaktu acara seminar mata irgi hanya tertuju pada narasuber ganteng itu yang bernama Franda. Saaat ia menjelaskan bahan ajaran wajahnya, senyumnya, tak luput dari pandangan irgi.
“oke adik-adik semua ada yang ingin bertanya?” tanya Franda memanggil adik pada siswa kelas dua sma karena unurnya hanya selisih 5 tahun.
“tidak” jawab semua serempak, tak terkecuali Firgi yang selalu memerhatikan Franda tak mengeluarkan kata sepatah pun untuk menjawab pertanyaan franda.
“hallo dek?” kata Franda membangunkan Firgi dari lamunannya.
Firgi tersentak kaget dan ia dibuat linglung.
“eh kak, ya kak ganteng” jawab Firgi asal-asalan saja.
Franda tersenyum simpul mendengar ucapan Firgi yang keluar memuji dirinya.
“cie cie…” sorak anak-anak yang lain.
Firgi dibuat malu di depan Franda dan air mukanya memerah.
Sejak kejadian itu selama tiga hari berlangsungnya seminar Firgi dan Franda semakin dekat. Firgi selalu bertanya pada Franda tentang hal yang ia tidak ketahui, dan franda juga dengan senang hati selalu menjawab pertanyaan Firgi dengan jelas. Kedekatan itu membuat Firgi semakin jatuh hati pada Franda namun ia tak tahu apakah Franda akan merasakan hal yang sama seperti yang Firgi rasakan. Semua berjalan sesuai takdir yang Allah berikan.
Hari ini hari terakhir seminar, berarti Franda akan pergi untuk melanjutkan kuliahnya yang sudah mencapai semester enam. Hati Firgi begitu berat melepas kepergian Franda orang yang ia sayangi. Sebelum berpisah firgi sempat berfoto dengan Franda sebagai kenang-kenangan. Firgi tidak tahu apakah ia akan bisa bertemu franda lagi atau bukan. Bagi Firgi, sosok Franda tekah mengajarkan Firgi banyak hal dalam pelajaran ipa. Firgi berjanji ia akan rajin belajar supaya nanti setelah tamat Firgi akan menyusul Franda untuk kuliah bersama kalau takdir menakdirkan mereka untuk bertemu kembali. Biarlah rasa cinta dan sayang yang Firgi pendam ini suatu saat ia akan mengungkapkan perasaannya yang sejujurnya. Dan Firgi berharap Franda juga akan memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dibalik itu juga ada rasa menyesal menyelinap di hati Firgi kenapa tidak dari awal bertemu dengan Franda ia langsung nyatakan saja perasannya. Firgi menjadi dilema.
Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri
Cerita Pertemuan Dan Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 47

Pertemuan Dan Perpisahan

Judul Cerpen Pertemuan Dan Perpisahan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Pagi itu udara sangat dingin diiringi suara rintik hujan masih tedengar di luar kamar Firgi. Dengan malasnya Firgi tak ingin bangun dari tidurnya yang nyenyak ditambah dengan mimpi indah yang dialaminya semalam. Dalam mipinya itu ia akan bertemu dengan seorang cowok yang berpenampilan seperti anak kuliahan. Sosoknya yang sempurna, senyumnya yang manis terurai saat ia menyunggingkan bibir tipisnya. Dibalik matanya yang agak sedikit sayu tersimpan akhlak yang terpuji di dalamnya. Siapakah dia? Firgi selalu memikirkan sosok cowok yang ia mimpikan di dalam tidurnya. Membuat Firgi tak ingin bangun dari tidurnya agar ia bisa selalu bisa menatap wajah manis cowok itu. Firgi berharap mimipinya akan menjadi kenyataan besok, lusa atau dihari-hari ia akan bertemu dengan cowok itu yang akan menjadi nyata.
Firgi berangkat sekolah dengan diantar oleh ayahnya. Tiba di sekolah Firgi dibuat heran dengan spanduk yang ditempel di dinding luar kelasnya yang lama alias kelas X ipa 2. Kelas itu akan Firgi tinggalkan bersama dengan teman-temannya karena mereka akan pindah ke kelas XI ipa 2. Diujung kelas Firgi menemui sohibnya yang lagi nongkrong bersama.
“hai…” sapa Firgi dengan senyum pepsodentnya.
“hai juga…” balas Aurel salah satu di antara sohibnya Firgi.
“spanduk apa sih yang dinding kelas lama kita?” tanya Firgi pada sohibnya.
“hah? Spanduk? Spanduk apaan sih?”
“itu… aduh susah deh menjelaskannya kalau nggak lihat sendiri” kata Firgi hilang akal.
“Firly, Tesa, Farah, kita lihat yuk spanduk yang dimaksud Firgi”. Ajak Aurel dengan semangat karena ia sudah tak sabar ingin melihatnya.
“yuk, gue jadi penasaran juga nih!” jawab Firly antusias.
“iiih ngapain kesana sih, kita disini aja, gue nggak mau ikut sama kalian ahh!” jawab Tesa yang selalu tidak mau tahu dengan sesuatu yang beru.
“Tesa! Lo gimana sih! Ayo dong ah!” kata farah sambil menarik tangan Tesa.
Firgi dan sohibnya tiba di depan spanduk itu dan serentak mendongakkan kepala mereka untuk mengetahui informasi yang ada pada spanduk yang dimaksud Firgi tersebut. Setelah lama membacanya ada yang mangut-manggut tanda memahami maksud spanduk itu, dan juga yang acuh tak acuh.
“wah… jurusan kita bakalan ada seminar nih” kata Firly kesenangan.
“aduuuh… seminar apaan sih? Gue nggak suka seminar ah!” jawab Firgi sambil memalingkan wajahnya karena ia tak pernah suka dengan namanya seminar atau apalah itu.
“kalian lihat deh siapa narasumbernya? Wahhh ganteng banget” puju Firly.
“firly, lo kebiasaan banget ya kalau udah lihat yang ganteng, dasar lu, kecentilan!” ejek Aurel pada firly.
“Ih… biasa aja keleszz, kapan ya caranya dimulai, gue pengen ketemu sama narasumber gantengnya”. Kata Firly kegirangan.
“eh Fir, lo nggak punya mata apa? Tuh tanggal 18-20 mei!” kata Aurel sambil menunjuk tanggal yang tertera pada spanduk.
“oh iya, hah berarti mulai hari ini juga dong? Aduh mimpi apa ya gue semalam!” lanjut Firly semakin bertambah kegirangan.
“lo lebay banget sih fir” tangkas Firgi menunjukkan rasa tidak suka pada sifat Firly yang selalu kecentilan.
Mimpi… kata mimpi itu terngiang di telinga Firgi akan mimpi indah yang ia lalui tadi malam. “ahhh? Jangan jangan mimpi gue jadi kenyataan? Aduh gue nggak lagi mimpi lagi ya sekarang?” tanya Firly sendiri pada batinnya. Jika itu memang benar betapa bahagianya Firgi mimpinya kali ini akan menjadi nyata.
Semua jurusan ipa dikumpulkan oleh ketua jurusan di sebuah labor ipa yang lumayan cukup besar. Ternyata hal yang diduga Firgi menjadi kenyataan. Cowok yang ia mimpikan ternyata sekarang ada di depan matanya. Sewaktu acara seminar mata irgi hanya tertuju pada narasuber ganteng itu yang bernama Franda. Saaat ia menjelaskan bahan ajaran wajahnya, senyumnya, tak luput dari pandangan irgi.
“oke adik-adik semua ada yang ingin bertanya?” tanya Franda memanggil adik pada siswa kelas dua sma karena unurnya hanya selisih 5 tahun.
“tidak” jawab semua serempak, tak terkecuali Firgi yang selalu memerhatikan Franda tak mengeluarkan kata sepatah pun untuk menjawab pertanyaan franda.
“hallo dek?” kata Franda membangunkan Firgi dari lamunannya.
Firgi tersentak kaget dan ia dibuat linglung.
“eh kak, ya kak ganteng” jawab Firgi asal-asalan saja.
Franda tersenyum simpul mendengar ucapan Firgi yang keluar memuji dirinya.
“cie cie…” sorak anak-anak yang lain.
Firgi dibuat malu di depan Franda dan air mukanya memerah.
Sejak kejadian itu selama tiga hari berlangsungnya seminar Firgi dan Franda semakin dekat. Firgi selalu bertanya pada Franda tentang hal yang ia tidak ketahui, dan franda juga dengan senang hati selalu menjawab pertanyaan Firgi dengan jelas. Kedekatan itu membuat Firgi semakin jatuh hati pada Franda namun ia tak tahu apakah Franda akan merasakan hal yang sama seperti yang Firgi rasakan. Semua berjalan sesuai takdir yang Allah berikan.
Hari ini hari terakhir seminar, berarti Franda akan pergi untuk melanjutkan kuliahnya yang sudah mencapai semester enam. Hati Firgi begitu berat melepas kepergian Franda orang yang ia sayangi. Sebelum berpisah firgi sempat berfoto dengan Franda sebagai kenang-kenangan. Firgi tidak tahu apakah ia akan bisa bertemu franda lagi atau bukan. Bagi Firgi, sosok Franda tekah mengajarkan Firgi banyak hal dalam pelajaran ipa. Firgi berjanji ia akan rajin belajar supaya nanti setelah tamat Firgi akan menyusul Franda untuk kuliah bersama kalau takdir menakdirkan mereka untuk bertemu kembali. Biarlah rasa cinta dan sayang yang Firgi pendam ini suatu saat ia akan mengungkapkan perasaannya yang sejujurnya. Dan Firgi berharap Franda juga akan memiliki perasaan yang sama sepertinya. Dibalik itu juga ada rasa menyesal menyelinap di hati Firgi kenapa tidak dari awal bertemu dengan Franda ia langsung nyatakan saja perasannya. Firgi menjadi dilema.
Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri
Cerita Pertemuan Dan Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 46

Mengalun

Judul Cerpen Mengalun
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Tap… tap…
1… 2… 3… tap… tap… 1… 2… 3… 4… angkat tangan kanan. Turunkan. Seblak. 1… 2… tap… tap…
Semua gerakan itu terlihat sempurna di mataku, benar-benar menyatu dengan alunan musik yang ada. Selama beberapa saat aku terpana, sampai tiba-tiba ibu berhenti. Beliau menyadari kehadiranku dan berbalik, lalu tersenyum.
“Belum tidur, Din?”, beliau mematikan tapenya dan berjalan menghampiriku.
Aku menggeleng. “Belum, Bu”, jawabku singkat. Ibu melihat gelas kosong yang ada di tanganku, lalu tertunduk. “Sudah larut, Bu. Istirahat saja. Gerakan ibu sudah bagus kok,” lanjutku.
Sekarang ibu yang menggeleng.
“Ibu masih harus latihan, biar lebih luwes. Maklum, ibu kan sudah tua… badan ibu sudah kaku. Coba kalau Dinda, pasti bisa lebih bagus,” Ibu baru akan meletakkan tangan di pundakku, tapi aku menghindar.
“Dinda mau tidur, Bu,” Aku berpaling dan meninggalkan ibuku. Seharusnya ibu tidak mengatakan kalimat itu karena beliau sudah tahu aturannya. Aku tidak menari. Tidak lagi.
Aku masuk kamar dan menutup pintu di belakangku. Mataku berkaca-kaca, hal yang selalu terjadi ketika aku tahu aku telah menyakiti hati ibuku. Aku membanting diriku di atas kasur dan tidur telentang, menatap langit-langit kamar. Dengan kasar aku mengusap air mataku yang mulai mengalir. Aku tidak menari lagi, bisikku pada diriku sendiri. Aku sudah berhenti.
Dulu, waktu aku masih kecil dan belum bisa memutuskan mau jadi apa, aku menari. Aku melakukannya karena ibu adalah seorang penari. Dan aku menikmatinya. Aku memenangkan banyak kejuaraan tari, baik tunggal maupun berkelompok. Hal itu membuat ibuku sangat bangga. Beliau mengatakan kalau aku berbakat alam, bahwa aku memang terlahir untuk menari. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kecintaanku pada seni tari memudar. Perlahan tapi pasti, aku mulai tidak menyukainya. Aku mulai menganggapnya kuno, jadul, dan mulai mempertanyakan alasanku menari. Puncaknya adalah saat aku kelas 2 SMP, aku berdebat dengan ibuku, membuat beliau murka sampai menamparku. Sakit hati, saat itu juga aku memutuskan untuk berhenti menari.
Sejak saat itu, hubunganku dengan ibu menjadi kaku. Aku tahu beliau menyesal telah menamparku, dan beliau juga sudah meminta maaf. Tapi aku tidak ingin menari kembali. Aku selalu menghindar bila ibu mulai menunjukkan gelagat ingin mengajakku menari. Meskipun begitu, sebenarnya aku tidak benar-benar membenci seni tari. Pada kenyataannya, aku masih senang melihat ibu menari. Di mataku, gerakan ibu benar-benar indah dan gemulai, selalu menyatu sempurna dengan alunan musik yang ada. Mengalun, begitu aku menyebutnya, meskipun aku tahu itu bukan istilah yang tepat.
Aku terbangun jam 05.30 pagi, tapi segera tertidur lagi begitu ingat kalau hari ini aku tidak akan pergi ke sekolah. Aku sudah izin kemarin. Hari ini aku dan ibuku akan terbang ke Belanda. Alasan beliau berlatih sampai larut malam kemarin adalah karena beliau diminta untuk mengisi acara di peringatan kerja sama bilateral Indonesia-Belanda, yang akan dilaksanakan di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di kota Amsterdam. Hal itu tentu sangat membanggakan, karena di Indonesia sendiri ibuku tidak begitu terkenal. Kebetulan koordinator acara tersebut adalah Mas Adit, tetanggaku waktu masih tinggal di Solo, yang sekarang kuliah S2 jurusan Bahasa Jawa di Universitas Leiden, Belanda. Menurutku Mas Adit baik sekali karena masih mengingat kami.
Aku dan ibuku berangkat dari Stasiun Gambir pukul 17.00 dan sampai di Bandara Soekarno Hatta pukul 17.30. Keberangkatan kami pukul 19.45, jadi selama menunggu, aku dan ibuku pergi ke restoran cepat saji untuk makan malam, walaupun nanti di pesawat juga akan ada makan malam. Pesawat kami tidak langsung menuju ke Belanda, maklum, belum ada penerbangan langsung Jakarta-Amsterdam, jadi kami harus ganti pesawat di Kuala-Lumpur, Malaysia. Perjalanan di udara memakan waktu kurang-lebih 14 jam. Aku tertidur pulas di pesawat, tapi ibu tidak. Beliau tidak begitu suka terbang. Aku jadi khawatir dengan kesehatan ibuku, bagaimana kalau beliau jatuh sakit di sana.
Karena waktu yang berbeda, kami tiba di Belanda pukul 05.45 pagi. Acaranya akan dilaksanakan malam hari, jadi masih ada waktu seharian penuh untuk istirahat. Mas Adit dan salah satu teman Belanda-nya menjemput kami di bandara, dan langsung mengantarkan kami ke hotel. Semua biaya akomodasi sudah ditanggung panitia, jadi kami tidak perlu khawatir. Ibuku yang mengalami jet lag langsung tertidur pulas, tapi aku yang sudah tidur 12 jam lebih, memutuskan untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana sejuk kota Amsterdam. Mas Adit sibuk, jadi dia tidak bisa menemaniku. Sebagai gantinya, dia meminta tolong pada teman Belanda-nya, Boudewijn Caspar, untuk menemaniku.
Karena nama depannya yang terlalu sulit untuk kuucapkan, aku memanggilnya Caspar. Dia cowok tinggi pucat berambut pirang yang mukanya cukup pasaran di Belanda, tapi kalau buat ukuran orang Indonesia, ya, ganteng lah. Sesuai dengan nama depannya yang berarti sopan dan ramah, Caspar sangat sopan dan ramah terhadapku. Untung saja dia mahir berbahasa Inggris, jadi kami dapat bercakap-cakap. Aku menghabiskan waktuku di pusat kota; berfoto dan makan. Hampir tiap jajanan aku coba, mumpung ada kesempatan. Karena terlalu sibuk bersenang-senang aku jadi lupa pada ibuku, sampai Mas Adit meneleponku.
“Din, ibumu masuk rumah sakit, beliau demam tinggi,”
“Apa?”
Selama beberapa saat aku tertegun, tidak percaya pada ucapan Mas Adit. Tapi akhirnya aku tersadar, dan dengan panik langsung pergi menuju ke rumah sakit.
Mas Adit sudah di sana, tampak lelah. Sekarang sudah pukul 15.30, persiapan acara seharusnya sudah matang dan gladi bersih harusnya sudah dilaksanakan juga, akan tetapi ibuku tak sadarkan diri. Mas Adit bilang petugas hotel menemukan ibu pingsan di depan pintu kamar mandi saat sang petugas sedang mengantarkan makan siang.
“Maaf, Din, ini salah Mas Adit, seharusnya keberangkatan kalian 2 hari yang lalu, biar ada waktu istirahat buat ibumu… ”
“Enggak kok Mas, biasanya ibu juga nggak apa-apa. Dinda yang salah Mas, seharusnya Dinda jagain ibu tadi,” ucapku penuh penyesalan. Seharusnya aku memang tidak bersenang-senang dahulu, karena aku tahu ibu tidak istirahat semalam, dan beliau juga mengalami jet lag. Sekarang, aku benar-benar merasa seperti anak durhaka. Tanpa sadar tangisku pecah melihat ibu terbaring pucat tak berdaya di ranjang rumah sakit. Mas Adit menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkanku, sementara Caspar hanya hanya dapat terdiam.
“So, how about the show? Bagaimana dengan pertunjukannya?”, akhirnya Caspar memecah keheningan yang ada.
“We have no choice but to cancel the traditional dance show. Kita tidak punya pilihan lain, pertunjukkan seni tarinya harus dibatalkan.” Kata Mas Adit dengan berat. Ia pasti sangat kecewa karena acara yang disusunnya dengan susah payah jadi kacau. Aku tak tega melihat wajahnya yang lelah itu kini tampak lebih memprihatinkan karena putus asa.
“Sebenarnya… Mas… Dinda mungkin bisa gantiin ibu.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku sebelum aku menyadarinya. Mungkin karena perasaan bersalah terhadap Ibu dan Mas Adit.
“Bener, Din?” tiba-tiba mata Mas Adit kembali bersinar, “… kamu beneran mau gantiin ibumu?”,
Semangat Mas Adit yang tiba-tiba menyala kembali membuatku takut. Aku hanya bisa meringis mengiakan.
“Oh iya, Mas Adit lupa, kamu kan pinter nari juga… dulu waktu kecil kamu sering juara, sekarang kamu pas lebih hebat!” Kalimat Mas Adit serasa mencambukku. Bagaimana kalau dia tahu sudah 3 tahun lebih aku tidak menari? Aku tidak berani membayangkannya. Mungkin lebih baik kalau dia tidak tahu.
“Kalo gitu, tolong Mas Adit, ya, Din. Soalnya acara ini penting banget buat Mas,” lanjutnya.
“Eh, iya Mas, tapi Dinda nggak sebagus itu kok, ibu Dinda jauh lebih bagus,” ujarku terbata-bata. Mati aku, batinku. Aku kan tidak pernah mempelajari tari yang akan ibu bawakan. Seharusnya aku berpikir dulu sebelum berucap. Bagaimana kalau acaranya malah jadi hancur?
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dari mulut? begitu terus-menerus. 5 menit lagi aku tampil, tapi aku belum bisa menghilangkan kegugupanku. Bagaimana tidak? berlatih saja tidak pernah. Aku telah mengenakan kostum dan full make up. Untung saja postur tubuhku dan postur ibu tak jauh beda, aku hanya harus mengecilkan bagian pinggangnya sedikit. Tapi, Ya Tuhan, aku tidak bisa menghilangkan perasan gugupku. Usahaku untuk mengingat gerakan yang biasa ibu lakukan sia-sia. Terlintas di benakku untuk kabur saja, tapi nanti bagaimana dengan Mas Adit? Dia telah begitu baik pada kami, aku tak bisa mengecewakannya.
Aku mengintip dari balik panggung, dan melihat wajah-wajah asing para tamu undangan yang tengah fokus mendengarkan pidato dari Duta Besar Indonesia. Tubuhku gemetaran hebat karena gugup dan panik, bajuku telah basah oleh keringat dingin. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Panggilan untukku tampil sudah disuarakan, tapi aku belum bisa bergerak. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku tersentak kaget.
“Semangat, ya! Gak usah gugup gitu, kamu pasti bisa kok!” Mas Adit tersenyum hangat menyemangatiku, begitu juga Caspar.
“Good luck, I know you can do it!”, ujarnya kalem.
Aku ingin menangis, seharusnya kukatakan saja pada mereka yang sebenarnya. Apakah sekarang sudah terlambat untuk itu? Sepertinya begitu, karena alunan gamelan sudah mulai terdengar. Aku sudah terlanjur basah, jadi sekalian saja mencebur. Masalah malu, itu urusan nanti, toh tak semua orang kenal tarian yang akan kubawakan, jadi tidak apa kalau salah satu-dua gerakan, atau dalam kasusku pasti akan lebih dari itu. Aku berbalik dan memejamkan mataku, berdoa. Sambil menggigit bibir bawah, kuambil langkah pertamaku. Cahaya yang menyilaukan menyambutku di atas panggung. Dengan percaya diri, aku lenggokkan tubuhku sesuai irama musik yang mengalun. Mengalun. Aku tersadar. Yang harus aku lakukan hanya mengalun.
Tap… tap…
1… 2… 3… tap… tap… 1… 2… 3… 4… angkat tangan kanan. Turunkan. Seblak. 1… 2… tap… tap…
Selama 7 menit penuh aku hanya mendengarkan musik dan membiarkan tubuhku bergerak sesuka hati. Aku menikmatinya, seperti dulu. Ternyata ini lebih mudah daripada yang kuduga. Tubuhku rupanya masih ingat bagaimana cara menari, bahkan dapat mempraktikkan gerakan yang hanya kulihat dari latihan ibu, hanya saja mungkin tidak seluwes itu. Para penonton terdiam, mungkin melihat keganjilan dalam gerakanku. Masa bodoh. Yang penting aku sudah tampil. Nanti aku akan meminta maaf pada Mas Adit dan mengatakan yang sebenarnya; bahwa aku telah lama berhenti menari. Sebagai permintaan maaf, mungkin aku akan mengembalikan upah menarinya. Ya, dengan begitu pasti beres.
Alunan gamelan berhenti, begitu pula tarianku. Aku tidak sanggup melihat penonton, jadi aku hanya memandangi lantai panggung. Aku menunduk sebentar untuk memberi hormat dan sebagai ucapan terima kasih karena telah menonton, saat keriuhan itu terdengar. Aku mendongak, dan melihat para hadirin berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Standing applause. Tidak percaya, aku menengok ke sisi panggung di mana Mas Adit dan Caspar tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Bagaimana mungkin aku lupa rasanya? Dulu aku sering mendapat sambutan meriah saat pertunjukkan tari; tapi bukan itu, bukan itu yang kucari. Bagaimana mungkin aku melupakan bahwa menari itu menyenangkan?
“You’re awesome. Kau luar biasa!”, Caspar menyambutku.
Aku belum bisa berkata-kata, alih-alih menjawab, aku malah menangis.
“Kamu hebat, Din. Mas belum pernah melihat tarian yang seperti itu… ”
Karena tarian itu memang ngawur, batinku. Tapi aku tidak mengatakannya. Aku jadi teringat ibu.
“Ibu… ?”
“Oh, iya. Tadi rumah sakit menelepon. Ibumu sudah sadar. Beliau cuma kurang istirahat, karena muntah-muntah jadi dehidrasi. Tekanan darahnya rendah, tapi udah baikan kok sekarang. Kalo kamu mau ke rumah sakit duluan, nanti Caspar yang antar, soalnya Mas masih sibuk.” Jawab mas Adit, bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku hanya mengangguk. Aku segera berganti pakaian dan bergegas ke rumah sakit. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu ibuku dan mengatakan kalau aku akan menari lagi. Keputusanku kali ini atas pilihanku sendiri, bukan karena ibu atau paksaan orang lain. Aku akan menari karena aku menikmatinya.
Dalam perjalanan itu, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Boudewijn Caspar pasti heran karena beberapa saat lalu aku tak bisa berhenti menangis. Masa bodoh. Aku sangat senang karena telah membuat keputusan sendiri.
Cerpen Karangan: Dianika
Facebook: Ikaya Dian

cerpen remaja 45

Hikmah Cinta

Judul Cerpen Hikmah Cinta
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Nama gue Andri, gue anak smk yang mungkin bisa dikatakan sedikit pintar, jujur gue belum pernah pacaran tapi gue suka begadang malem keluyuran gak jelas. Kisah ini adalah sebuah pengalaman dan pembelajaran gue untuk bagaimana menjalani permainan hidup.
Kisah ini berawal dari hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama liburan kenaikan kelas. Di sekolah hari-hari gue awalnya berjalan dengan meulus tanpa ada polisi tidur ataupun kerikil, tapi semuanya berubah ketika gue berpapasan dengan cewek yang cuantik abis, seksi banget, super duper, pokoknya amazing, spectacular, sensational, segala macem deh. Saat itu juga bahkan detik itu juga gue ngerasa dunia ini berhenti sejenak, yang bergerak hanyalah bidadari di depan gue itu pun slow motion dengan tatapan matanya yang memesona serta rambut panjangnya yang terurai seakan-akan mengatakan “Haii..”, dalam hati berkata “Indahnya hidup ini..”. Lagi asyik-asyiknya berdrama ria temanku Doni mengagetkanku
“Oiiii… ngapain woiii…!!” sambil mengagetkan
“Apaan sih Don! Loe ganggu orang lagi bahagia aja” dengan sedikit kesal
“Hahah… ya loe dipanggil-panggil disenggol-senggol malah diem kaya patung pancoran” sambil makan siomay
“Eh Don ngomong-ngomong loe tau cewek yang tadi gak?” dengan nada penasaran
“Ooh yang tadi? Gue denger sih katanya anak pindahan” dengan nada yang sok tau
“Oooh anak pindahan ya.. Hmm.. Oke Oke” dengan nada bersemangat
“Apanya yang Oke?” dengan nada heran
“Hehehe.. gak.. gak papa…” dengan sedikit meringis senang
Semenjak itu semangat hidup gue bertambah 90 persen dan akan menjadi 100 persen kalau saja cewek yang tadi berhasil gue pacarin Selama ini gue gak pernah sesemangat ini!!. Gue berpikir bagaimana cara pdkt dan dapetin dia.. “Hmm.. ya ya ya, yang pertama adalah information!!” Misi pertama pun gue lakukan dengan mencaritahu namanya, rumahnya semuanya deh.. pokoknya gue kepoin dia.
Singkat waktu gue berhasil menjadi temen dekatnya dan ternyata namanya Intan, pokoknya kita deket banget sampai dikira kita pacaran. Suatu waktu ketika gue mau pulang dari kebiasaan buruk gue nongkrong malem saat itu kira-kira pukul 02:45 dini hari gue putusin lewat rumah Intan dan saat gue berhenti sejenak ngeliat rumahnya, gue denger suara cewek yang sedang mengaji, suaranya yang terlalu indah membuat gue takut dan merinding sekujur tubuh yang seolah olah mengingatkan dosa-dosa gue selama ini, karena merinding gue putusin cabut. Di rumah, gue gak bisa tidur dan gue bertanya tanya suara siapakah itu? suaranya tak asing lagi di telinga.. “hmmm apakah intan? masa sih Intan..”
Esok paginya gue putuskan untuk menginterogasi tersangka Intan alias menanyainya..
“Tan, gue mau tanya sesuatu boleh?” dengan nada sedikit penasaran
“Bolehlah, emangnya tanya apaan?” dengan nada santai sedikit serius
“Jawab yang jujur Loe jangan bohong..!”
“Iyaa.. iya tanya apaan?”
“Apa Loe bisa mengaji?” dengan mengerutkan dahi
“Kenapa kok tanya gitu?” dengan gugup dan heran
“Jawab yang jujur Tan, Apa loe bisa ngaji?” dengan nada penasaran
“Gak bisa Ndri..” dengan nada rendah
“Yakin loe Tan? Yang bener..” dengan nada yang masih penasaran
“Iya bener.. kok gak percaya sih, emang kenapa tanya gitu?” dengan nada kesel
“Ya gak papa sih cuma nanya aja.”
Dari interogasi kemarin gue kurang percaya dan membuat penasaran gue menjadi jadi sampai suatu ketika diem diem gue ngelihat dengan mata kepala dan telinga gue sendiri bahwa intan bisa mengaji dengan suara yang indah. Hmm.. dan ternyata setelah gue selidiki lebih lanjut ternyata Dia juga rajin melakukan sholat malam pokoknya sholehah, dan gue sekarang tau kalau Intan itu seperti durian, karena gue pernah mendengar nasihat “di dalam kerasnya kulit durian terdapat sesuatu yang lembut dan manis untuk dimakan”, gue sekarang sedikit belajar bahwa jangan melihat segala sesuatu itu dari luarnya saja karena siapa tau di dalamnya terdapat sesuatu yang indah yang tidak kita ketahui. Tapi setelah mengetahui itu semua bukannya gue ingin lebih cepat menjadi pacarnya si Intan malah tujuan gue mendekati Intan berubah 180 derajat dan entah kenapa gue berpikir “gue gak mau pacaran sama intan, dia terlalu baik untuk dijadikan pacar.. gue tau gue belum pantas untuknya, gue pelan-pelan akan menjauhinya, gue akan pergi untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan hidup ini”. Yang jelas gue ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Pagi ini adalah hari terakhir gue di sekolah dan gue memutuskan untuk jalan dengan Intan untuk yang terakhir kalinya karena gue ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, gue tau perasaan intan dari matanya dan intan pun sepertinya tau perasaan gue tapi kita hanya mengobrol biasa layaknya teman. Sore itu di tepi pantai di atas bangku dengan ditemani sunset serta angin yang sepoi-sepoi gue dan Intan duduk berdua dibatasi oleh tas..
“Tan.. gue besok mau pergi” Dengan senyuman tipis
“Oh jadi besok ya, hmm.. hati-hati di jalan ya, semangat”. dengan senyuman disertai mata yang berkaca kaca sambil melihat sunset
“I-iya..” dengan nada sedih sambil menunduk
“Iya doank..” dengan mata yang berkaca-kaca sambil menunduk
“Intan… Te-te-Terima kasih ” dengan menunduk dan menangis
Setelah itu gue antar dia pulang dengan sepeda motor, dalam perjalan Intan tertidur.. Hati gue bicara “Intan.. jika memang dimana hari itu datang dan loe masih belum menemukan seseorang yang tepat, tolong beri gue kesempatan untuk menjadi teman hidup loe.”
Cerpen Karangan: Ali
Facebook: adr.crb
Cerita Hikmah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 44

Black Bright (Part 1)

Judul Cerpen Black Bright (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Petualangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 October 2016
Langit semakin cerah tapi, tak sesuai dengan apa yang dikatakan Deana, Seorang gadis SMA yang selalu bermain dengan kucing kesayangannya. Saat di jalan menuju pulang ia selalu berkata “Semua gelap dan tidak ada yang cerah. Semua hitam bermusuhan dengan putih. Huh aku tidak menyukai semua kecerahan, kontras, eksposur yang ada di dunia”
Sesampainya di rumah, ia membuka pintu tanpa mengucapkan salam. Karena di rumahnya sering tidak ada orang selain dirinya. Ia hanya masuk dan terus melamunkan akan keindahan dari kegelapan. Kucingnya langsung datang ke arahnya. Tapi, untuk kali ini Dea menepis pelukan Daisy, kucing kesayangannya itu. Lalu, dia duduk di sofa dan termenung dengan penampilan yang sangat acak acakkan.
“Meow.. Meow..” Suara Daisy sambil menarik narik baju Dea
“Daisy! Aku tidak suka cahaya aku benci cerah kenapa aku hanya menyukai hitam dan kegelapan?!” Guman Dea dengan raut wajah benar benar marah
Seketika, ponsel Dea berbunyi.
“Papa Called” tertera dalam layar ponselnya tersebut.
Dea hanya merenungi ponsel itu tanpa menyentuhnya. Ia menatap dengan sangat tajam. Namun, akhirnya ia tersadar dengan apa yang ia lakukan setelah beberapa detik ia langsung mengangkat ponselnya tersebut
“Halo, Papa?”
“Dea, Papa akan pergi ke luar kota sama mama untuk beberapa hari. Kamu baik baik ya disana. Ingat semua yang harus kamu lakukan dari pagi hingga malam hingga pagi lagi. Doa’kan kami semoga kami lancar di perjalanan ya Dea sayang”
“Kenapa secepat ini pa? Dea kan takut sendirian. Kenapa mama harus ikut? Kenapa pa?”
“Hanya untuk sementara nanti kami akan kembali lagi sayang”
“Baiklah pa, kalo begitu.”
“Jaga diri baik baik ya sayang kamu kan sudah besar ya daah”
Segera saja telepon itu ditutup oleh papa Dea. Dea semakin malas untuk bangkit dari Sofa, mengganti baju, dan melakukan hal lain.
Akhirnya ia merasa frustasi karena setelah dua jam ia hanya melamun. Tiba-tiba ada Ketukan pintu langsung saja ia tersadar dan membukanya. Saat membuka, ia sangat terhenyak kaget. Rasanya ingin menjerembabkan diri pada sumur setelah melihat Rei di depan pintunya.
“Eh Rei? Kenapa kesini Hehe maaf ya aku sedang capek jadi, aku belum merapikan diriku”
“Lah, kamu pikir aku peduli hal itu? Aku hanya diamanati untuk menjagamu beberapa hari. Jadi lakukan apa yang biasanya kamu lakukan ketika disini ada orangtuamu.”
“Kalau begitu sebaiknya menjauhlah! Kalau kau peduli hanya karena diamanati. Karena ini sama saja seperti seseorang yang dipekerjakan rodi. Sana!” Bentak Dea sambil menyingkirkan bahu Rei di hadapannya.
“Baiklah aku hanya akan memonitoringmu dari sini sambil menghafal jadi, kau juga jangan menggangguku!” Bentak Rei Sambil membawa semua peralatannya pada sofa.
Kemudian Daisy sepertinya ingin mencakar wajah Rei. Namun, Dea mencegahnya dan membawa Daisy ke kamarnya.
Rei adalah teman kecil Dea yang semasa kecil mereka selalu bersama. Namun, Kedua orangtua Rei Sudah tiada. Tinggalah orangtua Dea yang berbaik hati mau mengurusnya. Mereka Bersahabat sangat baik sampai suatu hari Dea pernah merasakan bahwa Rei tidak pantas untuk menjadi sahabatnya. Ia selalu mencela Rei ketika di sekolah. Namun, ketika berada di sekitar lingkungannya dia baik sekali pada Rei. Namun, Rei tidak pernah menggubris apa yang dilakukan Dea padanya ia hanya membalas dengan sikap yang sangat dingin pada Dea. Kecerdasan Emosional Rei sangat baik namun tidak pada intelektual sedangkan Kecerdasan Intelektual Dea sangat baik namun tidak pada emosionalnya. Jadi sebenarnya mereka saling membutuhkan.
Dea menjatuhkan buku diarynya secara tidak sengaja, karena buku diarynya itu tebal ketika terjatuh dari rak buku pasti suaranya sangat kencang. Rei sangat khawatir dan dia segera saja berlari ke kamar Dea. Dea yang mengetahui suara langkah Rei langsung saja berakting pingsan. Daisy hanya bersuara meow dengan volume yang kecil.
“Dea…? Tolong jawablah aku ini pasti hanya sementara kan? Kamu tidak apa apa? Haduh aku tidak ingin orangtuamu cemas. Tapi aku tidak tahu oh iya aku telepon saja rumah sakit.”
Kemudian sambil memegang kepala Dea, tangan kirinya mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Segera saja ia menulis nomor darurat itu namun ketika dia akan menekan tombol call, segera saja Dea Menjatuhkan HP Rei, Dea langsung menjauh dari Rei. Rei yang sebenarnya kesal saat menyadari HPnya jatuh dan Dea hanya berpura-pura, ia segera ke luar kamar tanpa menatap Dea lagi.
“Dia pikir dia itu putri kerajaan yang kemana mana harus dikawal lalu, ketika bersalah aku harus merubah kenyataan dia bahwa dia benar itu. Bahkan putri sekalipun ketika melakukan kesalahan harus dihukum” Pikir Rei sambil mengepal tangannya dan menatap tajam ruangan itu.
“Haduh, Apa yang aku lakukan? Aku kan tidak pintar berakting. Dan bodohnya untuk apa juga aku melakukan hal tidak berguna itu. Pasti Rei akan berpikir macam macam padaku. Dia akan menceritakan pada papa dan mama? Lalu, mereka marah dan mereka akan lebih menyayangi Rei daripada aku?” Guman Dea dengan keringat dingin dan perasaan cemas.
Rei yang sedang berada dalam ruang tamu itu mengacuhkan lagi tentang Dea. Berbeda dengan Dea yang di kamarnya sangat cemas dengan banyak pikiran negatifnya. Karena merasa lusuh Dea mengganti pakainnya dengan kaos hitam berlengan panjang dan celana denim. Kemudian, karena ia merasa terganggu dengan pikiran itu dia membawa handphone, dan alat alat seperti tali, karung, dan barang barang lain tak lupa dia membawa perlengkapan untuk daisy dan dirinya. Setelah itu, dia menyimpan tas itu di luar jendelanya. Daisy pun menurut untuk diam di luar dan menjaga tas itu.
Rei yang sedang membaca buku dan mendengarkan headphone tak tahu jika Dea ke luar melewati belakang dirinya yang dimana posisi Rei membelakangi pintu. Namun, Rei tak dapat dibodohi begitu saja di depannya terdapat lemari kaca besar tempat menyimpan pernak pernik dan kebetulan Rei melihat ke arah kaca lemari dan dia berkata “Mau kemana pembohong?” Dea yang kaget campur kesal menampar Rei dari belakang “Apa maksudmu pembohong? Aku tidak bohong aku hanya berpura pura tadi itu. Kamu mau membuatku rendah di hadapan orang orang karena hal itu? Sudahlah abaikan aku. Aku bukan anak yang paling disayangi. Jadilah anak yang baik agar disayangi kedua orangtuaku.” Dan Dea pun berlari ke luar dan segera mengambil tasnya dan berlari jauh dan daisy pun ikut berlari.
Rei yang kaget dengan apa yang dikatakan Dea, masih termenung dan memegang pipinya yang ditampar tadi. Hari itu masih normal saja cuacanya. Rei masih diam di tempat itu karena kaget entah apa yang dipikirkannya hingga hampir setengah menit dia berusaha mengejar Dea karena baru tersadar. Lupa menutup pintu ia kembali lagi menutup pintu dan berlari kembali walaupun sebenarnya dia sudah kehilangan jejak Dea. Dea terus berlari dengan Daisy. Kemudian ada sebuah Bus dia segera menaiki bus tersebut tanpa melihat jurusannya. Setelah naik, dia melihat sekitarnya awalnya ia biasa saja dengan keadaan bus yang tak terlalu bersih seperti Bus biasanya. Namun, Dea merasa lelah dan dia tertidur. Berbeda dengan Daisy yang berada dalam pangkuannya melihat keadaan sekitar. Daisy pun menarik narik rambut Dea yang sudah diikat satu itu dan terbangun kemudian arah pandangannya pun tertuju ke depan. Dan ternyata saat ia sadar ada tulisan Bandung – Sumatera. Dea pun kaget namun, tak bisa mengelak ternyata saat terbangun busnya sudah berada dalam kapal. Ia tertidur cukup lama. Dan Rei Pun ternyata sudah berhasil menaiki bus itu namun ia berada pada kursi paling depan. Saat dea tertidur Rei ternyata tak menyadari keberadaan Dea di bus itu. Saat di tengah jalan Dea hanya berharap ia bisa pulang namun sinyal HPnya pun semakin hilang begitu juga Rei. Namun, Dea merasa resah tapi terjaga.
Ia berlari menuju supir dan saat menuju supir Rei terbangun dan membuka matanya kemudian ia langsung menarik Dea. Dea yang kaget dan seisi bus itu menyangka Rei adalah copet ia langsung digebuki dan Supir yang berada di depannya pun kaget dan langsung menarik Dea. Dea tak terpikirkan kalau itu Rei jadi dia masih merasa pusing akibat kaget saat bangun tidur. Kemudian, tanpa pikir panjang lagi. Dea langsung menanyakan dimana keberadaannya dan bagaimana bisa tidak ada yang menagihnya untuk membayar bus ini.
“Eh, neng ini sudah berada di selat yang menuju Sumatera. Dan soal pembayaran biasanya kami tagih di akhir perjalanan memangnya neng mau membayarnya sekarang?” Tanya Pak Supir.
“Tapi pak, saya ini tidak ada tujuan untuk datang kesini dan tolong saya pak saya mau pulang lagi ke tempat tinggal saya”
“Aduh neng ini bagaimana bapak tidak bisa bantu soalnya ini sebentar lagi sampai”
Di sisi lain, Rei yang masih disangka Penjahat itu langsung didatangi Deana dan Deana membelanya, Mungkin Rei sedikit bahagia namun Deana sungguh sangat kesal karena Rei membuntutinya. Dengan rasa kesal pada Rei deana tetap bersikeras menjelaskan bahwa rei bukan penjahat dan akhirnya para penumpang kembali duduk dan berguman kesal pada Rei.
“Dea makasih ya” Dengan wajah tersenyum pada Dea
“Diamlah kamu tak memiliki attitude yang benar pada wanita!”
“Maksudmu apa? Aku menjagamu agar kau tak hilang begitu saja orangtuamu mengkhawatirkanmu, mungkin saja kamu tak suka jika dijaga tapi sekarang itu adalah tanggung jawabku”
“Hentikan! Sekarang aku ingin pulang Cepatlah jika kau memiliki tanggung jawab menjagaku sekarang, Aku ingin pulang dan jaga aku!” Jawab Dea dengan nada penuh kesal
Rei kemudian menarik Dea dan duduk di sebelahnya. Dea menatap Rei namun, Daisy segera mencairkan suasana tiba tiba dia bersuara “Meong.. Meong..” sambil meraih bahu Dea.
“Tunggulah koneksi disini buruk jadi aku butuh tempat yang menjangkau jaringan lebih baik tak apalah uangku kuhabiskan untuk membawamu pulang. Tapi ini semua juga terjadi karena kamu!”
“Oh”
Setelah sampai di terminal Rei kemudian membayar ongkosnya itu dan segera menemui Dea yang langsung duduk di warung nasi dekat terminal. Kemudian Dea menatap Rei tajam dan telunjuknya mengarahkan pada makanan.
“Tak perlu memberi peringatan aneh aku juga lapar, kau punya uang tidak?”
Dea membuka tasnya dan mengambil dompetnya kemudian dia menunjukkan ATM pada Rei. Rei pun paham maksud dari Deana dan segera mengantarnya ke ATM terdekat karena dari kejauhan ATM tersebut sudah terpampang jelas kemudian mereka berlari ke arah sana. Namun Tiba tiba Daisy…
Bersambung…
Cerpen Karangan: Fitri Nurul Falah
Facebook: facebook.com/profile.php?id=100008233307491
Hai Semuanya perkenalkan mana saya Fitri Nurul Falah, Kelahiran 15 Desember 2000 dan saya sekarang masih bersekolah di SMK yang berada di Bandung. Terimakasih untuk membaca cerpen dari saya semoga kalian semua menyukainya. Untuk kontak lebih lanjut silahkan add fb saya dan mari kita berbicara.Terimakasih sekali lagi dan selamat membaca :)

cerpen remaja 43

Gila (Part 1)

Judul Cerpen Gila (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Ray menatap sendu ke suatu arah. Melihat sesuatu yang sulit diterima oleh matanya. Dimana keberadaannya itu ada seorang gadis dan pria sedang bersendau gurau. Gadis itu sesekali mengangguk-nganggukan kepala saat si pria berbicara padanya. Dan sesaat gadis itu tertawa lepas. Ray menggeram. Kedua tangannya mengepal sangat kuat, sampai terlihat memutih.
BRAKKK
Ray menggebrak meja. Menghentikan sekejap aktivitas di kantin. Mengundang banyak mata untuk melihatnya. Meskipun itu membuat jantung orang berolahraga, tak ada satu orang pun yang berani membentaknya. Malah banyak murid cewek memuji ketampanannya saat Ray berubah menjadi seorang pria brutal sekalipun.
“Duh, ni bocah makin hari makin cakep. Dikasih makan apa sih sama mamanya?”
“Aww, rambutnya itu loh. Kece badai.”
“Fix. Gue nggak akan bisa move on dari pria sadar pesona ini.”
“Uluu uluuuu, gemesin bet.”
Itulah salah empat dari mereka yang berhasil ditangkap oleh telinga Ray. Dan apa balasannya? Dia hanya melirik sekilas ke arah siswi yang mulai bergerombol di sebelah kirinya. Walaupun itu hanya lirikan mata, namun berhasil membuat siswi berlonjak-lonjak ria di tempat.
Tiba-tiba datang tiga cowok berpenampilan luar biasa berandal berjalan dengan gaya artis menuju bangku yang diduduki Ray. Ya, mereka adalah komplotan si Ray. Geng empat serangkai yang dibangun sejak Ray mulai belajar di sekolah ini. Tidak disangka banyak murid lain yang takut dengan Ray, karena posisinya masih duduk di kelas 10 sedangkan tiga cowok tadi sebagai kakak kelas, 12. Bisa dibayangkan kan bila ada salah satu murid yang berani mengusik kehidupan Ray? Apalagi mereka pandai bergulat. Kelar hidupnya.
“Wuihh. Jangan gebrak-gebrak meja. Kasihan. Untung nggak patah. Hmm…” Kata Efendi menggakntung, “Kaya hati lo. ya.. ”
Terdengar kekehan menyambut ejekkan Efendi.
Ray menggeram, “Bisa diem nggak lo.”
“Eits.. Baper.” Usil Rian.
Saat Ray hampir menonjok muka Rian, Dion menahan tangannya, “Udahlah, Ray. nggak usah terlalu dipikirin. Cewek banyak. Bukan dia doang. Move on, bro.” Ucapnya menenangkan Ray.
“Ayo c’mon mari c’mon buat apa kita ngedown… Move on. Move on. Move on. Yeah..”
Suara menggelegar acak-acakkan tidak sesuai intonasi itu, berhasil membuat telinga siswi yang berdiri di samping bangku Ray sakit. Alhasil, mereka bubar satu per satu menuju tempat duduk masing-masing seperti semula. Sambil bergumam tak jelas. Ya, suara toa itu berasal dari mulut Efendi dan Rian.
“Lo pikir move on gampang apa. Gini-gini gue tipikal cowok setia.” Ucap Ray memuji dirinya sendiri.
“Setia tapi makan hati ya percuma.” Skak Efendi.
Rian terkekeh pelan seraya menoel hidung super mancungnya dengan ibu jari, “Kayak gue dong. Putus 1, dateng 1000.”
“Seumur-umur gue belum pernah ngerasain gimana rasanya sakit hati.” Ucap Efendi jujur.
“Ya iyalah. Pacaran aja belum pernah.” Sahut Rian.
Mereka tertawa keras begitupun Dion, kecuali Ray. Rasa sakit yang d alaminya begitu dalam, sampai-sampai lawakan sahabatnya tak mampu menghiburnya. Melihat Ray dengan wajah murung, Dion mendekati lalu duduk di sampingnya.
“nggak usah masang muka bete” Dion menyidir, “Kesannya terlalu alay bagi seorang cowok patah hati.”
“Kayak kita dong. Always happy.” Ucap Rian dan Efendi sambil melakukan khas ala CherryBelle.
Dion bergidik ngeri, “Jangan sok manis lo-lo pada. Jijik!”
“Elah, kita kan pingin menghibur Ray.”
“Ray, nggak usah sok dramatis deh. Lupain aja.” kata Efendi yang tidak suka melihat Ray dengan wajah kehilangan senyum.
“Kalian nggak ngerti apa yang gue rasain.” Jawab Ray dengan sedikit meninggikan suara.
Murid-murid yang berlalu lalang di kantin sontak melihat di sumber suara keras tersebut.
“Gue sayang sama dia. Gue cinta sama dia. Apapun udah gue lakuin supaya dia bahagia. Tapi apa balasannya? Dia pergi ninggalin gitu aja, tanpa mikir perasaan gue.” Lanjutnya.
Ray menundukkan kepala. Empat jarinya menyusup di sela rambut. Nafasnya masih terengah-engah. Dion, Rian dan Efendi terkejut melihat kelakuan Ray. Sejak berteman dengan Ray, mereka tidak pernah menemukan Ray dengan keadaan seperti ini. Akhirnya Rian dan Efendi mendekatinya dengan posisi duduk di meja. Tipikal anak yang suka melanggar peraturan.
“Ray, kita hidup di dunia ini seperti robot yang sedang dikendalikan. Allah sutradanya, kita pemerannya. Lo pacaran sama Maya pasti ada alurnya, kan? Itu Allah yang ngatur. Dari pertama ketemu, mulai ada rasa, PDKT, gombal-gombalan, akhirnya nemplok jadi pacar. Pas lagi sayang-sayangnya, tiba-tiba muncul sebuah konflik. Alhasil, membuat hubungan kalian merenggang. Merasa tidak kuat menghadapi, akhirnya memilih untuk memutuskan hubungan.” Jelas Dion seraya menggerak-gerakan tangan mengikuti alur pembicaraannya.
“Ray, Tuhan sengaja membiarkan dia pergi karena dia bukan yang terbaik.” Rian menghela nafas, “Demi menyelamatkan dari orang yang salah, Tuhan matahin hati lo.”
“Dari yang nggak kenal menjadi sayang. Dari yang sayang menjadi cinta. Dari yang cinta menjadi benci. Dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Kita berani mengenal cinta, berani patah hati juga.” Sahut Efendi.
Rian melirik Efendi, “Gara-gara itu lo nggak mau pacaran. Takut patah hati?” Sindirnya.
Efendi mengangguk mantap, lalu nyengir tidak jelas.
Seluruh murid yang berada di kantin menyaksikan bijaknnya tiga cowok tersebut, bertepuk tangan meriah. Layaknya sedang diundang di acara Show Mario Teguh. Dan seperti biasa tidak mempunyai rasa malu, Rian dan Efendi berdiri di atas meja membungkukkan badannya lalu mengucapkan terima kasih. Sambil melambai-lambaikan tangannya. Merasa puas dengan aksi konyolnya, mereka duduk kembali di atas meja.
Ray menggelengkan kepala pelan, “Lo bertiga abis makan apa tadi? Bijak banget. Ngalah-ngalahin Pak. Ambar kalo lagi pidato.”
Rian menepuk kedua tangan sekali, lalu mengangkat jari telunjuk kearah Ray, “Yahh… udah ngelawak dia.”
“Nah, senyum dong Ray. Kan gue tambah cinta.” Ucap Efendi seraya mengedipkan matanya.
“Apa lo bilang lo cinta sama gue?!” Ray mendelik, “Okay, kita pacaran.”
“Amit-amit jabang bayi! Ogah” Efendi mengusap-usap perutnya dengan tangan kananya. Sontak membuat tawa mereka pecah seketika.
“Enak ya ngomong sama lo. Nurut.” Kata Dion saat tawa mulai mereda.
“Emang gue orangnya penurut.” Jawab Ray.
Dion, Efendi dan Rian mengerutkan kening bersama, dengan tatapan tidak percaya terhadap perkataan Ray.
“Hai kak Ray,” Sapa salah satu seorang siswi yang sama sekali tidak dikenali Ray.
Ray dengan baik hati menjawab sapaan tersebut dengan sebuah senyuman. Alangkah anehnya cewek tersebut malah lari terbirit-birit dengan sengaja atau tidak, dia terpeleset lalu jatuh pingsan. Ray dan ketiga teman yang melihatnya sekedar mengangkat bahu.
“Haii..” Sontak empat cowok tersebut melirik ke arah sumber suara.
Terdapat seorang gadis cantik dengan body aduhai sedang menatap Ray.
“Hai juga sayang,” Sapa Rian tanpa meminta ijin.
“Ih!” Ucap gadis tersebut lalu melangkah pergi.
Efendi menonyor lengan Rian, “Sadar, Yan. Lo masih punya Nita.”
Rian terkekeh, “Santai. Gue yang jadi pacarnya aja selow, kenapa kalian yang faster.”
“Bukannya gi…tu, Mampus!”
Cerpen Karangan: Assifa Rohmalya
Blog: https://selow-aja-guys.blogspot.com
Mampir di blog aku yak
https://selow-aja-guys.blogspot.com

cerpen remaja 42

Gila (Part 2)

Judul Cerpen Gila (Part 2)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Rian yang bingung akan tingkah Dion akhirnya bertanya, “Kenapa sih? Lo lupa ngerjain PR? Semalem lo nggak belajar karena hari ini ada ulangan? Atau.. kaki lo gue injek? Tapi mana mungkin, gue duduk di meja sementara lo duduk di kursi.”
Ray dan Efendi yang mengetahui kenapa Dion menjadi salah tingkah, membulatkan mata. Sampai mata mereka hampir copot dari tempatnya. Begitupula dengan murid yang ada di kantin.
“Anu, itu… ishh apaan sih itu lohh…” Ucap Dion latah yang masih berusaha menutupi wajah dengan telapak tangannya.
Rian mengaduh, “Anu itu apa? ngomong yang jelas. Jangan bisu mendadak.” Rian mengedarkan mata ke penjuru kantin, “Kalian juga kenapa diem? Dihipnotis, ya?”
Suasana hening, mencekam. Keadaan horror menyelimuti keadaan kantin pagi ini. Ray dan Efendi hanya bisa menundukkan kepala dan diam.
“Ini juga berdua. Ngapain ngelihatin bawah sih. Emang ada apaan di bawah? Semut ngangkat strawberry? Aneh deh kalian.” Ucap Dion dengan sorot mata pada Ray dan Efendi. Percuma, mereka tidak angkat suara sedikitpun. Berdehem pun tidak.
“Itu lo, Yan.” Ucap Dion berusaha, sambil mengangkat dagu menunjuk ke belakang Rian, “Ada semangka besar. Aduhh…”
Semangka besar?
“Ada durian runtuh. Lahhh…”
Durian runtuh?
“Ngomong yang bener!” Tegas Rian pada Dion.
“Dasar nggak peka!” batin Dion.
“Akan terjadi gempa bumi.”
Nah, gempa bumi?
“Maksudnya?” Tanya Rian kebingungan.
“Akan ada gempa bumi. Karena di belakang lo ada Nita.” Utas Ray. Akhirnya.
Mendengar kata Nita, Rian menegang. Alhasil, sekujur tubuhnya gemetaran. Sebutir air menetes di ujung pelipisnya. Keringat menggodanya. Mau tak mau, Rian memutar tubuhnya ke belakang. Tampaklah Nita dengan wajah penuh amarah. Dengan nyali Rian menyapanya.
“Eh, sayang. Ngapain? Mau pesen Bakso, yak? Sini biar aku yang pesenin.” Tawar Rian. Alih-alih dia bisa kabur.
“Ya! Sama bininya baru kicep.” Ucap salah satu murid yang berada di kantin.
Rian menoleh dan mencari asal muasal sumber suara. Itu dia. Cowok tulen dengan rambut acak-acakkan. Randy. Musuh bebuyutan Rian. Rian menatap tajam mata Randy. Seakan mata itu bicara ‘Awas aja lo. Gue pites!’
“Kita putus!” Ucap Nita.
Rian kembali menoleh pada Nita.
“Loh, Nit. Aku nggak mau kita putus. Kita kan belum punya momongan. Masak kamu tega ninggalin ak-”
Nita pergi sebelum Rian mengakhiri ucapannya. “Nita. Nit! Dengerin aku dulu. Nit.. Woyy..”
Hasilnya? Percuma. Mau manggil sampai kapanpun nggak akan peduli. Karena hatinya terlanjur sakit.
“Aarrgghhh…” Geram Rian, “Kalian juga ngapain nggak bilang kalo ada Nita disini?” Tanyanya pada ketiga temannya.
“Gue udah berusaha. Lo aja yang nggak peka.” jawab Dion.
Efendi menyahut, “Sabar, Yan.”
“Bukan itu masalahnya. Susah nyari cewek kayak Nita, yang semlohai kayak gitu.” Kesal Rian seraya mengusap wajah dengan kasar.
Perkataan Rian mengundang gelak tawa dari murid-murid yang menyaksikan adegan dramatis tadi. Begitu pula dengan ketiga temannya. Mendengar tawa semakin pecah, Rian menggeram. Emosinya berkumpul menjadi satu di ujung kepala. Terlihat dua ujung tanduk yang keluar dari kepalanya. Semacam badak bercula yang siap menerkam mangsanya.
“Bisa diem nggak kalian?! Mau gue putus tuh kepala? Ha?!” Bentak Rian.
Bukannya diem, para penjajah makanan pada lari limbung-limbung ke luar kantin. Kecuali kaum Adam. Alhasil, keadaan kantin kacau. Banyak piring dan gelas jatuh dari meja. Kursi yang berserakkan. Seperti habis tergucang gempa bumi. Walaupun dilanda kegaduhan, kaum Adam tadi dengan tenang duduk sambil menyantap makanan yang dipesannya.
Merasa dirinya ada yang mengintai, Rian membolak-balikan badannya dari tempat duduk. Dan berhasil menemukan. Seorang cowok berdiri menatap tajam Rian sambil menggigit kuku ibu jarinya. Segera Rian menghampirinya. Belum sampai berdiri dari tempat duduknya, cowok itu lari terbirit-birit.
“Cyinnnn, tungguin gue doongggsss. Atuuttt!” Jerit cowok tadi.
“Lah, Banci?” Batin Rian.
Rian menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, “Disuruh diem ngapain lari.” Rian mengedarkan pandangan matanya ke penjuru kantin. “Memang bener ya cowok mikir pake logika, kalo pake otak lama nyantol.”
Ray, Dion dan Efendi hanya bisa memandang Rian dengan gerak-gerik bola matanya. Bisa gila lama-lama berteman dengan Rian.
“Parah! Otak lo kayaknya gesrek habis diputusin Nita tadi.” Ucap Ray memecahkan keheningan. “Pake segala ngancem mutusin kepala. Lihat noh, kantin malah jadi tempat pengungsian. Berantakan!”
“Eh, Ibu kantin melototin kita! Ganti pelototin yuk?” Belum sempat Efendi melototin ibu kantin, Dion menonyor lengannya dengan keras. “Apaan si pegang-pegang?”
Ray menghela napas kasar, “Pokoknya kalo kuping Bu Mega denger berita ini, gue nggak ikut-ikut. Bosen dihukum.”
Pasti tahu kan Bu Mega itu siapa sebenernya? Yang suka ngasih hukuman kalo ada siswa melanggar aturan? Yang nulis nama kita di buku pelanggaran plus point? Tahu, kan?
“Gue juga.” Sahut Dion dan Efendi bebarengan.
“Lo harus tanggung jawab atas kerusuhan meja dan kursi yang jatuh tak berdaya itu. Beresin!” Lanjut Ray.
“Ray, Dion, Efendi, Rian!! Apa yang sudah kalian lakukan?!!” Bentak seseorang yang berdiri di ambang pintu kantin.
Mendengar namanya berada di sebuah kalimat, mereka menoleh ke sumber suara. Seketika tubuh mereka menegang. Dengan cepat mereka mengalihkan pandangan dan segera berkumpul menjadi satu. Ray, Dion, Efendi dan Rian melihat mata satu sama lain secara bergantian.
“BU MEGA!!!” Ucap empat serangkai tersebut.
Ya, Bu Mega. Nama yang misterius. Nama yang tersimpan rapi di dalam folder otak mereka. Nama yang selalu memanggil mereka jika melanggar sebuah aturan.
“Mampus! Sumpah gue risih dengan hukumannya.”
“Berabe! Point gue udah banyak, masak masih mau ditambah lagi.”
“Diem, kalo mau lari dari hukumannya kita kabur aja. Daripada kicep disini, kayak orang bego.” Ray mulai menimang-nimang katanya, “Rencana A, Okay?”
Dion, Rian dan Efendi menganggukkan kepala tanda mengerti.
Akhirnya, Ray lepas dari gerombolan dan melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit menuju Bu Mega. “Kok Bu Mega hafal sih nama kita? Saking terkenalnya kita mungkin.”
Dion, Efendi dan Rian menyengir tidak jelas melihat Ray dengan aktingnya yang mulai mengelabuhi Bu Mega.
“Terkenal gimana? Kalau saking nakalnya sih iya. Udah kamu nggak usah basa-basi.” Bu Mega menengok kearah belakang Ray, “Kalian, ikut saya ke ruang BK. Sekarang! tidak ada penolakkan!” Tegas Bu Mega.
Tak lama Ray bersuara, “Delapan-Enam!!!” Jeritnya.
Mereka berlari sekencang-kencangnya menuju pagar belakang sekolah. Sekalian colut. Supaya tidak terkena hukuman. Karena mereka terlalu lelah menghadapi segala hukuman, walaupun itu akibat ulah mereka sendiri. Suara melengking milik Bu Mega lolos terabaikan oleh mereka. Sekali bandel, tetap bandel.
“Yuuhhuuu, Berhasil. Berhasil. Berhasil. Horee!!!”
Cerpen Karangan: Assifa Rohmalya
Blog: https://selow-aja-guys.blogspot.com
I LOVE YOU, GUYS!!!
Cerita Gila (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

cerpen remaja 41

Cinta The Geniuses

Judul Cerpen Cinta The Geniuses
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 October 2016
Masa-masa Smp adalah awal mula aku berkembang menjadi dewasa. Di smp banyak hal yang kudapatkan. Salah satunya adalah “Cinta”. Jujur aku tidak tahu apa itu cinta? dan kapan cinta itu hadir? tapi yang aku tahu cinta tidak bisa dirasakan oleh indra peraba, tetapi hanya bisa dirasakan oleh hati. Sungguh indahnya hidup ini karena pernah merasakan cinta.
Perkenalkan namaku Marwan Santosa pernah bersekolah di smpn 1 karanganyar. Di smp aku murid yang disukai banyak siswa, karena aku pintar, baik dan multitalenta. Ketika suatu hari aku berniat untuk beristirahat, ada seorang cewek yang melewatiku. Dia cantik, baik dan terlebih dia pintar kata temen-temenku. Aku duduk dan membeli bakso seperti biasa di langgananku, dan cewek yang lewat tadi ternyata ada di sampingaku. Akhirnya aku berkenalan dengannya.
“Hai” kataku
“Juga” dia menjawab
“Boleh kenalan?”
“Kenapa gak?”
“Nama kamu siapa?”
“Nama aku Endang Ayu Sulistiawati” tuturnya
“Namaku Marwan Santosa”
“Iyah tau!”
“Kamu kelas mana endang?”
“Kelas 7d”
“Oh 7d”
“Iyah”
“Ya udah duluan ya dang!”
“Iya, marwan”
Bel berbunyi tanda jam istirahat telah selesai, aku segera masuk kelas. Kring kring kring bel kembali berbunyi tanda semua pelajaran telah selesai. Aku langsung beranjak dari kursiku dan pergi meninggalkan kelas. Perlahan ku berjalan meninggalkan sekolah, saat di jalan ku melihatnya kembali, dia langsung mengajakku ngobrol.
“Hai, marwan” sapa endang
“Hai endang, apa kabar?”
“Baik, baru pulang?” Tanya endang
“Iya endang.”
“Oh..”
“Ya udah dang aku duluan ya.. ada angakot udah nungguin gak enak.”
“Iya, see you Marwan”
“See you Endang”
Keesokan harinya aku kembali datang ke sekolah, kali ini aku datang lumayan pagi karena piket. Aku menyapu lantai dan membersihan kaca. Ketika ku membersihkan kaca, ku melihat kembali endang ayu sulistiawati yang sedang duduk di depan kelasku. Aku menghampirinya
“Hai, lagi ngapain?” Tanyaku
“Lagi duduk duduk aja”
“Oh. ”
“Kok kamu datangnya pagi banget?” dia bertanya
“Ini lagi piket”
“Hmmm”
“Ya udah aku piket dulu ya!”
“Ya udah sana!”
Aku pun ke kelas dan belajar bersama guru dan teman teman. Seru sekali pelajaran kali ini, apalagi pelajaranya adalah pelajaran yang ku sukai yaitu pelajaran “IPA”. Suasana hikuk pikuk pun terjadi, karena yang mengajar adalah guru yang lucu dan menghibur. Dua jam kemudian pelajaran selesai, aku bersama teman-teman langsung pergi ke kantin untuk beristirahat. Di perjalanan menuju kantin, aku kembali bertemu dengan endang. Aku mengajaknya ke kantin bersama-sama.
“Hmm ketemu lagi” kataku
“Iya” saut endang
“Gimana tadi di kelas” tanyaku
“Ya.. gitu deh”
“Oh.. mau makan apa?”
“Gak ah lagi males makan!”
“Terus mau apa dong?” Tanyaku
“Gorengan aja”.
“Ok”
Tidak lama kemudian bel berbunyi, aku mengajaknya masuk ke kelas.
“Ke kelas yu!” Ajakku
“Yuk”
Kami pun ke kelas bersama-sama, lama kelamaan aku bersama endang mulai akrab. Kami sering bercanda dan bersenda gurau.
“Kok masih di luar? Belum masuk kelas mar?”
“Belum..”
“Kenapa?”
“Masih ingin sama kamu endang”
“Hmmm, jadi baper”
“I am just kidding”
“Ya udah aku masuk kelas dulu ya mar!”
“Ok”
Isak tawa mewarnai kehidupanku bersamanya. Hampir setiap saat aku bertemu dengannya, sepertinya aku menyimpan rasa kepadanya dan dia juga menyimpan rasa kepadaku. Aku berniat untuk menembaknya, tetapi aku tidak pernah lakukan itu. Karena sahabatku bernama “Aceng” juga menyukainya. Dia selalu bilang kalau dia suka sama endang, dia juga berniat sebentar lagi dia akan menembak endang.
“Mar..”
“Iya ceng, kenapa?”
“Menurut kamu aku pantes gak sama si endang” tanya aceng
“Pantes kok”
“Bagaimana kalo besok aku nembak si endang gimana mar?” Dia bertanya
“Ya udah tembak aja.”
“Ok”
Bel sekolah berbunyi, istirahat telah selesai, aku dan sahabatku aceng ke kelas dan belajar. Kemudian bel kembali berbunyi pelajaran telah diakhiri, di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ucapan aceng. Dari belakang ada orang yang menutup mataku
“Siapa sih ini?” Tanyaku
“Siapa ya…”
“Ih perih tau..” Kataku
“Iya maaf-maaf” ternyata endang
“Iya gak papa.”
“Kenapa sih kamu jalanya kayak gitu? lagi mikirin apa? Mikirin aku ya…?” Tanya endang
“Hmmmm. endang kalo ada yang suka sama kamu bagaimana?” Tanyaku
“Ya, gak gimana-gimana. kenapa sih kamu tanya gitu?” Dia kembali bertanya
“Sebenarnya si aceng suka sama kamu dan dia mau nembak kamu besok.” Ucapku
“Ah masa? jangan bercanda ah!”
“Iya, endang aku serius.”
“Gimana dong?” Tanya endang
“Ya udah kamu jalani aja. aku gak papa kok, lagian dia sahabat aku.”
“Gimana ya.. segimana nanti ajalah.” Tutur endang.
“Ya udah aku duluan ya dang.”
“Iya marwan, see you”
“See you endang”
Keesokan harinya aku diajak si aceng ke sebuah tempat
“Mar antar aku yuk!” Ajaknya
“Mau kemana?” Tanyaku
“Ke belakang kelas.”
“Ih mau ngapain coba?” Aku bertanya lagi
“Aku mau nembak si endang, kamu tunggu di sini ok mar.”
“Ok deh”
Si aceng mencari dan mencari endang, akhirnya ketemu juga. Aceng langsung membawa endang ke belakang kelas.
“Endang.” Kata aceng
“Iya ceng!”
“Aku suka sama kamu”
Endang terdiam dan bingung
“Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya aceng.
“Endang menganggukan kepala”
“yes..” Tangan aceng mengepal dan mengayunkan ke atas “Makasih dang”
“iya” jawab endang
Aceng langsung pergi meninggalkan endang dan menemuiku.
“Asik, aku udah jadian sama si endang” kata aceng
“Bagus dong” kataku meski hati sakit melihat aceng pacaran dengan endang, orang yang aku suka
“Kamu mau apa mar?” Tanya aceng
“Apa ya? gak taulah!”
“Udah mau apa aja tar aku beliin, anggap aka PJ (pajak jadian)”
“Ya udah makan bakso aja deh.” Kataku
“Ok”
Di sekolah aceng ditakuti oleh semua orang, orang-orang takut sama si aceng karena dia jago beladiri. Dan tidak ada seorang pun yang berani mendekati si endang kecuali temannya itu pun perempuan, jika laki laki aceng langsung mendatanginya. Suatu ketika ada seorang cowok yang mendekati si endang, dia bernama Rufai. Rufai bermaksud untuk meminjamkan pulpennya ke si endang dan mereka berdua bercanda. Aceng langsung menghampiri si Rufai dan menonjoknya.
“Maksud kamu apaan deketin si endang?” aceng marah
“Aku cuma minjemin si endang pulpen itu doang, aku gak bermaksud apa-apa.” Jelas Rufai
“Iya ceng si Fai cuma meminjamkan aku pulpen.” Kata endang
“Awas kamu fai kalo macem-macem sama pacar aku.” Geram aceng
“gak tenang aja.” Fai menjawab dengan gugup.
Tak terasa, sudah setahun berlalu mereka berpacaran, Endang mulai gak nyaman lagi sama si aceng. Dia selalu curhat kepadaku
“Marwan”
“Kenapa dang?”
“Aku udah gak nyaman lagi sama si aceng.”
“Gak nyaman kenapa?”
“Aku gak nyaman karena sikap dia yang cemburuan.”
“Bukanya itu bagus ya dang? itu berarti si aceng sayang banget sama kamu dang.”
“Iya aku tau, tapi dia keterlaluan mar.”
“Terus”
“Aku mau putus aja sama dia”
“Ya terserah kamu”
Akhirnya endang dan aceng putus, endang kembali deket sama aku, kita masih bercanda dari dulu sampai saat ini. Tiga minggu lagi smp ulangan, aku harus serius belajar dan tidak ada waktu untuk berleha-leha. Aku jarang ketemu sama endang semenjak mau ulangan, karena aku harus fokus belajar demi meraih cita-citaku. Sekian lama, ulangan pun selesai dan rapor kami dibagikan. aku bertemu lagi sama endang di jalan.
“Marwan”
“Iya Endang?”
“Apa kabar?”
“Baik, kamu gimana dang?”
“Baik juga, gimana dengan rapot kamu? masih dapat ranking mar?”
“Ya alhamdulillah aku masih Ranking pertama.”
“Wiiih.. ranking pertama mulu dari dulu.”
“Yaa.. gitu deh, kebetulan aja kali. gimana dengan rapot kamu?”
“Alhamdulillah aku juga masih ranking pertama.”
“Wish… keren kamu dang!”
“Kamu juga marwan.”
“By the way kamu udah punya pacar belum?” Tanyaku
“Belum.”
“Kenapa belum?”
“Lagi nyari orang yang pas sama aku”. Matanya meliriku
“Oh…”
“Kamu udah punya pacar belum mar?”
“Belum”
“Kok belum?” Tanya endang
“Males pacaran. “Kataku padahal aku berharap sama kamu
“Yaudahlah aku pulang dulu dang sampai ketemu lagi.”
Libur panjang telah tiba, aku bersama keluargaku rekreasi ke taman mini indonesia indah. Kujelajahi setiap tempat yang ada, ada rumah-rumah adat, ada benda-benda peninggalan jaman dulu, sampai kutemukan kereta gantung disana. Karena capek aku berhenti di sebuah trotoar dan duduk beristirahat. Disela istirahatku, entah mengapa terlintas di pikiranku endang ayu sulistiawati. Kunjungan demi kunjungan telah kulakukan, aku bersama keluarga berniat untuk pulang beristirahat dan mempersiapkan keperluan-keperluan sekolah yang beberapa hari lagi.
Masa liburan telah berakhir, Aku berangkat pagi-pagi agar aku mendapat kursi paling depan. Aku duduk dengan “Arif” siswa yang super bandel di kelas. Dia suka jailin temen-temenya, berantem sama temennya, sampe dia berani jailin guru-guru. Tapi dia berjanji jika dia duduk bersamaku, dia akan berubah.
“Arif”. Kataku
“Apa?” Kata arif
“Kamu harus janji kalo duduk sama aku kami harus baik, jangan nakal, awas kalo buat masalah.”
“Iya mar, tenang aja aku janji”
“Ok, aku pegang janjimu”.
“Ok ok”
Setelah ngobrol-ngobrol dengan Arif aku ke luar kelas, pas ku buka pintu di depan ada endang.
“Eh Marwan”
“Iya endang. apa kabar kamu?”
“Baik”.
“Endang kamu liburan kemana?”
“Di rumah aja mar. kamu kemana?”
“Ke taman mini indonesia indah.”
“Wiih, iya sih.”
“Oh iya dang, pas aku liburan gak tau kenapa aku inget kamu lho.”
“Ah masa sih?”
“Iya”
“Zzz”
Kami terus berduaan sampai kelas tiga, tapi aku gak pernah ngungakapin perasaanku kepadanya, aku takut persahabatan kami jadi hancur.
Hari demi hari berlalu, aku terus bersama endang, hingga pada akhirnya ulangan tiba, ulanganku kali ini begitu terasa indah karena di setiap saatku, selalu ditemani endang ayu sulistiawati. Senang sekali rasanya bisa terus bersamanya, semoga aku bisa terus bersamanya selamanya. Setelah ulangan selesai, smp kami biasanya mengadakan “class meeting”.
Biasanya di class meeting ini banyak perlombaan-perlomban di adakan, jadi jam KBM di bebaskan. Di class meeting ini aku tidak mengikuti perlombaan apapun, karena aku malas untuk mengikutinya. Setiap hari aku terus bersama endang, pagi bersamanyanya istirahat juga bersamanya sampai pulang aku terus bersamanya. Dia sering bilang kepada teman-temanya kalo dia suka sama aku. Aku juga sebenarnya suka banget sama dia tapi aku masih belum berani untuk menyampaikan perasaanku kepadanya. Untuk ke sekian kalinya aku terus menerus bersamanya, hingga akhirnya ujian nasional tiba. Ini saatnya aku untuk serius belajar dan mendapat nilai terbaik. Aku belajar setiap malam sendiri di kamarku.
Hari pertama ulangan, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku langsung mandi, membereskan tempat tidurku, sarapan dan berangakat. Aku tiba di sekolah pukul 06.45, aku melihat endang sedang duduk sendiri di pinggir lapangan. Perlahan aku mendekatinya.
“Hmmm” kataku
Endang nengok ke arahku
“Lagi ngapain dang?”
“Lagi duduk-duduk aja.”
“Oh. oh iya dang aku boleh nanya gak?” Tanyaku
“Mau nanya apa?”
“Yang ini gimana sih caranya?”
“Oh itu gampang, sini aku ajarin”. kata endang
“Ini dang.” Seruku
Beberapa menit kemudian selesai
“Udah ni. ”
“Oh ya makasih dang. ”
“Iya sama-sama. ”
“Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum sih?” aku kembali bertanya
“Belum” kata endang
“Asiik…”
“Kok asik?” Tanya endang
“Ya gapapa.”
“Endang kamu cantik banget sih!”
“Yang bener?”
“Iya dang, apalagi kalo kamu bantuin aku ngerjain tugas-tugas dari bu sri!” Seruku
“Ah emang dasar kamu mar.” Tangan endang menggelitiku
“Ampun-ampun cuma bercanda kali.”
“Ya udah untuk kali ini aku ampuni.”
“Makasih.” Aku tersenyum
“Kenapa senyam-senyum?” tanya endang.
“Gak papa”
Aku menggelitiki endang dan tak sengaja aku memeluknya.
“Maaf dang aku gak sengaja.”
“Iya” endang tersenyum
Di belakang teman-teman berteriak “ehmm”. tapi aku cuekin saja. sampai teman-teman melempari aku sama endang pakai batu. Meski begitu aku tetap fokus sama endang. lama-kelamaan aku juga merasa malu karena diliatin seluruh kelas 9, aku pun pergi.
“Ya udah dang aku duluan ke kelas ya..!”
“Iya marwan”.
Aku langsung lari menemui teman-temanku, sekalian ngobrol bersama mereka.
“Udah mar tembak nunggu apalagi?” Kata Aan temen sekelasku juga tetangga endang
“Jangan ngarang deh.” Kataku
“Ngarang gimana mar. jelas-jelas dia suka sama kamu.”
“Udah-udah, aku ke kelas dulu.” Aku pergi meninggalkan teman-temanku
Jam pertama selesai waktunya istirahat, secepatnya aku meninggalkan kelas. lagi-lagi aku kembali bertemu endang. Istirahat selesai aku kembali ke kelas mengikuti mata pelajaran yang kedua. net… net.. net bel berbunyi waktunya untukku pulang, aku pulang bersama endang seperti biasa. nyaman banget rasanya bisa bersamanya. Sayangnya sebentar lagi kenaikan kelas, sampai sekarang aku belum bisa nembak dia, Sebentar lagi ujian nasional berakhir, untuk terakhir kalinya aku bersama endang ikut perlombaan. Waktu itu kami ikut lomba “HARDIKNAS” hari pendidikan nasional. Rencananya aku akan nembak dia setelah kami mengikuti lomba tersebut. Lagi-lagi aku tidak jadi menembaknya karena banyak orang dan aku merasa malu. setahun berlalu, akhirnya kami perpisahan.
“Tak terasa kita perpisahan lagi aja.” Kata endang
“Iya endang.”
“Oh iya dang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Mau ngomong apa?” Tanya endang
“Sekian lama kita jalani kehidupan bersama, aku bahagia bisa bersamamu dang. kamuuu.. mau…. gak… hmm…” Di belakang temanku langsung menepuk pundaku
“Mar apa kabar kamu?” Tanya wawan teman sd sekaligus teman se-smpku.
“Alhamdulillah baik wan.”
Akhirnya aku bersama wawan ngobrol-ngobrol dan endang pergi
“Aku ke kelas duluan ya mar!”
“Aku berpikir sejenak ya udah dang.”
Hingga pada akhirnya kami berdua berpisah dan memilih sekolah kita masing-masing, aku masuk smkn 1 rangakasbitung sedangakan endang masuk sman 3 rangakasbitung. Sekian lama kami berpisah, kami bertemu kembali setelah rapor di sekolah kami dibagikan. Aku sengaja menghubunginya dan mengajaknya bertemu.
“Hai endang”
“Juga”
“Besok kita bisa bertemu?” Tanyaku
“Kenapa tidak?” Kata endang
“Besok kita ketemu di smp ya!”
“Jam berapa mar?” Tanya endang
“kira-kira jam 2an.”
“Ya udah.”
“Jangan lupa datang ya dang!.” Seruku
“Insya ALLAH”
Keesokan harinya aku bertemu dengannya, tetapi dia lagi asik bermain voli bersama teman-temanya di smp. Aku mengajaknya ke sebuah tempat
“Endang”
“Iya”
“Ikut yuk!”
“Mau kemana sih?” Tanya endang
“Ikut aja ya!”
“Gak mau ah males, kamu gak liat aku lagi seru sama teman-teman.”
“Ya udah.”
Aku pergi meninggalkanya, aku duduk di trotoar depan kelas 9B. Aku menulis sebuah surat untuknya, yang isinya:
“Endang sebenarnya aku suka sama kamu, aku sayang sama, aku cinta sama. Aku tidak berani nembak kamu karena aku takut persahabatan kita hancur, aku takut kehilangan kamu endang, aku sayang banget sama kamu. Ini untuk terakhir kalinya, semoga kita bertemu lagi dimasa depan. I LOVE YOU ENDANG AYU SULISTIAWATi”
Setelah kutulis surat itu, aku tak lagi bertemu dengannya sampai saat ini.
Cerpen Karangan: Marwan Santosa
Facebook: Marwan Santosa
Nama: Marwan Santosa
Siswa: SMKN 1 Rangkasbitung
Kelas: X Akuntansi 1
Alamat: Kp Pariuk Btn Jugul, Banten
E- Mail: Marwansantosa24[-at-]yahoo.com
No Hp: 089643744486
Fb: Marwan Santosa
Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman

Popular Posts